Jodoh Bagi Akhwat, Lebih Baik Menunggu Atau Maju Menawarkan Diri bimbingan islam
Jodoh Bagi Akhwat, Lebih Baik Menunggu Atau Maju Menawarkan Diri bimbingan islam

Jodoh Bagi Akhwat, Lebih Baik Menunggu Atau Maju Menawarkan Diri?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang jodoh bagi akhwat, lebih baik menunggu atau maju menawarkan diri?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ahsanallah ilaikum ustadz. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Ustadz bagaimana cara ikhtiar saya mendapatkan jodoh, karena saya bekerja dan tinggal di klinik dan jarang keluar kecuali ada keperluan atau pas kajian saja. Bukankah seorang perempuan itu sebaiknya menunggu ketimbang maju duluan?

Mohon nasehatnya ustadz. Jazaakallah khaira.

(Disampaikan oleh Fulanah, anggota grup BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.
Ikhwatal Iman Ahabbakumulloh, saudara saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla..

Secara umum proses menemukan jodoh bagi akhwat bisa dilakukan dengan 2 tahapan ikhtiar; Ikhtiar pemantasan diri dan Ikhtiar menjemput pasangan.

Ikhtiar pemantasan diri ini cenderung lebih pasif karena mengedepankan perbaikan diri dan penjagaan diri dari segala bentuk kemaksiatan, sembari menunggu datangnya jodoh yang diiringi keyakinan kuat bahwa orang baik akan mendapatkan jodoh orang baik pula.

Sementara Ikhtiar menjemput pasangan jelas cenderung lebih aktif karena dilakukan dengan 2 cara; menawarkan diri secara langsung kepada yang baik agamanya, atau menawarkan diri melalui perantara yang amanah.

Menurut hemat kami 2 tahapan ikhtiar ini hendaklah dijalani tanpa penolakan, jangan hanya berhenti di tahapan pertama saja seperti kebanyakan orang. Karena memang tahapan kedua dengan dua cara yang ada itu bukanlah hal yang tabu secara syari’at, bukan pula aib dimata syariat.
Diceritakan oleh Imam Bukhori dalam Shohihnya, ketika Ada seorang wanita menghadap Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dan menghibahkan dirinya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لأَهَبَ لَكَ نَفْسِى

“Ya Rosululloh, saya datang untuk menawarkan diri saya agar anda nikahi”

Apakah Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam merendahkannya? Melarang tindakannya? Tidak!

فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ فَلَمَّا رَأَتْ الْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ

“Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam pun memandangi wanita dari atas hingga ke bawah lalu beliau menunduk. Dan ketika wanita itu melihat, bahwa beliau belum memberikan keputusan akan dirinya, ia pun duduk”
[HR Bukhori 4642]

Beliau hanya melihat sang wanita lalu diam, dan itu sama sekali bukan sikap yang dicela oleh syariat karena diamnya Beliau hanya menunjukkan kalau Beliau tidak memiliki keinginan terhadap sang wanita, bukan menunjukkan bahwa hal tersebut terlarang.

Dalam hadits yang lain, ketika ada seorang wanita yang juga menawarkan dirinya kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam lalu dikomentari oleh putri Anas bin Malik bahwa hal tersebut memalukan, apa kata Anas bin Malik?
Anas bin Malik justru membela sang wanita tersebut

هِىَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا

“Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, dan menawarkan dirinya untuk Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam”
[HR Bukhori 4726]

Artinya menawarkan langsung kepada lelaki sholih itu sesuatu yang baik, karena berarti selektif dalam memilih Imam, bukan asal-asalan.

Kalaupun malu untuk menawarkan dirinya secara langsung bisa lewat perantara orang yang Amanah seperti Ayah, Kakak, atau Ustadz. Seperti yang dilakukan Umar bin Khotthob yang menawarkan putrinya Hafshoh kepada ‘Utsman dan Abu Bakr rodhiallohu ‘anhum, Ia mengatakan

إِنْ شِئْتَ زَوَّجْتُكَ حَفْصَةَ بِنْتَ عُمَرَ

“Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu….”
[HR Bukhori 4728]

Karenanya saudara saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh.. Sebagaimana harta atau bekal dunia yang kita cari, seorang suami sholihah itu jugg rizki dan anugrah yang besar bagi wanita, bekal dunia dan akhirat, perlu diikhtiarkan dengan sungguh-sungguh. Maka jika anda telah sampai pada hukum wajib untuk menikah, jangan ragu untuk menjalankan 2 tahapan yang kita sampaikan diatas. Jangan hanya pasif, sebagaimana anda juga tidak pasif dalam mencari bekal dunia.

Terus iringi doa di setiap waktu-waktu mustajab, semoga Alloh mudahkan urusan anti dan kita semua.

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Rabu, 03 Dzulqa’dah 1441 H/ 24 Juni 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini