I’tikaf Rasulullah Dibulan Ramadhan

I’tikaf Rasulullah Dibulan Ramadhan

I’tikaf Adalah Kegiatan Rutin Rasulullah Dibulan Ramadhan

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu melakukan i’tikaf pada bulan ramadhan, kecuali satu kali saja (Lihat hadits Al-Bukhari no 2033),

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Hingga wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beri’tikaf pada 10 malam terakhir bulan ramadhan. (saat beliau wafat) para istrilah yang meneruskan kebiasaan ini”
(HR. Al-Bukhari no 2026 dan Muslim no 1172)

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering melakukan i’tikaf selama 10 hari pada bulan ramadhan, namun pada tahun wafatnya, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari”
(HR. Al-Bukhari no 2044)

Kisah I’tikaf Abu Sa’id Al-Khudri Bersama Nabi

Salah satu tujuan dilaksanakannya i’tikaf adalah mendapatkan lailatul qadar, sebuah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy rhadiyallahu ‘anhu pernah bercerita:
“Kami (para sahabat) pernah melakukan i’tikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu dilakukan pada 10 malam pertengahan bulan ramadhan, saat masuk waktu pagi pada tanggal 20 ramadhan (hari terakhir kami beriktikaf), beliau berkhutbah”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :

إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ القَدْرِ، ثُمَّ أُنْسِيتُهَا -أَوْ نُسِّيتُهَا-

“Aku bermimpi melihat kapan terjadinya malam lailatul qadar, kemudian aku dibuat lupa

فَالْتَمِسُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِي الوَتْرِ

(namun) carilah malam tersebut pada 10 hari terakhir bulan ramadhan, pada malam ganjilnya

وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ

(salah satu tanda yang ku lihat dalam mimpi tersebut) aku akan bersujud diatas air dan tanah (becek)

فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلْيَرْجِعْ

(siapa yang hendak pulang), karena telah beri’tikaf bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (sejak 10 hari yang lalu), maka kembalilah ketempat i’tikaf kalian”

Abu Sa’id berkata : “Maka kamipun kembali ketempat i’tikaf, (saat itu) kami melihat kelangit, tidak ada sedikitpun awan, walaupun hanya tipis. Lalu datanglah awan yang membawa hujan, sampai air bertetesan dari atap masjid -ketika itu atap terbuat dari pelepah kurma- Lalu shalatpun didirikan, dan akupun melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud pada air dan tanah (becek). Sampai-sampai aku melihat sisa-sisa tanah berada didahi beliau” (HR. Al-Bukhari no 2016 dan Muslim no 1167)

Inilah kisah I’tikaf Abu Sa’id Al-Khudri bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan pada cerita tersebut ada sebuah pesan bahwa, salah satu tujuan i’tikaf adalah untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Jangan Lewatkan Malam Lailatul Qadar !

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang menghidupkan malam lailatul qadar, karena dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni” (HR. Al-Bukhari no 1901)

Dan dalam ayat Al-Qur’an, Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam lailatul qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan”
(QS. Al-Qadar : 3)

Jangan Lupa Berdoa, Dengan Doa Yang Nabi Ajarkan Saat Lailatul Qadar

Doa adalah senjata orang mukmin. Oleh karena itu, dahulu ibunda AIsyah, istri nabi, pernah mengatakan :
“Wahai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, doa apa yang harus ku ucapkan saat aku bertepatan dengan lailatul qadar?”

Beliaupun menjawab: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Allahumma Innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniy”
‘Ya Allah sesungguhnya hamba-Mu ini memohon ampunan, engkau suka mengampuni, maka ampunilah hamba-Mu ini’”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah no 3850, At-Tirmidzi 3513 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Semoga pembahasan ini bermanfaat, wallahu ta’ala a’lam bish shawab

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Ratno Lc حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Ratno, Lc.
Kontributor Bimbingan Islam (BiAS), Alumni Universitas Islam Madinah Jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS