Jangan Biarkan Ibumu Sendiri

Jangan Biarkan Ibumu Sendiri

Jangan Biarkan Ibumu Sendiri

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz afwan,
jika ada seorang ibu sudah sendri, dan ingin masuk ke panti jompo karena ingin ibadahnya lebih khusyu, apakah boleh ?

Selama ini ikut anak dan momong cucu-cucunya, sehingga selain lelah, juga terganggu dengan keberisikan cucu-cucunya.

Mohon pencerahannya ustadz.

Jazaakumullah khayr

(Yanti, SAHABAT BiAS T06 G-21)

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Kami melihat jika memang itu keinginan orang tua, maka tidak mengapa dengan syarat kita tetap harus sesering mungkin mengunjungi beliau, menyayangi beliau, membawakan hadiah yang beliau sukai dan mendoakan kebaikan bagi beliau mencintai beliau lahir maupun batin. Jangan sampai perasaan hati beliau tersakiti. Meskipun sebenarnya ini sangat tidak layak kita lakukan terhadap seorang wanita sepuh paling berjasa dalam hidup kita, mengingat begitu besarnya jasa beliau terhadap kita.

Kita yakin setiap kita dan setiap orang tua yang jujur akan menyatakan tidak suka di masa tuanya ia diasingkan jauh dari anak-anak dan cucu-cucunya. Kecuali pada keadaan beliau menemui perlakuan tidak nyaman ketika hidup bersama anak dan cucunya.

Maka yang lebih penting dari itu semua adalah hendaknya kita sadar ketika orang tua tidak betah ada di rumah kita itu menunjukkan ada hal-hal yang tidak berkenan di hati beliau. Ini yang harus kita cari untuk diperbaiki. Agar orang tua kita ridha terhadap kita lahir dan batin.

Jika memang beliau letih momong cucu, jangan kita biarkan beliau momong, jika memang beliau terganggu dengan suara anak-anak maka jangan kita biarkan itu terjadi.

Kita bisa membangun rumah di samping rumah kita khusus untuk beliau sehingga kita tetap bisa berbakti mengurus kebutuhan beliau setiap harinya.

Mendampinginya, memijit kakinya, mengantarnya pergi kemana beliau ingin dan seterusnya – dan seterusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ ، أَنَّ جَاهِمَةَ رضي الله عنه جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ . فَقَالَ : هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ ؟ قَالَ نَعَمْ . قَالَ: ( فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا )

Muawiyah bin Jahimah As-Sulami bahwa Jahimah radhiyallahu anhu datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata : Wahai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam aku ingin berjihad dan aku datang untuk meminta pendapatmu.

Beliau bertanya : Apaka engkau memiliki ibu ?

Ia menjawab ; Iya

Nabi mengatakan : Setialah pada kaki ibumu di sana ada syurga.”

(HR Nasa’i 3104 dihasankan oleh Imam Al-Albani).

Dan jangan pernah merasa rugi dengan setiap keping uang yang kita belanjakan untuk berbakti dan membahagiakan orang tua kita. Ia tidak akan hilang, tidak sia-sia, tidak berkurang bahkan akan semakin bertambah dan berkembang dan kelak kita dimasukkan Allah ke dalam syurga inilah kemenangan yang hakiki. Disebutkan dalam sebuah riwayat :

وعن محمد بن سيرين قال: بلغت النخلة على عهد عثمان بن عفان رضي الله عنه ألف درهم (أي ارتفع سعرها حتى ساوت ألفا درهم) قال: فعمد أسامة بن زيد رضي الله تعالى عنهما إلى نخلة فنقرها وأخرج جُمّارها فأطعمها أمه. فقالوا له: ما يحملك على هذا وأنت ترى النخلة قد بلغت ألفا درهم ؟؟؟ قال: إن أمي سألتنه ولا تسألني شيئاً أقدرُ عليه إلا أعطيتها.

“Dari Muhammad bin Sirin ia berkata ; Harga kurma mencapai seribu dirham di masa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Usamah bin Zaid radhiyallahu anhuma lantas menuju ke sebuah pohon kurma melubanginya dan mengambil jantungnya dan memberikannya kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya :

“Apa yang membuat engkau melakukan hal ini, padahal engkau tahu harga kurma mencapai seribu dirham ?”

Usamah bin Zaid menjawab : “Karena ibuku menginginkannya, tidaklah ibu menginginkan sesuatu dan aku mampu memberikannya pasti akan aku berikan.”
(HR Al-Hakim dalam Mustadrak : 6531).

Jika kita tak tega membiarkan anak kita sendirian, maka selayaknya kita juga tidak membiarkan orang tua kita hidup sendirian. Ingatlah sikap anak kita terhadap kita kelak ketika kita telah tua renta sangat berbanding lurus dengan sikap kita terhadap orang tua kita saat ini. Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al bayati حفظه الله

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06
Jum’at, 30 Muharrom 1439 H /20 Oktober 2017M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS