Ingin Ta’Aruf Tapi

Ingin Ta’Aruf Tapi

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ana dulu pernah menjalani sebuah pacaran,, karena ana belum tau hukumnya sebuah pacaran itu maksiat. Dan sekarang ana ingin benar-benar ta’aruf ke jalan yang lebih serius. Tapi kenapa kok sampai sekarang ana belum mendapatkan wanita yang seperti ana cari ? Dan terkadang ana bingung jika menentukan dengan kata hati dan fikiran. Mohon penjelasannya sukron

(Dari Sumiani Di Bogor Anggota Grup BIAS T05-G35).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Kami kurang begitu memahami arah pertanyaan yang diajukan, berdasarkan nama dan inisial group nampaknya penanya adalah seorang wanita. Namun dalam pertanyaan disebutkan “ana belum mendapatkan wanita yang seperti ana cari”. Mungkin penanya salah menuliskan pertanyaanya.

Ala kullin, penanya wajib bersyukur Allah ta’ala sudah menganugrahkan hidayah untuk kemudian bertaubat dari perbuatan maksiat berupa pacaran ini. Dan hendaknya menguatkan tekat dalam hati untuk tidak mengulanginya. Segera menikah adalah langkah real dan terbaik yang sangat kami anjurkan.

Adapun jika ternyata proses pencarian pasangan hidup ini belum juga berhasil, maka saran kami kepada penanya hendaknya senantiasa berprasangka baik kepada Allah ta’ala. Bisa jadi penundaan ini merupakan bentuk hukuman dari Allah atas maksiat yang dulu yang dengan adanya kesulitan ini ia menjadi pelebur bagi dosa-dosa yang telah dilakukan di masa silam.

Bisa juga ia merupakan bentuk ujian dari Allah ta’ala untuk membuktikan sampai dimana kemurnian taubat yang dilakukan. Teruslah berikhtiyar dengan cara-cara yang diperbolehkan syariat disertai doa yang tulus di waktu-waktu yang mustajabah. Dan terus menjaga niat agar di dalam menikah kita hanya mengharapkan wajah Allah ta’ala. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ: الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah ta’ala ; Orang yang berjihad di jalan Allah, mukatab yang ingin menebus dirinya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan diri”. (HR Ahli Sunan kecuali Nasa’i dihasankan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 3050).

Dan yang perlu kita fahami bersama ialah jarang sekali seseorang akan mendapatkan pasangan yang 100% sesuai dengan keinginanya, rupawan, kaya, shalih, pemilik nasab. Karena kita tidak atau belum tinggal di syurga, kita masih menjejakkan kaki di dunia yang penuh dengan aib serta kekurangan. Hendaknya kita melihat kapasistas diri kita, sampai dimana keshalihan kita, kekayaan kita, rupa dan nasab kita. Namun satu jaminan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam barangsiapa mencari pasangan hidup dikarenakan faktor agama dan keshalihan ia akan beruntung. Beliau bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara : karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Muslim : 2/1086).

Jika kita tidak mampu mencari pasangan hidup yang mengumpulkan empat kebaikan ini, maka setidaknya kita mengantongi satu. Dan itu yang akan membawa kebaikan bagi kita dunia akhirat. Yakinlah rasa cinta itu bukan sesuatu yang mutlak harus ada di awal pernikahan, namun seringnya ia muncul seiring waktu berjalan, ia muncul seiring kebersamaan pasangan suami istri yang shalih, yang hanya mengharapkan ridha Allah dari pernikahannya.

Maka segeralah tepis keraguan, buang fikiran atau kata hati yang mengganggu tujuan kita meraih ridha Allah dengan pernikahan ini karena itu semua merupakan was-was dari setan untuk terus menunda kebaikan, menunda dan menunda hingga akhirkan ia menjerumuskan kita ke dalam kemaksiatan dan kerugian tiada tara . Ikhalskan niat yakinlah bahwa kebahagiaan itu mutlak milik Allah ta’ala dan Ia hanya akan memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang mentaati perintah dan menjauhi larangannya. Wallahu a’lam.

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati

CATEGORIES
Share This

COMMENTS