Muamalah

Jual Beli Emas Secara Kredit, Online, dan DP Dahulu

Jual Beli Emas Secara Kredit, Online, dan DP Dahulu

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Jual Beli Emas Secara Kredit, Online, dan DP Dahulu, Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah memberkahi ustadz, izin bertanya.

Apa hukum menjual perhiasan berbahan baku emas dengan sistem cicilan maupun sistem utang, sementara barangnya langsung dibawa pembeli?

Bagaimana jika sistemnya beli online di mana pembeli bayar full, kemudian perhiasan emas baru sampai kepada pembeli setelah beberapa hari?

Kemudian bagaimana jika sistemnya pesan barang, kemudian pembeli DP dahulu menunggu perhiasan emas tersebut selesai dibuat oleh penjual?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Bismillah, aamiin, semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalan yang diridhoi dan dipenuhi dengan kebahagiaan.

Larangan Jual Beli Emas Tanpa Kontan dan di Tempat yang Berbeda

Dengan apa yang kami pahami dari soal di atas, bahwa transaksi antara emas dan uang dilakukan tanpa kontan dan di tempat yang berbeda, maka transaksi tersebut tidak diperkenankan karena beberapa sebab:

a. Bahwa emas dan uang portal/digital dikategorikan komoditi yang sejenis, sehingga transaksi dan efek hukum diberlakukan sama, baik terkait dengan hukum riba, dll.

Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Majma` Fiqih Alislami,”

بخصوص أحكام العملات الورقية : أنها نقود اعتبارية ، فيها صفة الثمنية كاملة ، ولها الأحكام الشرعية المقررة للذهب والفضة، من حيث أحكام الربا والزكاة والسلم وسائر أحكامهما

“khusus terkait hukum mata uang kertas ia dianggap sebagai uang transaksi, yang mempunyai sifat “sebagai barang berharga” secara keseluruhan, ia mempunyai hukum syar`i sebagaimana hukum emas dan perak,baik terkait hukum riba, zakat, salam bahkan untuk seluruh hukumnya (dari majalah mujamma` edisi 3 jilid 3 hal 1650, dan edisi 5 hal 1609)

b. Tidak adanya taqobudh (akad dan serah terima dalam satu majlis) di dalam transaksi tersebut. Padahal uang dan emas dianggap dalam kategori yang sama yang mengharuskan adanya saling bertemu dan saling memberikan.

Sebagaimana hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الذَّهبُ بالذَّهبِ . والفضَّةُ بالفِضَّةِ . والبُرُّ بالبُرِّ . والشعِيرُ بالشعِيرِ . والتمْرُ بالتمْرِ . والمِلحُ بالمِلحِ . مِثْلًا بِمِثْلٍ . سوَاءً بِسَواءٍ . يدًا بِيَدٍ . فإذَا اخْتَلَفَت هذهِ الأصْنَافُ ، فبيعوا كيفَ شئْتُمْ ، إذَا كانَ يدًا بِيَدٍ

emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr, sya’ir dengan sya’ir, tamr dengan tamr, garam dengan garam, kadarnya harus semisal dan sama, harus dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian, selama dilakukan dari tangan ke tangan (kontan)(HR. Al Bukhari, Muslim no. 1587, dan ini adalah lafadz Muslim).

Sebagaimana yang disebutkan dalam fatwa Lajnah Daimah, dikatakan di dalamnya:“

لا يجوز بيع الذهب بالذهب ، ولا الفضة بالفضة إلا مِثلاً بمثل ، يداً بيد ….وإذا كان أحد العوضين ذهباً مصوغاً، أو نقداً، وكان الآخر فضة مصوغة، أو نقداً ، أو من العملات الأخرى :جاز التفاوت بينهما في القدْر، لكن مع التقابض قبل التفرق من مجلس العقد .وما خالف ذلك في هذه المسألة : فهو ربا ، يدخل فاعله في عموم قوله تعالى : (الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ) الآية

الشيخ عبد العزيز بن باز ، الشيخ عبد الرزاق عفيفي ، الشيخ عبد الله بن غديان ، الشيخ عبد الله بن قعودانتهى منفتاوى اللجنة الدائمة

“Tidak dibolehkan menjual emas untuk emas, atau perak untuk perak, kecuali dengan sejenisnya dan secara langsung ….Dan jika salah satu dari dua item itu berupa emas dan uang tunai, atau perak dan uang tunai, atau mata uang yang lainnya maka diperbolehkan adanya perbedaan jumlah di antara keduanya, namun harus dilakukan secara langsung di tempat transaksi, sebelum keduanya berpisah.

Selain ketentuan di atas maka ia adalah riba, dan pelakunya diancam masuk dari apa yang diancamkan dari makna umum dari firman Allah ta`ala, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Fatawa lajnah Daimah : 13/483 – 485).

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta juga pernah ditanya dengan kasus senada, “Kadang-kadang, pemilik toko membeli emas dalam jumlah besar melalui telepon dari Mekkah atau dari luar Saudi. Padahal ia berada di Riyadh. Dengan catatan, penjual emas sudah ma’ruf bagi si pembeli, dan barangnya pun sudah ma’ruf baginya, sehingga kecil kemungkinan adanya kecurangan atau lainnya. Mereka juga sudah saling sepakat soal harga dan pembayaran dilakukan melalui transfer bank. Apakah ini diperbolehkan, atau bagaimana yang semestinya?”

Mereka menjawab:

هذا العقد لا يجوز أيضا؛ لتأخر قبض العوضين عنه، الثمن والمثمن، وهما معا من الذهب أو أحدهما من الذهب والآخر من الفضة، أو ما يقوم مقامهما من الورق النقدي، وذلك يسمى بربا النسأ، وهو محرم، وإنما يستأنف البيع عند حضور الثمن بما يتفقان عليه من الثمن وقت العقد يدا بيد‏.‏

“Akad yang seperti ini tidak diperbolehkan juga. Karena adanya penundaan qabdh (serah-terima), antara dua barang yang ditukarkan, antara tsaman dengan tsaman. Sedangkan barang yang dipertukarkan adalah sama-sama emas atau salah satunya emas dan yang lainnya perak, atau juga barang-barang yang menempati posisi keduanya seperti uang kertas dan logam. Ini dinamakan riba nasiah, dan ini haram hukumnya. Yang seharusnya, akad jual-beli diulang kembali ketika menyerahkan pembayaran nominal harga yang telah disepakati dan diserah-terimakan secara langsung di majelis akad ketika itu” Fatawa Al Lajnah Ad Daimah (13/475)

Dari fatwa di atas, bila ingin dijalankan transaksi tersebut maka dengan cara memperbarui kembali akad tersebut, dengan menganggap kesepakatan sebelumnya sekadar pengikat untuk mengamankan harga atau pembeli. Ketika barang telah siap pada h+1 keduanya bertemu atau dengan mengirimkan wakilnya atau dengan mendatangi agen/kantornya. Dengan keduanya bertemu untuk akad dan saling menyerahkan bukti transfer dan barang maka syarat akad di tempat dan dilakukan secara langsung telah dijalankan.

Larangan Jual Beli Emas secara Kredit

Begitu pula tidak diperbolehkannya pembeliannya dengan cara dicicil karena ini termasuk akad dengan menggunakan transaksi hutang, padahal syarat yang ditetapkan harus adanya sifat kontan dan diberikan secara langsung.

Boleh DP jika Fungsinya Hanya Untuk Mengikat

Terkait dengan DP yang dimaksudkan di dalam soal, bila sifatnya uang tersebut sebagai ikatan awal dan belum masuk dalam akad transaksi jual beli, maka diperbolehkan, selama nantinya akan dilaksanakan akad jual beli kembali setelah barang pesanan jadi dan diberikan pembayarannya dalam satu majlis/yadan biyadin secara kontan bukan dengan dihutangkan.

Semoga Allah menyelematkan kita semua dari perkara perkara yang melanggar syariat dan membahagiakan kita dengan segala ketaatan. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 16 Rabiul Akhir 1443 H/ 22  November 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Hukum Bekerja di Produsen Makanan Haram

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button