Home Artikel Istri Minta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami

Istri Minta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami

Istri Minta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami bimbingan islam
Istri Minta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami bimbingan islam

Istri Minta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang istri minta cerai sebab akhlaq buruk suami.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Setahun lalu, saya menikah dengan seorang laki-laki bermanhaj salaf. Laki-laki yang dimata teman-temannya mengetahui ilmu agama dengan baik.
Namun ketika saya sudah setahun menikah dengannya, dari sikap dan perlakuan suami saya kepada saya, saya mengetahui bahwa suami saya sebenarnya tidak cinta kepada saya.
Dia bilang, “jika kamu seperti dia (menyebutkan nama artis perempuan), merangkak kepadamu pun saya mau.

Meskipun di luar rumah, orang-orang mengetahui bahwa suami saya adalah orang yang bagus ibadahnya, tetapi hati saya sering sekali tersakiti oleh ucapan-ucapannya juga sikapnya. Apakah dengan hal-hal itu, saya bisa meminta cerai?
Apakah saya berdosa jika mengingkari takdir saya ini dan membuat keputusan untuk bercerai?

(Disampaikan oleh Fulanah, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.
 

Selamat datang di Media Sosial Bimbingan Islam, semoga Allah selalu membimbing kita semua di dalam jalan keridhoan-Nya.

1- Kedudukan Pernikahan

Sesungguhnya pernikahan di dalam agama Islam memiliki kedudukan yang agung. Pernikahan mengandung banyak berkah, rahasia yang menakjubkan, dan hikmah yang banyak. Oleh karena itu pernikahan termasuk tanda-tanda kekuasaan Alloh, sebagaimana firman-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
(QS. Ar-Ruum/30: 21)

Maka seseorang yang sudah menikah hendaklah menjaga pernikahannya dengan baik, jangan sampai terjadi perceraian dengan sebab yang sepele. Karena perceraian adalah sesuatu yang disukai oleh Iblis.

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ “

Dari Jabir rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar keburukannya. Salah seorang dari mereka datang (melapor), lalu berkata, “Aku telah melakukan ini dan ini”. Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apapun!”
Kemudian salah seorang dari mereka datang (melapor), lalu berkata, “Aku tidak meninggalkannya (seorang suami) sampai aku pisahkan antara dia dengan istrinya”. Iblis mendekatkannya dan berkata, “Kamu memang bagus!”.
(HR. Muslim, no. 2813; Ahmad, no. 14377)

Baca Juga:  Perlukah Shalat Tahiyatul Masjid di Mushalla?

2- Kewajiban Suami Mempergauli Istri Dengan Ma’ruf

Banyak nash-nash memerintahkan agar suami berbuat baik kepada istri dan memperhatikan keadaannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan pergaulah mereka (istri-istri) dengan cara yang ma’ruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS. An-Nisa/4: 19)

Dan suami terbaik adalah suami yang terbaik di dalam pergaulan dengan istrinya.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Dari ‘Aisyah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku”.
(HR at-Tirmidzi, no. 3895 dan Ibnu Hibban, no. 4177, dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani. Lihat Ash-Shohihah, no. 285)

3- Suami Tidak Boleh Menzhalimi Dan Menghina Istrinya

Islam melarang kezholiman, perbuatan menganggu dan menyakiti orang lain. Apalagi orang lain itu adalah orang yang dekat dengan kita, keluarga kita.
Alloh berfirman di dalam hadits qudsi:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezholiman terhadap diriKu dan Aku menjadikannya (perkara) yang diharamkan di antara kamu, maka janganlah kamu saling menzholimi”.
(HR. Muslim, no: 2577)

Dan menghina adalah termasuk kezholiman. Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kamu saling hasad, saling najasy (khianat; memperdaya dalam jual beli), saling benci, dan saling membelakangi. Janganlah sebagian kamu menjual atas penjualan orang lain. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, dia tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (di dalam kesusahan), dan merendahkannya.
Taqwa itu di sini, -beliau menunjuk dadanya 3 kali- Cukuplah keburukan bagi seseorang jika dia merendahkan saudaranya, seorang muslim. Setiap orang muslim terhadap muslim yang lain haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya”.

(HR. Muslim no: 2564; dan lainnya dari Abu Hurairah-pen)

Baca Juga:  Bagaimana Hukumnya Anak Non Muslim Yang Memandikan Jenazah Orang Tua Muslim ?

Dan seorang laki-laki yang di luar dianggap mengetahui ilmu agama dengan baik, dikenal bermanhaj salaf, jangan-lah merusak citra Islam dan citra manhaj Salaf dengan perkataan atau perbuatannya yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Seharusnya dia bertaubat ketika masih sempat. Kemudian memperbaiki dirinya.
Jika memang anda tidak mencintai istri anda, ceraikan dengan baik, jika anda tidak mau menceraikan, maka pergauli-lah dengan baik. Jika tidak anda akan berhadapan dengan Alloh Yang Maha Kuasa menolong orang-orang yang lemah.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula).”
(QS. Al-Baqoroh/2: 231)

4- Istri Meminta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami

Perlu diketahui bahwa hukum asalnya seorang wanita dilarang untuk meminta dicerai. Di dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ ثَوْبَانَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

Dari Tsauban, dia berkata: Rosululloh shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda:
“Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga”
(HR. At-Tirmidzi, no. 1187; Abu Dawud, no. 2226; Ibnu Majah, no. 2055; Ahmad, no. 22379. Dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Hadits ini menunjukkan ancaman yang sangat keras bagi seorang wanita yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang syar’i yang kuat yang membolehkannya untuk meminta cerai.

Namun jika istri merasa tidak akan mampu melaksanakan kewajibannya kepada suami dengan sebab kebenciannya, maka dia boleh khulu’, yaitu mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Di dalam Islam hal itu dengan mengembalikan mahar yang dahulu telah diberikan oleh suami.

Alloh Ta’ala berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.”
(QS. Al-Baqoroh/2: 229)

Kebencian istri itu bisa jadi disebabkan kekerasan di dalam rumah tangga, atau sebab-sebab lainnya, maka istri boleh menuntut cerai, sebagaimana di dalam hadits berikut ini:

Baca Juga:  Bolehkah Bercanda Dengan Kata "Amin" atau Dzikir Lainnya?

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ سَهْلٍ كَانَتْ عِنْدَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ فَضَرَبَهَا فَكَسَرَ بَعْضَهَا فَأَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدَ الصُّبْحِ فَاشْتَكَتْهُ إِلَيْهِ فَدَعَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ثَابِتًا فَقَالَ – خُذْ بَعْضَ مَالِهَا وَفَارِقْهَا
فَقَالَ وَيَصْلُحُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ فَإِنِّى أَصْدَقْتُهَا حَدِيقَتَيْنِ وَهُمَا بِيَدِهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُمَا فَفَارِقْهَا ». فَفَعَلَ.

Dari Aisyah bahwasanya Habibah binti Sahl dulunya istri Tsabit bin Qois, lalu Tsabit memukulnya hingga patahlah sebagian anggota tubuhnya. Habibah pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah subuh dan mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suaminya. Maka Nabi berkata kepada Tsabit, “Ambillah sebagian harta Habibah, dan berpisahlah darinya”

Tsaabit berkata, “Apakah dibenarkan hal ini wahai Rasulullah?”, Nabi berkata, “Benar”. Tsabit berkata, “Aku telah memberikan kepadanya mahar berupa dua kebun, dan keduanya berada padanya”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ambilah kedua kebun tersebut dan berpisalah dengannya”.
(HR Abu Dawud no 2230, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Ibnu Abbas meriwayatkan :

أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلا دِينٍ ، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

“Bahwasanya istri Tsaabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, suamiku Tsaabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu-pen)?”.

Maka ia berkata, “Iya”. Rasulullah pun berkata kepada Tsaabit, “Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !”
(HR Al-Bukhari no 5373)

Dan perlu diketahui, bahwa istri yang menuntut cerai dari suami yang buruk akhlaqnya, bukan berarti mengingkari takdir, namun dia melakukan perkara yang dibenarkan syari’at sehingga lepas dari kezholiman. Wallohu a’lam.

Semoga Alloh memberikan kebaikan kepada kita semua.

Dijawab oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Rabu, 08 Rabiul Akhir 1442 H/ 23 Desember 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini