ArtikelIbadah

Inilah 5 Amalan Senilai Pahala Haji dan Umrah

Inilah 5 Amalan Senilai Pahala Haji dan Umrah

Ujian yang Allah berikan berupa wabah covid-19 belum juga berakhir. Sehingga hal tersebut berdampak kepada tidak bisanya sebagian kaum muslimin untuk melaksanakan haji dan umrah, guna mengurangi dan mencegah tersebarnya virus saat berkerumun melaksanakan ibadah yang agung tersebut.

Tentu hal tersebut menyebabkan kesedihan yang mendalam dalam hati seorang mukmin yang sangat rindu untuk pergi ke baitullah, namun di satu sisi ini merupakan ujian, dan ujian tersebut merupakan ketetapan dan takdir Allah AlHakim yang harus dihadapi dengan kesabaran. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، ولَيْسَ ذاكَ لِأحَدٍ إلّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا لَهُ، وإنْ أصابَتْهُ ضَرّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا لَهُ

“Betapa mengagumkannya keadaan seorang mukmin, sungguh setiap keadaannya merupakan kebaikan, dan itu hanya ada pada diri seorang mukmin. Apabila dirinya diberikan kenikmatan, dia akan bersyukur, sehingga menjadi kebaikan untuk dirinya, dan apabila dirinya ditimpa musibah, dia akan bersabar, maka itu juga kebaikan untuk dirinya.” (HR. Muslim no. 2999).

Bisa jadi diantara hikmah tidak bisanya sebagian kaum muslimin berhaji pada tahun pandemi ini –wallahu a’lam- adalah kita lebih bisa melihat kasih sayang Allah kepada hambaNya, walaupun tidak bisa berhaji dan umrah, Allah menyediakan banyak amalan yang pahalanya senilai dengan pahala haji ataupun umrah. Diantaranya :

1. Tasbih, tahmid, dan takbir setelah setiap sholat wajib.
Abu Hurairah bertutur:

جاءَ الفُقَراءُ إلى النَّبِيِّ ﷺ، فَقالُوا: ذَهَبَ أهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأمْوالِ بِالدَّرَجاتِ العُلاَ، والنَّعِيمِ المُقِيمِ يُصَلُّونَ كَما نُصَلِّي، ويَصُومُونَ كَما نَصُومُ، ولَهُمْ فَضْلٌ مِن أمْوالٍ يَحُجُّونَ بِها، ويَعْتَمِرُونَ، ويُجاهِدُونَ، ويَتَصَدَّقُونَ، قالَ: «ألاَ أُحَدِّثُكُمْ إنْ أخَذْتُمْ أدْرَكْتُمْ مَن سَبَقَكُمْ ولَمْ يُدْرِكْكُمْ أحَدٌ بَعْدَكُمْ، وكُنْتُمْ خَيْرَ مَن أنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرانَيْهِ إلّا مَن عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وتَحْمَدُونَ وتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وثَلاَثِينَ »

“Para sahabat yang fakir pernah mendatangi rasulullah ﷺ lalu berkata: Orang-orang kaya bisa mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Mereka mengerjakan sholat seperti kami, berpuasa seperti kami, tapi mereka memiliki kelebihan harta untuk berangkat haji, umrah, berjihad dan sedekah.

Baca Juga :  Waktu Utama Untuk Shalat Isya’ Dan Tahajjud Setelah Shalat Isya’

Beliau ﷺ pun bersabda: “Maukah kalian aku beritahu suatu amalan apabila dikerjakan, kalian akan bisa menyusul orang-orang sebelum kalian dan orang-orang setelah kalian tidak bisa menyusul kalian, dan kalian menjadi manusia terbaik di zaman kalian, kecuali ada orang yang mengerjakan amalan semisal? (yaitu) bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai sholat sebanyak 33 kali.” (HR. Bukhari no. 843).

Dalam hadits tersebut rasulullah ﷺ berusaha menghibur hati para sahabat yang tidak sanggup untuk menunaikan ibadah haji, lalu beliau pun menunjukkan sebuah amalan yang sebanding dengan amalan haji, umrah dan berjihad.

2. Pergi ke masjid dengan tujuan menuntut ilmu atau mengajarkan ilmu.
Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن غَدا إلى المَسْجِدِ لا يُرِيدُ إلّا أنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أوْ يَعْلَمَهُ، كانَ لَهُ كَأجْرِ حاجٍّ تامًّا حِجَّتُهُ

“Siapa yang pergi ke masjid dengan tujuan mempelajari ilmu atau mengajarkannya, dia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna.” (HR. Thabrani no. 7473, lihat shahih targhi wa tarhib no. 86).

3. Pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat wajib dalam keadaan bersuci.
Rasulullah ﷺ bersabda

مَن خَرَجَ مِن بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إلى صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأجْرُهُ كَأجْرِ الحاجِّ المُحْرِمِ

“Siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan sholat wajib, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berhaji.” (HR. Abu Dawud no. 558, lihat shahih targhib dan tarhib no. 320).

4. Pergi ke masjid untuk mengerjakan sholat dhuha.
Rasulullah ﷺ bersabda:

ومَن خَرَجَ إلى تَسْبِيحِ الضُّحى لا يَنْصِبُهُ إلّا إيّاهُ فَأجْرُهُ كَأجْرِ المُعْتَمِرِ

“Siapa yang keluar dari rumahnya hanya dalam rangka mengerjakan sholat dhuha, maka pahalanya seperti pahala orang yang umrah.” (HR. Abu Dawud no. 558, lihat shahih targhib dan tarhib no. 320).

Ibnu Hajar Al-Haitamy ketika membahas sholat dhuha berkata:

والسنة أن تفعل فى المسجد لحديث ورد بذلك فتكون مستثناه

“termasuk sunnah mengerjakan shalat dhuha di masjid karena ada hadits yang menunjukkan hal tersebut, sehingga menjadi pengecualian (dari sholat sunnah lainnya).” (Asyraful Wasail ila fahmissyamail : 1/408).

5. Sholat shubuh berjamaah kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari, lalu mengerjakan sholat dhuha (isyraq).

مَن صَلّى الغَداةَ فِي جَماعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلّى رَكْعَتَيْنِ كانَتْ لَهُ كَأجْرِ حَجَّةٍ وعُمْرَةٍ، قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تامَّةٍ تامَّةٍ تامَّةٍ »

“Siapa yang sholat shubuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian mengerjakan sholat dua rakaat, dia akan mendapatkan pahala haji dan umrah”. Rasulullah ﷺ bersabda: “sempurna, sempurna, sempurna”. (HR. Tirmidzy no. 586, lihat shahih aljami’ no. 6346).

Maksud mengerjakan sholat saat matahari terbit adalah ketika matahari sudah setinggi tombak, kira-kira 15 menit dari matahari terbit. Syaikh Muhammad bin Sholih al-utsaimin berkata:

صلاة الإشراق وهي التي تصلى بعد أن ترتفع الشمس قيد رمح ومقدار ذلك بالساعة أن يمضي على طلوع الشمس ربع ساعة أو نحو ذلك. هذه هي صلاة الإشراق، وهي صلاة الضحى أيضًا

“Sholat isyraq adalah sholat yang dikerjakan saat matahari sudah setinggi tombak, jika dikonversikan ke jam kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Inilah yang dinamakan sholat isyraq, dan juga termasuk sholat dhuha.” (Majmu’ fatawa wa rasail : 14/305).

Wallahu a’lam

Disusun oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Kamis, 5 Dzul Hijjah 1442 H  / 15 Juli 2021 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga :  Kekhususan Nabi Terlambat dalam Penguburannya

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button