Inilah di antara Rahasia Keutamaan ‘Salam’ Dalam Islam

Inilah di antara Rahasia Keutamaan ‘Salam’ Dalam Islam

Inilah di antara Rahasia Keutamaan ‘Salam’ Dalam Islam

Jika ada orang yang ingin mengubah salam Islam dengan salam yang lain, maka hanya ada dua kemungkinan, dia belum tahu keutamaan ucapan ‘salam’ Islam tersebut, atau pilihan terakhirnya, dia telah tergoda dengan godaan Syaithan yang terkutuk, sama saja, baik  dari setan kalangan jin  maupun manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاس *ِ مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاس * مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاس *ِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاس

“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia . Rajanya manusia. Sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) Setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.”
(QS. Surat An Naas: 1-6).

Adapun jin maka dia membisikkan ke dalam dada manusia, sedang manusia pun juga membisikkan ke dalam dada manusia. Dan bentuk kesertaan keduanya dalam bisikan ini adalah  kesertaan keduanya dalam menebarkan pengaruh setan. Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الأِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

“Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”
(QS. Al An’am: 112).

Ayat yang mulia di atas menjelaskan bahwa setan dari kalangan jin membisikkan kepada manusia sebuah kebatilan, lalu manusia tersebut membisikkan kebatilan ini kepada manusia yang lain, maka setan-setan dari jenis manusia dan jin keduanya ikut andil dalam menebarkan pengaruh setan dan keduanya ikut serta dalam memberikan bisikan-bisikan.
Dalam surat An Naas, yang juga sering dibaca Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa kesempatan, menganjurkan kepada kita semuanya agar berlindung dari kejahatan dua jenis setan tersebut, yaitu setan dari golongan manusia dan setan dari golongan jin.

Ganjaran Ucapan Dan Rahasia Jawaban Salam

Pernah suatu ketika tiga pria menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa waktu yang berbeda, semuanya mengucapkan salam kepada Nabi, tapi pahala ketiganya berbeda-beda.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِىُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : «عَشْرٌ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: « عِشْرُونَ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ « ثَلاَثُونَ » صحيح رواه أبو داود والترمذي وغيرهما

Dari ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: as-Salâmu ‘alaikum (semoga keselamatan dari Allah tercurah untukmu).
Lalu Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “(Dia mendapatkan) sepuluh kebaikan”.
Kemudian datang orang lain kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: as-Salâmu‘alaikum warahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “(Dia mendapatkan) dua puluh kebaikan”.
Kemudian datang lagi orang lain kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: as-Salâmu‘alaikum warahmatullahi wabarakâtuh (semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) tiga puluh kebaikan”
(Hadits shahih. HR Abu Dawud, no. 5195 & Tirmidzi, 5/52).

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mengucapkan salam dengan lafazh lengkap seperti yang tersebut di dalam hadits, dan tidak mengapa mengucapkan salam dengan dua lafazh yang kurang lengkap sebelumnya, karena masing-masing tetap mendapatkan ganjaran pahala kebaikan, walaupun kurang dari lafazh lengkap di atas.
Silahkan memilih pahala ganjaran dari Allah Ta’ala. Bahkan dalam ‘salam’ Islam saja berlaku hukum khusus bagi yang mendengarkan dan menjawab ‘salam.’
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

 “Apabila diucapkan salam kepadamu, maka balaslah salam itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah maha memperhitungkan segala sesuatu”
(QS. An-Nisaa’ : 86).

Pakar Tafsir Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat di atas (artinya) : “apabila seorang muslim mengucapkan salam kepadamu, maka balaslah/jawablah dia dengan (lafazh) salam yang lebih baik dari ucapan salamnya, atau balaslah dengan ucapan salam yang serupa.
Maka menambah (dengan ucapan salam yang lebih baik ketika menjawab salam) adalah dianjurkan, sedangkan (menjawab salam dengan lafazh) yang serupa adalah wajib
(lihat Kitab Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 1/705).

Dari sudut ini saja, menjadi jelaslah alasan orang-orang yang tidak diberikan taufiq dari Allah Ta’ala, dan menyimpang dari jalan yang lurus, disebabkan mereka ingin mengganti ‘salam’ Islam dengan salam yang lain, yang tak bernilai ganjaran pahala dan Doa, melainkan persangkaan semu dan hawa nafsu saja. Hanya kepada Allah Ta’ala  saja lah, kita mengadukan kesesatan yang nyata, dan Allah Yang Maha Mulia melindungi dan menjaga kita dari pikiran dan hawa nafsu yang jauh dari kebenaran itu.

Tulisan Itu Statusnya Seperti Ucapan

Ungkapan ini terkenal dalam pembahasan kaedah fiqih, yaitu الكتاب كالخطاب. Maksudnya akad yang pada asalanya dilakukan dengan ucapan, bisa digantikan dengan tulisan, tentunya dengan syarat syarat tertentu.

Masuk juga dalam pembahasan kaedah ini yaitu ketika seseorang memberi salam baik itu melalui WA, SMS, email, surat, beri comment, dan lainnya. Janganlah ucapan salam tersebut kita ringkas menjadi: Ass. atau Ass.wr.wb. atau yang lainnya. Bentuk semacam ini bukanlah salam.
Salam seharusnya tidak disingkat. Seharusnya jika ingin mengirimkan pesan singkat, maka hendaklah kita tulis: Assalamu’alaikum. Itu lebih baik daripada jika kita tulis: Ass., tulisan yang terakhir ini tidak ada maknanya, kurang, mengandung makna ganda jika dibandingkan dengan bahasa lain dan bukanlah salam.

Salam adalah bentuk do’a yang sangat dalam maknanya. kenapa kita harus menyingkat-nyingkat (?) Kenapa tidak kita tulis lengkap, bukankah itu lebih baik dan lebih utama (?) Janganlah kita dikepung dengan sikap malas, atau enggan untuk melakukan yang terbaik ketika ingin berbuat baik, ubahlah sikap semacam ini dengan menulis salam lebih lengkap, dan semoga Allah Yang Maha Penyayang memberikan ganjaran terbaik kepada anda.

Dan Jika salam tersebut melalui tulisan, WA, SMS, email dan sebagainya, maka hendaklah kita yang membaca salam tersebut, juga membalasnya dengan ditulis secara lengkap dan jangan disingkat-singkat. Tulisan balas juga dengan tulisan (bukan ucapan lisan saja), karena boleh jadi dan memang benar demikian adanya, orang yang menulis tulisan salam tersebut tidak mendengar balasan salam tersebut, karena dia berada ditempat yang lain.

Nasehat Dan Hikmah ‘Salam’ Dalam Islam

Inilah  nasehat dari saudara muslim kepada saudaranya yang lain. Ucapan salam itu adalah do’a yang sangat baik sekali, dan dalam maknanya. Para ulama menjelaskan bahwa As Salam itu termasuk nama Allah Ta’ala. Maka menyingkat salam itu sampai tidak mempunyai makna secara zhahir adalah kurang adab kepada Allah Ta’ala, apatah lagi bagi mereka yang menghendaki dan ingin mengganti salam Islam dengan ‘salam’ bentuk yang lain, apapun dan bagaimanapun alasannya.
Tetap tidak akan bisa diterima oleh muslim sejati yang mengagungkan syi’ar Islam, dan menjadikan peraturanNya yang paling tinggi kemuliannya di atas segala-galanya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى.

Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.”
(Hadits Shahih. HR. Ad-Daruquthni, III/ 181 no. 3564).

Pada prakteknya, jika seorang muslim mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti dia mendo’akan saudaranya agar selalu mendapat penjagaan dari Allah Ta’ala. Ada juga sebagian ulama mengartikan bahwa As Salam dengan keselamatan. Sehingga jika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti kita mendo’akan saudara kita agar dia mendapatkan keselamatan dalam masalah agama ataupun dunianya.
Jadi makna ‘salam’ yang terakhir ini berarti kita mendo’akan agar saudara kita mendapatkan keselamatan dari berbagai macam kerancuan dalam agama, selamat dari syahwat yang menggelora, juga agar diberi kesehatan, terhindar dari berbagai macam penyakit, dan bentuk keselamatan lainnya. Dengan demikian, ‘salam’ adalah bentuk do’a yang sangat indah sekali. “Adakah Yang Mau Berpikir”

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS