Jual Beli Sistem Kredit Namun Barang Yang Dibeli Kemudian Dijadikan Sebagai Jaminan bimbingan islam
Jual Beli Sistem Kredit Namun Barang Yang Dibeli Kemudian Dijadikan Sebagai Jaminan bimbingan islam

Jual Beli Sistem Kredit Namun Barang Yang Dibeli Kemudian Dijadikan Sebagai Jaminan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang jual beli dengan sistem kredit, namun barang yang dibeli kemudian dijadikan sebagai jaminan.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Bolehkah menjadikan barang yang ditransaksikan dalam sistim jual beli kredit sebagai barang gadai (jaminan) yang masih dipegang oleh si penjual, dan baru akan diserahkan ketika pembeli sudah melunasi semua cicilan harga?

Misalnya: seorang membeli motor kepada penjual, namun si penjual memberikan syarat agar motor itu tetap di tangannya sampai cicilan motor tersebut lunas, hal itu dilakukan oleh penjual untuk melindungi dirinya, karena mungkin maraknya orang yang membeli secara kredit namun di tengah jalan tidak melunasi cicilan yang sudah disepakati.

(Disampaikan oleh penanya)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Telah lalu dibahas pada artikel:

Kenapa Bunga Pinjaman Haram, Sedang Jual Beli Kredit Boleh?

Bahwa Penjual kredit boleh memberikan persyaratan pada pembeli beberapa syarat berikut, untuk melindungi dirinya dari kemungkinan dirugikan, diantaranya :

1. Memberikan syarat pada pembeli untuk menyertakan penjamin (guarantor) yang bersedia membayar angsuran jika yang dijamin tak mampu untuk membayar.

2. Memberikan persyaratan agar pembeli menyertakan barang agunan dan memberikan kuasa kepada penjual untuk menjualnya dan melunasi kewajibannya. Andai pembeli terlambat melunasi angsuran pada penjual, penjual berhak menjualnya serta menutupi angsuran dari hasil penjualan agunan dan sisanya dikembalikan pada pihak pembeli, jika ada sisa dari hasil penjualan barang agunan tersebut.

3. Memberikan persyaratan : andai pembeli mengulur pelunasan angsuran, maka angsuran selanjutnya menjadi tunai.

Adapun kasus yang disampaikan oleh penanya, sejatinya hampir sama dengan point nomor 2, bedanya adalah dalam kasus yang disampaikan oleh penanya, barang jaminan/agunannya adalah objek jual itu sendiri dan bukan berasal dari objek barang yang lain, lantas apakah yang demikian ini boleh?

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, perbedaaan mereka muncul dari masalah memahami apakah boleh adanya syarat dari penjual yang menjadikan barang sebagai objek jual menjadi sesuatu yang dijadikan sebagai agunan ataukah tidak, apakah hal ini bertentangan dengan konsekuensi akad jual beli ataukah tidak, sebagian beranggapan bahwa syarat tersebut bertentangan dengan konsekuensi akad, sehingga syarat yang demikian tidak berlaku, dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa syarat tersebut tidak bertentangan dengan konsekuensi akad.

Mari kita lihat pendapat masing-masing dari para ulama tersebut:

1.Pertama: syarat yang disebutkan oleh penjual tidaklah berlaku dan terlarang, tidak boleh objek jual dijadikan sebagai agunan karena bertentangan dengan konsekuensi akad, karena tidak terjadi perpindahan kepemilikan barang secara sempurna, penjual masih memegang dan menahan barang tersebut, sedangkan konsekuensi akad itu harusnya ketika akad telah sah maka kepemilikan barang berpindah secara total dari penjual kepada pembeli, sehingga pembeli mempunyai hak penuh untuk memanfaatkannya, adapun gambaran dalam kasus yang disampaikan jelas bertentangan.

Pendapat ini salah satunya diutarakan oleh Ibnu Hajar al-Haitamy al-Syafii rohimahullah:

العلامة ابن حجر الهيتمي رحمه الله بقوله: لا يصح البيع بشرط رهن المبيع، سواء أشرط أن يرهنه إياه قبل قبضه، أم بعده ” انتهى. “الفتاوى الفقهية الكبرى

“Tidak sah transaksi jual beli dengan menjadikan objek jual sebagai agunan, sama saja apakah dipersyaratkan agar dijadikan sebagai agunan/jaminan oleh penjual sebelum barang tersebut diterima pembeli ataukah setelahnya”
(al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro 2/287)

2.Kedua: dibolehkan menjadikan barang objek akad sebagai agunan/jaminan yang ditahan oleh penjual.
Ini merupakan pendapat yang menjadi sandaran dalam madzhab Hanbali, sebagaimana disampaikan oleh Imal al-Bahuty al-Hanbali rohimahullah:

فيقول البهوتي الحنبلي رحمه الله: يصح اشتراط رهن المبيع على ثمنه، فلو قال: بعتك هذا على أن ترهننيه على ثمنه, فقال: اشتريت، ورهنتك، صح الشراء والرهن” انتهى. كشاف القناع

“Boleh mempersyaratkan objek jual dijadikan sebagai jaminan/agunan atas pelunasan harga barang tersebut, misal penjual berkata: saya jual ke anda sebuah barang dengan syarat anda jadikan barang ini bersama saya sebagai jaminan sampai pelunasan, kemudian pembeli mengatakan: ya, saya beli dari anda dan saya gadaikan barang ini untuk anda, maka sahlah akad jual belinya dan gadainya”.
(Kasyyafu al-Qina’ 3/189)

Pendapat yang kedua ini yang menjadi pendapat yang dipilih oleh Majma’ al-Fiqh al-Islami OKI dalam keputusannya nomor 53/2/6 yang berbunyi:

“لا يحق للبائع الاحتفاظ بملكية المبيع بعد البيع، ولكن يجوز للبائع أن يشترط على المشتري رهن البيع عنده لضمان حقه في استيفاء الأقساط المؤجلة” انتهى

“Tidak ada hak bagi penjual untuk menahan barang setelah barang dibeli, namun diperkenankan bagi penjual untuk mempersyaratkan kepada pembeli agar barang tersebut dijadikan sebagai jaminan yang masih tetap di tangannya (penjual) untuk menjaga hak penjual sampai semua angsuran kredit dilunasi oleh pembeli”.

Mungkin pendapat yang kedua ini yang kami pribadi condong kepadanya, dalam rangka untuk menjaga hak-hak penjual, agar supaya tidak terjadi macet cicilan yang dilakukan oleh pihak pembeli, yang terkadang kemacetan cicilan tersebut tidak dibarengi dengan alasan yang logis dan syari.

Wallahu a’lam

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini