ArtikelKonsultasiNikah

Jika Dirimu Terjatuh ke Dalam Dosa Zina

Jika Dirimu Terjatuh ke Dalam Dosa Zina


Hukum zina dalam islam

Zina merupakan perbuatan yang sangat keji dan terlaknat, yaitu ketika seseorang laki-laki melakukan hubungan jima’ dengan seorang wanita tanpa melewati jalur yang dihalalkan oleh Allah ﷻ, seperti pernikahan. Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang sangat buruk.”
(QS. Al – isra’ : 32).

Bahkan zina merupakan perbuatan yang bisa mendatangkan adzab Allah ﷻ pada suatu negeri. Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا ظَهَرَ الزِّنا والرِّبا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أحَلُّوا بِأنْفُسِهِمْ عَذابَ اللَّهِ

“Apabila bertebaran zina dan riba pada suatu daerah, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka untuk menerima adzab Allah ﷻ”
(HR. Hakim no. 2261).

Kaum muslimin sepakat akan keharaman zina dan fitrah manusia yang selamat pun menganggap perbuatan tersebut adalah perbuatan yang menjijikan. Para ulama mengatakan bahwa haramnya zina merupakan permasalahan yang pasti diketahui oleh setiap muslim (lihat albadru lami’ syarh jam’il jawami’ : 2/238), siapapun yang menghalalkan zina maka dia telah kafir dan keluar dari agama islam.

Jangankan manusia bahkan kera pun tahu betapa bejatnya perbuatan zina, seorang sahabat ‘Amr bin Maimun pernah berkata:

رَأيْتُ فِي الجاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْها قِرَدَةٌ، قَدْ زَنَتْ، فَرَجَمُوها، فَرَجَمْتُها مَعَهُمْ

“Aku melihat di masa jahiliyyah seekor monyet yang telah berzina, lalu monyet tadi dikelilingi oleh monyet-monyet lainnya, mereka pun merajamnya (melemparinya dengan batu), dan akupun ikut merajamnya.”
(HR. Bukhari : 3849).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ويكفي في قبح الزنى أن الله سبحانه وتعالى مع كمال رحمته شرع فيه أفحش القتلات وأصعبها وأفضحها وأمر أن يشهد عباده المؤمنون تعذيب فاعله

“Cukuplah menjadi tanda buruknya perbuatan zina, tatkala Allah dengan kesempurnaan kasih sayangNya mensyariatkan seburuk-buruk hukuman mati dan memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman untuk menyaksikan hukuman tersebut”
(Raudhatul muhibbin : 1/359).

Hukuman bagi pelaku zina

Saking besarnya dosa zina, Allah ﷻ menyediakan hukuman dunia (had) untuk pelakunya, Allah ﷻ berfirman:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”
(QS. An –nur : 2).

Ayat diatas menjelaskan hukuman zina untuk orang yang belum menikah, sedangkan untuk orang yang telah menikah maka hukumannya lebih berat lagi yaitu rajam sampai mati, Umar bin Khattab berkata:

إن الله تعالى ‏بعث محمدًا صلى الله عليه وسلم ‏بالحق، وأنزل عليه الكتاب، فكان ‏فيما أنزل عليه آية الرجم فقرأتها، ‏وعقلتها، ووعيتها، ورجم رسول الله ‏صلى الله عليه وسلم، ورجمنا بعده، ‏فأخشى إن طال بالناس زمان أن ‏يقول قائل: ما نجد الرجم في كتاب ‏الله، فيضلوا بترك فريضة أنزلها الله ‏تعالى، فالرجم حق على من زنى إذا ‏أحصن من الرجال، والنساء إذا ‏قامت البينة، أو كان الحبل، أو ‏الاعتراف

“Sesungguhnya Allah ﷻ mengutus nabi Muhammad ﷺ dengan kebenaran, dan menurunkan kepada beliau al-aquran, dan termasuk yang diturunkan didalamnya adalah ayat rajam, aku telah membaca ayat tersebut, memahami dan menghafalnya. Rasulullah ﷺ pernah menjatuhkan hukum rajam, setelah beliaupun kami juga demikian. Tapi aku takut jika telah berlalu waktu yang lama, akan ada yang mengatakan : kami tidak menemukan ayat rajam di alquran, sehingga mereka pun sesat karena telah meninggalkan hukum yang diwajibkan Allah.
Rajam itu hukuman yang haq bagi orang yang berzina apabila laki-laki dan wanita tersebut telah menikah jika buktinya kuat, atau terjadi kehamilan, atau ada pengakuan darinya. Aku telah membaca ayat tersebut:

الشيخ ‏والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة، ‏نكالاً من الله، والله عزيز حكيم

“laki-laki dan wanita yang telah menikah jika mereka berzina, maka rajamlah mereka berdua sampai meninggal sebagai siksaan dari Allah, dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.”
(HR. Bukhari : 6830).

Cara membersihkan diri dari hukum zina

Walaupun zina adalah seburuk-buruk dosa, namun pintu taubat tidak pernah tertutup kecuali kematian telah datang. Sebanyak apapun dosa seorang hamba, ketahuilah ampunan Allah jauh lebih luas. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az – Zumar : 53).

Bahkan dosa sekelas syirik sekalipun yang merupakan dosa terbesar, jika pelakunya bertaubat, maka Allah ﷻ akan ampuni, tidakkah kita melihat kepada para sahabat yang dahulunya kafir? Namun setelah mereka mengenal islam dan kembali kepada jalan Allah ﷻ mereka menjadi manusia terbaik umat ini.

Apalagi yang menyenangkan hati kita daripada firman Allah ﷻ:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang – orang yang bertaubat”
(QS. Al-baqarah : 222).

Betapa banyak dosa yang kita lakukan, betapa sering kita membuat Allah murka, namun Allah tetap mengatakan kecintaanNya kepada hambaNya yang berdosa ketika memohon ampunan.

Namun, taubat memiliki syarat-syarat yang harus terpenuhi, yaitu : berlepas diri dari dosa, menyesali perbuatan tersebut, kemudian bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut. Inilah taubat nasuha yang diperintahkan Allah ﷻ dalam firmanNya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama beliau….”
(QS. At – Tahrim : 8).

Dan tidak ada kewajiban bagi pelaku zina untuk melaporkan perbuatannya kepada pihak berwenang untuk ditegakkan hukum had atas perbuatan zina (jika di negara tersebut menegakkan hukum islam), cukup baginya untuk bertaubat serta menutupi aibnya tersebut, rasulullah ﷺ bersabda:

أيُّها النّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَن أصابَ مِن هَذِهِ القاذُوراتِ شَيْئًا. فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ. فَإنَّهُ مَن يُبْدِي لَنا صَفْحَتَهُ، نُقِمْ عَلَيْهِ كِتابَ اللَّهِ

“Wahai manusia sekalian, telah datang waktunya untuk berhenti pada batasan Allah, siapa yang terjatuh dalam kotoran (dosa) tersebut, maka hendaklah ia tutupi dirinya dengan penutup Allah, karena sesungguhnya siapa yang menunjukkan kepada kami kesalahannya, kami akan tegakkan kepada nya hukum Allah”
(HR. Malik : 12)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Senin, 01 Rabiul Akhir 1442 H / 16 November 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga :  Hukum Taruhan Bola - di Lapangan atau Online

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button