Jual Beli Pre Order (PO) Dalam Islam bimbingan islam
Jual Beli Pre Order (PO) Dalam Islam bimbingan islam

Jual Beli Pre Order (PO) Dalam Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang jual beli pre order (PO) dalam islam.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan tim Bimbingan Islam beserta keluarga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Izin, saya mau bertanya soal jual beli pre order (PO). Saya sedang bisnis online tas kanvas lukis yang saya lukis sendiri. Namun karena itu kustom dan permintaan dari pembeli akhirnya saya buka pre order setiap bulannya sesuai warna tas yang dipesan dan gambar lukisan yang dipesan semampu saya mengerjakan tas lukis, apakah itu pre order yg dibolehkan ustadz?
Jazakallahu khairan ustadz.

(Disampaikan Fulanah di media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Akad Salam

Di antara muamalah yang diperbolehkan dalam Islam adalah akad salam yang sangat mirip dengan pre order, dimana pengertian salam adalah jual beli barang dengan penundaan barangnya  namun ditentukan sifatnya dengan bayaran yang disegerakan. Nama lain salam adalah salaf, dimana salam adalah bahasa penduduk Hijaz, sedangkan salaf adalah bahasa penduduk Irak.

Kebolehan salam ditunjukkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah.

Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”
(Qs. Al Baqarah: 282)

Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan akad salam.

Dalam As Sunnah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ، فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ، وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ»

“Barang siapa yang melakukan salam terhadap sesuatu, maka hendaknya dalam takaran yang jelas dan timbangan yang jelas sampai waktu yang ditentukan.”
(Hr. Bukhari dan Muslim)

Dalam Ijma, Ibnul Mundzir berkata, “Telah sepakat semua orang yang kami hafal termasuk Ahli Ilmu bahwa salam hukumnya boleh.”

Syarat Akad Salam

Namun untuk sahnya salam disyaratkan beberapa syarat berikut:

  1. Barang yang akan diserahkan bisa ditentukan sifatnya, baik dengan ditakar, ditimbang, atau diukur agar tidak timbul pertengkaran.
  2. Diketahui ukuran barang tersebut dengan ukuran syar’i, sehingga tidak sah untuk barang yang ditakar dengan ditimbang dan yang ditimbang namun malah ditakar.
  3. Disebutkan jenis barangnya dan macamnya dengan sifat yang membedaan dengan yang lain.
  4. Sifatnya utang dalam tanggungan (pihak yang diminta).
  5. Barangnya ditunda.
  6. Waktu penyerahan diketahui dan ditentukan kedua belah pihak.
  7. Pembayarannya telah diterima secara penuh dan diketahui di majlis akad sebelum berpisah.
  8. Keadaan barang biasanya ada ketika jatuh tempo agar dapat diserahkan pada waktunya.

Jika pemesan datang dan barangnya sesuai pemesanan, maka ia harus mengambilnya. Atau jika barangnya disiapkan dengan keadaan yang lebih baik, maka ia harus mengambilnya, karena si produsen membawakan barang yang dicakup oleh akad serta memberikan tambahan, namun jika barangnya tidak sesuai sifat yang diminta atau jenis yang diinginkan, maka ia berhak mengambilnya namun tidak harus. Tetapi jika membawakan dengan jenis lain, maka tidak boleh diterima.

Yang sama hukumnya dengan salam juga adalah ishthina’ (memesan untuk dibuatkan), dimana menurut jumhur juga boleh dan syarat padanya sama seperti syarat pada salam, dimana di antara syarat yang pentingnya adalah diserahkan bayaran secara penuh di majlis akad (Al Asybah wan Nazha’ir hal. 89 dan Dhawabith Al Aqd fil Fiqhil Islami hal, 356).

Kesimpulan Hukum Jual Beli Pre Order

Dengan demikian, pre order hukumnya boleh, tentunya setelah terpenuhi syarat seperti yang telah disebutkan.

Namun ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu apabila permintaannya berupa lukisan makhluk bernyawa, maka jangan dipenuhi permintaannya agar tidak jatuh dalam ta’awun alal itsmi wal udwan (bantu-membantu atas dasar dosa dan pelanggaran) karena melukis makhluk bernyawa hukumnya haram.

Wa billahit taufiq wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Marwan Hadidi, M.Pd.I حفظه الله
Rabu, 02 Dzulhijjah 1441 H/ 23 Juli 2020 M



Ustadz Marwan Hadidi, M.Pd.I حفظه الله
Beliau adalah Alumni STAI Siliwangi Bandung & Pascasarjana di Universitas Islam Jakarta jurusan PAI.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mardan Hadidi, M.PD.I حفظه الله  
klik disini