Fiqih

Istri Berkurban, Pahala Wajib Diniatkan Untuk Orangtuanya?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Istri Berkurban, Pahala Wajib Diniatkan Untuk Orangtuanya?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Istri Berkurban, Pahala Wajib Diniatkan Untuk Orangtuanya? selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum ustad Saya mau tanya tentang qurban. Istri saya bekerja sebagai dokter, jadi memiliki penghasilan sendiri. Dia ingin qurban dan pahalanya untuk dirinya, ibunya, dan bapaknya.

Yang jadi pertanyaan, apakah istri saya cukup niat untuk dirinya dan keluarga (sehingga otomatis pahala juga buat ibu dan bapaknya) atau dia niatkan untuk dirinya, ibunya, dan bapaknya.

Sebagai informasi bahwa ibunya ikut tinggal 1 rumah bersama2 kita sedangkan bapaknya tinggal di kampung halaman namun stp bulan istri saya yg menanggung biaya bulanan bapaknya. Terima kasih Wassalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Bismillah..
Pada asalnya kurban hanya dipergunakan untuk satu orang dan tidak diperkenankan seseorang meniatkan satu kurban (kambing) untuk lebih dari satu jiwa. Namun untuk pahala, maka bisa diniatkan untuk dirinya dan semua keluarganya termasuk di dalamnya orang tua yang berada di bawah tanggungannya.

Disebutkan di dalam web islamqa terkait dengan masalah diatas, diantaranya disebutkan dengan jawaban berikut :

“Satu kambing kibas atau domba tidak sah untuk berkurban kecuali untuk satu orang, maka tidak boleh ada dua orang yang berpatungan untuk satu kambing, juga tidak 7 orang untuk sapi betina atau badanah (unta), ini adalah berpatungan yang dilarang.

Adapun berserikat yang dibolehkan adalah ikut serta dalam pahala, ada seorang laki-laki yang berkurban dan keluarganya ikut serta dalam pahala di dalamnya, atau seorang wanita yang berkurban dan suaminya ikut serta dalam pahala…

Ibnu Qayyim –rahimahullah- berkata: “Termasuk petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- satu kambing diperbolehkan untuk seorang laki-laki dan keluarganya, meskipun mereka berjumlah banyak orang, sebagaimana perkataan ‘Atha’ bin Yasar: “Aku telah bertanya kepada Abu Ayyub al Anshari; “Bagaimana kurban pada masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ?”, beliau menjawab: “Jika seorang laki-laki ia berkurban satu kambing atas nama dia dan keluarganya, mereka memakan dan membagikannya”. Tirmidzi berkata ini adalah hadits hasan shahih”. (Zaadul Ma’ad: 2/295)

Ibnu Rusyd berkata: “Mereka ( para ulama ) bersepakat bahwa satu kambing tidak sah kecuali untuk satu orang, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik bahwa tetap sah jika seorang laki-laki menyembelih untuk dirinya dan keluarganya, tidak dengan cara berserikat (berpatungan), akan tetapi ia membelinya sendirian, hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa beliau berkata:

كنا بمنى فدخل علينا بلحم بقر، فقلنا ما هو؟ فقالوا: ضحى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن أزواجه

“Pada saat kami berada di Mina, seseorang masuk dengan membawa daging sapi, maka kami bertanya: “(Daging) apa ini ?”, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah berkurban untuk para istrinya”. (Bidayatul Mujtahid: 2/196).”

Di dalam fatwa lain di web tersebut menukilkan fatwa Syekh bin baz ketika ditanya terkait dengan sembelihan kurban apakah kurban untuk seluruh keluarga atau setiap orang yang telah baligh juga harus berkurban? Kemudian beliah menjawab,”

الأضحية سنة مؤكدة ، تشرع للرجل والمرأة ، وتجزئ عن الرجل وأهل بيته ، وعن المرأة وأهل بيتها ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي كل سنة بكبشين أملحين أقرنين أحدهما عنه وعن أهل بيته، والثاني عمن وحد الله من أمته

“Kurban hukumnya sunnah muakkad, disyariatkan baik kepada laki laki dan perempuan. Kurban seorang laki laki dapat mencukupi untuk dirinya dan seluruh keluarganya, begitupula dari seorang wanita mencukupi baginya dan seluruh keluarganya, karena nabi Shallahu alaihi wasallam berkurban setiap tahun dengan dua ekor kambing yang gemuk dan bertanduk, seekornya diperuntukkan untuk dirinya dan keluarganya dan satunya lagi untuk umatnya yang mentauhidkan Allah.”

Juga disebutkan terkait dengan pertanyaan senada,”

.فإذا ضحى الرجل بالواحدة من الغنم الضأن أو المعز عنه وعن أهل بيته أجزأ عن كل من نواه من أهل بيته من حي وميت ، فإن لم ينو شيئاً يعم أو يخص دخل في أهل بيته كل من يشمله هذا اللفظ عرفاً أو لغة ، وهو في العرف لمن يعولهم من زوجات وأولاد وأقارب ، وفي اللغ ة: لكل قريب له من ذريته وذرية أبيه وذرية جده وذرية جد أبيه .

“Maka bila seseorang menyembelih satu ekor kambing buat dirinya dan buat keluarganya maka telah mencukupi untuk setiap orang yang ia niatkan dari keluarganya, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Bahkan bila ia tidak meniatkannya sedikitpun, dikhususkan ataupun secara umum selama masuk dalam lingkup kata keluarga secara urf ( pemahaman masyarakat setempat) ataupun bahasa. Secara urf disebut keluarga adalah orang yang di bawah tanggungannya dari para istri, anak dan kerabat. Dan keluarga secara bahasa maksudnya adalah kerabatnya dari keturunannya atau keturunan ayahnya, dan keturunan kaket dan kakek dari ayahnya (buyut) nya.”

Sehingga, bisa disimpulkan kembali bahwa setiap satu ekor kambing diperuntukkan untuk satu jiwa dari salah satu keluarganya, baik istri, suami, bapak atau ibu atau yang lainnya. Sedangkan pengikut sertaan pahala insyaallah akan mencukupkan semua keluarga, di khususkan ataupun tidak, di sebut atau tidak.

Bila disebutkan buat pahala buat orang tua ini juga baik, sebagaimana yang nabi lakukan dengan menyebutkan keperuntukkan pahalanya untuk keluarga atau untuk umatnya. Atau korban kambing di atas namakan untuk salah satu dari bapak atau ibu maka juga boleh, dan istri akan tetap mendapatkan pahala besar insyaallah.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 15 Ramadhan 1444H / 6 April 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button
situs togel situs togel https://getnick.org/ toto togel https://seomex.org/ situs togel dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto situs togel situs toto situs togel bandar togel https://robo-c.ai/ http://satisfieddegree.com/ http://e-bphtb.pandeglangkab.go.id/products/