Istiqamah Jalan Kesuksesan bimbingan islam (1)
Istiqamah Jalan Kesuksesan bimbingan islam (1)

Istiqomah Jalan Kesuksesan

Seorang mukmin senantiasa berada dalam keadaan sabar dan syukur. Sabar ketika mendapatkan musibah dan semua yang tidak diinginkannya dan syukur ketika mendapat kemudahan dan tercapainya semua keinginannya. Kedua hal ini membutuhkan keistiqomahan yang menjadi sebab kokoh dan kontinyunya rasa sabar dan syukur tersebut dan menjadi konsekwensi dari keduanya. Sudah jelas kesabaran dan rasa syukur menuntut seorang hamba senantiasa berada dalam pelaksanaan ketaatan dan meninggalkan semua dosa dan kemaksiatan.

Pengertian Istiqomah

Istiqomah adalah kata yang berasal dari bahasa Arab yang menunjukkan pengertian kokoh dan senantiasa komitmen atas satu perkara.

Para ulama mendefinisikan istiqomah dengan berjalan diatas ajaran  yang lurus dan benar tanpa menyimpang, hal ini mencakup pelaksanaan semua perintah Allah dan meninggalkan semua yang dilarang Allah.

Imam ibnu Hajar pernah menjelaskan pengertian Istiqomah dengan menyatakan: Istiqomah adalah ungkapan dari komitmen kepada perintah Allah baik berupa pelaksanaan ataupun peninggalan. (fathul Baari 13/257)

Sedangkan imam ibnu al-Qayyim menyatakan: Istiqomah adalah kata yang mencakup seluruh pengertian agama; yaitu menghadap Allah Ta’ala dengan hakekat shidiq (jujur) dan menunaikan semua perjanjian.

Pentingnya Istiqomah

Masalah istiqomah adalah masalah yang sangat penting dan sudah menjadi keharusan kita untuk memberikan perhatian yang besar, sebab Istiqomah menjadi sebab kebahagian dunia dan akherat serta keselamatan dari siksaan Allah Ta’ala. Lihatlah firman Allah Ta’ala:

{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (13) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan:”Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al-Ahqaaf/46:13-14)

Demikian juga firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”

Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Fushilaat/41:30-32)

Imam ibnu al-Qayyim menjelaskan pentingnya Istiqomah ini dengan menyatakan: istiqomah pada keadaan seseorang seperti kedudukan ruh dari badan; sebagaimana badan apabila tidak ada ruhnya maka jadi mayit, demikian juga satu keadaan tanpa adanya istiqomah maka akan rusak.
Keistiqomahan adalah sebab baiknya keadaan, juga menjadi sebab bertambah dan cemerlangnya amalan orang-orang zuhud. Tidak akan cemerlang dan sempurna satu amalan tanpa istiqomah.
(Madarij as-Saalikin 2/109).

Beliau juga menyatakan: Kekokohan langkah seorang hamba di ash-Shiraat (jembatan) yang dipasang di atas neraka adalah sesuai dengan kokohnya langkah hamba dijalan yang lurus yang Allah tetapkan di dunia ini, demikian juga ukuran berjalannya diatas jembatan ash-Shiraat sesuai dengan ukuran jalannya hamba tersebut di jalan yang lurus didunia ini.
Hendaknya seorang hamba melihat kepada syubhat dan syahwat yang menghalanginya berjalan diatas jalan yang lurus (agama islam yang benar), karena dia sama seperti kaitan-kaitan yang ada disisi-sisi jembatan shirat yang akan mengait dan menghalanginya untuk melewati jembatan tersebut. Semakin banyak dan kuat syahwat dan syuhbat ini pada hamba maka semakin banyak dan kuat juga disana.
(lihat Tafsier al-Qayyim hlm 109 dengan perubahan).

Jelas sekali pentingnya istiqomah karena menjadi standar keselamatan kita di akhirat nanti dari api neraka yang mengerikan.

Mari belajar istiqomah dan cara menggapainya!

Semoga bermanfaat.
Wabillahi taufiq.

 

Disusun oleh:
Ustadz Kholid Syamhudi حفظه الله
Jumat, 20 Syawwal 1441 H/ 12 Juni 2020 M



Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. حفظه الله
Beliau adalah Mudir Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Kholid Syamhudi حفظه الله 
klik disini