Ini Alasan Mengapa Minyak Khas Suatu Daerah Yang Berlabel Ghaib Perlu Kita Hindari

Ini Alasan Mengapa Minyak Khas Suatu Daerah Yang Berlabel Ghaib Perlu Kita Hindari

Ini Alasan Mengapa Minyak Khas Suatu Daerah Yang Berlabel Ghaib Perlu Kita Hindari

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, bagaimana hukumnya menggunakan minyak obat herbal khas suatu daerah yang proses pembuatannya berasal dari Pawisik (bisikan ghaib / mahluk halus), perlukah kita menghindari penggunaannya?

جَزَاكَ الله خَيْرًا

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS T08 G-15

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ الله

Alhamdulillāhi rabbil ālamīn

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi waman tabi’ahum bi ihsānin Ilā yaumil Qiyāmah. Amma ba’du

Afwan Wajazākallāh  khairan katsiran atas pertanyaan dan do’a yang antum sampaikan,

Disebutkan di sana sebuah ungkapan: “Minyak ini merupakan ramuan herbal yang ditemukannya melalui Pawisik Ida Sang Hyang Widhi.”

Selayaknya kita sebagai umat Islam menjauhi saja produk berlabel ghaib seperti itu karena kalaupun itu boleh, maka kita telah membantu suksesnya praktek dari orang-orang yang mengklaim mengetahui keghaiban dengan membeli produk-produk mereka.

Jargon untuk mencintai produk-produk dalam negeri ini harus dipersyaratkan untuk memperhatikan halal-haram, maslahat dan manfaat dari sisi agama bukan semata-mata manfaat dari sisi medis. Demikianlah selayaknya sikap seorang muslim.

Karena mengklaim mengetahui keghaiban adalah pekerjaan para pendusta dari kalangan para dukun dan hamba setan. Allāh tabāraka wa ta’āla menyatakan:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allāh dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”
(QS An-Naml : 65).

Dalam ayat yang lain Allāh tabāraka wa ta’āla menyatakan:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemadharatan, kecuali yang dikehendaki Allāh.”

Dan andai kata aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
(QS Al-A’raf : 188)

Semoga pembahasan ini bermanfat, wa akhiru da’wanā anilhamdulillāhi  rabbil ālamīn.

Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
📆 Jumat, 01 Rabi’ al-Awwal 1440 H | 09 November 2018 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS