Indahnya Syariat Milkul Yamin (Budak) Dalam Islam

Indahnya Syariat Milkul Yamin (Budak) Dalam Islam

Indahnya Syariat Milkul Yamin (Budak) Dalam Islam

Akhir-akhir kata-kata perbudakan atau milkul yamin, sering terdengar di telinga kita. Dan setiap orang yang belum mengerti islam secara dalam, atau seorang yang memang sedang mencari-cari kelemahan islam, tidak jarang akan mengatakan, “Islam adalah agama yang kejam, memperbolehkan perbudakan”.

Ketika mendengar komentar seperti itu, setiap orang yang berilmu dengan syariat islam berkaitan dengan perbudakan akan berkomentar singkat, “ah, coba ia tahu sejarah perbudakan, dan tahu syariat islam yang utuh tentangnya, pasti mereka tidak akan mengatakan hal tersebut”.

Sejarah Perbudakan (Milkul Yamin)

Perbudakan merupakan hasil peradaban yang sudah ada sejak sebelum islam datang. Kaum yahudi dan nasrani pada zaman nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengenal peradaban ini. Bahkan orang-orang persia, babilonia, yunani, romawi dan lainnya telah mengenal peradaban perbudakan ini.
Bahkan kaum yang menjajah bangsa Indonesia tercinta juga telah menjadikan rakyatnya sebagai budak-budak mereka, dan dapat dipastikan perbudakan bangsa-bangsa barat lebih kejam dari pada perbudakan dalam syariat islam.

Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah dalam kitab beliau Taudhihul Ahkam mengatakan:

فالإسلام لم يختص بالرقِّ، بل كان منتشراً في جميع أقطار الأرض.فهو عند الفرس، والروم، والبابليين، واليونان وأقرَّه أساطينهم من أمثال أفلاطون، وأرسطو.

“Bukan hanya islam yang memiliki peradaban perbudakan, bahkan peradaban ini telah tersebar diseluruh penjuru dunia. Peradaban perbudakan ini ada dibangsa persia, romawi, babilonia, yunani, dan diakui oleh para ahli filsafat mereka seperti Plato dan Aristoteles”
(Taudhihul Ahkam 7/238)

Dari sini kita tahu, apabila ada orang yang mengejek islam dengan perbudakan, maka ia belum berlaku adil, karena perbudakan telah ada sebelum islam datang, serta diakui oleh bangsa-bangsa besar lainnya.

Sebelum Datang Islam, Perbudakan Begitu Mengerikan

Sebelum islam datang, perbudakan berasal dari berbagai sebab. Diantara yang disebutkan oleh ahli sejarah William James “WillDurant, dalam bukunya “The Story of Civilization” yang diterjemahkan kedalam bahasa arab menjadi “قِصَّةُ الْحَضَارَةِ”, yang kalau diartikan secara bebas maknanya adalah “Kisah Peradaban”. Dalam bukunya tersebut, ia mengatakan :

ولما استقر نظام الرق على أسسه وبرهن على نفعه، أخذ يزداد نطاقه بأن أضيف إلى الرقيق طوائف أخرى غير الأسرى، فأضيف إليهم المَدِينون الذين لا يوفون الدَّين، والمجرمون الذين يعاودون الإجرام

Ketika sistem perbudakan telah baku diatas pondasinya, dan telah jelas manfaatnya, ditambahlah sebab perbudakan lain selain dari tawanan perang. (seperti) orang-orang yang tidak mampu membayar hutang, atau orang jahat yang selalu berbuat kejahatan…

Ketika datang islam, maka sebab perbudakan itu hanya satu ketika memenuhi tiga syarat:

  1. Kafir
  2. Memerangi Allah dan Rasul-Nya
  3. Imam (pemimpin kaum muslimin) menyetujuinya

Dan ketiga syarat ini, hanya didapatkan ketika terjadi peperangan antara kaum muslimin dan orang-orang kafir.
Ketika kaum muslimin dapat menawan orang-orang kafir maka ada beberapa kebijakan yang diambil, bisa jadi ia dibebaskan tanpa tebusan, bisa jadi ia dibebaskan dengan syarat ditebus, apabila tidak dibebaskan dan tidak ada yang menebus, maka mereka dijadikan budak.
Syaikh Mukhtar bin Amin Asy-Syinqithi rahimahullah, salah seorang ulama ahli tafsir mengatakan:

وَسَبَبُ الْمِلْكِ بِالرِّقِّ: هُوَ الْكُفْرُ، وَمُحَارَبَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَإِذَا أَقْدَرَ اللَّهُ الْمُسْلِمِينَ الْمُجَاهِدِينَ الْبَاذِلِينَ مُهَجَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، وَجَمِيعَ قُوَاهُمْ، وَمَا أَعْطَاهُمُ اللَّهُ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا عَلَى الْكُفَّارِ، جَعَلَهُمْ مِلْكًا لَهُمْ بِالسَّبْيِ ; إِلَّا إِذَا اخْتَارَ الْإِمَامُ الْمَنَّ أَوِ الْفِدَاءَ، لِمَا فِي ذَلِكَ مِنَ الْمَصْلَحَةِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ.

sebab seorang dapat dijadikan budak adalah : kekufuran dan perlawanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketika Allah menetapkan kemenangan mujahidin (orang-orang yang berjihad) yang telah mengorbankan darah, harta, tenaga, dan segala yang Allah karuniakan untuk mereka demi meninggikan kalimat Allah atas orang-orang kafir, maka Allah jadikan mereka pemilik dari para tawanan (dapat diperbudak). Kecuali jika imam (pemimpin tertinggi) mengambil kebijakan lain dengan membebaskan mereka tanpa tebusan, ataupun dengan tebusan, dikarenakan ada pertimbangan yang lebih maslahat untuk kaum muslimin

(Adhwaul Bayan 3/29)

Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah dalam kitab beliau Taudhihul Ahkam, mengatakan :

إن الإسلام ضيَّق مورد الرِّق؛ إذ جعل النَّاس كلهم أحراراً، لا يطرأ عليهم الرِّق إلاَّ بسببٍ واحدٍ، وهو أنْ يؤسروا وهم كفَّار مقاتلون، مع أنَّ الواجب على القائد أنْ يختار في المقاتلة من رجالهم الأصلح من الرق، أو الفداء، أو الإطلاق بلا فداء، حسب المصلحة العامَّة

Islam telah menyempitkan jalan masuk perbudakan, karena Islam telah menjadikan seluruh manusia menjadi orang-orang merdeka (bukan budak) secara hukum asalnya.
Dan tidak akan terpikirkan oleh orang-orang islam untuk memperbudak orang kecuali dengan satu sebab saja, yaitu tawanan perang yang kafir dan memerangi islam, bersamaan dengan itu, pemimpin tertinggi (imam) masih diberikan wewenang untuk mengambil solusi terbaik bagi para tawanannya, apakah akan dijadikan budak, ataukah akan dibebaskan dengan tebusan, ataukah dengan membebaskan mereka semua tanpa ada tebusan. Dan semua ini tergantung dari manakah yang lebih maslahat bagi kaum muslimin secara umum.

(Taudhihul Ahkam 7/239)

Tujuan Islam Dalam Perbudakan

Disetujuinya perbudakan dalam islam, dikarenakan mereka kafir dan memerangi Allah, dan dikarenakan adanya tujuan yang hendak dicapai. Yaitu agar mereka dapat mengenal keindahan dan kelurusan agama islam. Agar mereka dapat mendengar firman Allah ta’ala yang akan menggetarkan hati mereka. Hingga akhirnya merekapun tertarik dan masuk ke dalam agama islam, yang mana masuknya mereka ke dalam agama islam inilah tujuan utama dalam setiap perjuangan kaum muslimin.

Hal ini dapat kita petik dari firman Allah ta’ala:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.
(QS. At-Taubah : 6)

Sebenarnya ayat ini tidak berkaitan dengan budak, akan tetapi berkaitan dengan orang-orang kafir yang meminta perlindungan kepada pemimpin kaum muslimin agar diperbolehkan tinggal di negeri muslim beberapa waktu lamanya, sebagian membatasai hanya boleh empat bulan, sebagian yang lain hingga satu tahun. Kemudian setelah itu mereka diantarkan hingga selamat ke tempat asalnya.

Dan sisi pendalilannya dari ayat diatas adalah apabila orang-orang yang bukan budak saja diharapkan mereka dapat mendengarkan firman Allah hingga mereka tahu apa itu islam yang sebenarnya, maka lebih-lebih lagi budak, yang mana ia akan membersamai tuannya yang beragama islam, dan yang berakhlak dengan akhlak islam, sehingga mereka akan tertarik dengan agama islam dan akhirnya memeluknya. Dan pada akhirnya mereka juga akan dibebaskan.

Usaha Islam Untuk Menuntaskan Perbudakan

Islam adalah agama yang sangat luar biasa. Ketika islam memperbolehkan perbudakan dengan syarat-syaratnya, Islam juga berusaha untuk mengentaskan para budak dari dunia perbudakan, sehingga mereka dapat menjadi orang merdeka.

Banyak sekali, ayat ataupun hadits yang mendorong para pemilik budak untuk membebaskan budaknya. Dan ada banyak kafarah dalam islam berbentuk pembebasan budak. Diantaranya contohnya adalah :

1. Kafarah Pembunuhan

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.
Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh)
serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman.
Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

(QS. An-Nisa : 92)

2. Kafaratul Yamin (Kafarah Sumpah)

Allah ta’ala berfirman:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah (1) memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau (2) memberi pakaian kepada mereka atau (3) memerdekakan seorang budak.
Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya (4) puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

(QS. Al-Maidah : 89)

Pada ayat ini, Allah ta’ala menjadikan pembebasan budak sebagai pilihan ketiga dari empat pilihan yang disediakan. Dan tentu di dalam ayat tersebut ada isyarat dorongan dari syariat untuk membebaskan budak.

3. Kafarah Zhihar

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ * فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.
Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.
Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.

(QS. Al-Mujadalah : 3-4)

Pada ayat ini, Allah menjadikan pembebasan budak sebagai pilihan pertama dalam kafarah dhihar. Dan dalam ayat ini ada sebuah isyarat, akan keinginan syariat agar perbudakan itu akhirnya selesai, karena Allah berfirman: “Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur”.

4. Kafarah Jimak di Siang Hari Bulan Ramadhan

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita:
dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, celaka aku!.”

Beliau menanggapi: “Ada apa denganmu?”
Laki-laki itu berkata; “Aku telah menggauli isteri di (siang) bulan Ramadhan.”

Beliau bersabda: “Kalau begitu, bebaskanlah budak.”
Laki-laki itu berkata; “Aku tidak mampu.”

Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.”
Laki-laki itu berkata; “Aku tidak mampu.”

Beliau bersabda: “Berilah makan enam puluh orang miskin.”
Laki-laki itu berkata; “Aku tidak mampu.”

Lalu beliau memberinya sekarung bahan makanan, dan bersabda: “Ambillah dan bersedekahlah dengannya.”
Laki-laki itu berkata; “Wahai Rasulullah, apakah ini untuk selain keluargaku? Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara dua lembah ini (maksudnya Madinah) yang lebih membutuhkan daripada (keluargaku).”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum hingga terlihat giginya, lalu beliau bersabda: “Kalau begitu ambilah untukmu.”
(Muttafaqun alaihi dan ini adalah arti dari lafaldz Imam Al-Bukhari dalam shahihnya)

Coba perhatikan, apa yang diminta oleh nabi kepadanya ?
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memintanya untuk membebaskan budak, dan ini menjadi pilihan pertama dalam kafarahnya. Dan ini juga menunjukan semangat beliau untuk mengentaskan perbudakan.

Islam Memotivasi Agar Umatnya Membebaskan Para Budak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُسْلِمَةً، أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ، حَتَّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ

Barangsiapa membebaskan budak muslim, Allah membebaskan setiap anggota tubuhnya karena anggota tubuh yang dibebaskannya dari neraka, hingga Allah membebaskan kemaluannya dari neraka, karena kemaluannya
(HR. Al-Bukhari no. 6715 dan Muslim no. 1509)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَطَمَ مَمْلُوكَهُ، أَوْ ضَرَبَهُ، فَكَفَّارَتُهُ أَنْ يُعْتِقَهُ

“Barangsiapa menampar budaknya atau memukulnya, maka kaffaratnya adalah memerdekakannya.”
(HR. Muslim no. 1657)

Islam Mengajarkan Berbuat Baik Kepada Budak

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

هُمْ إِخْوَانُكُمْ وَ خَوَلُكُمْ جَعَلَهَمُ اللّٰهُ تَحْتَ أَيْدِيْكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوْهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَ لْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَ لاَ تُكَلِّفُوْهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوْهُمْ فَأَعِيْنُوْهُمْ عَلَيْهِ

“mereka (para budak) adalah saudara-saudaramu dan pelayan-pelayanmu; dimana Allah telah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaanmu.
Barangsiapa yang saudaranya itu berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya makan dengan makanan seperti yang ia makan, memberinya pakian dengan pakaian seperti yang ia pakai dan janganlah kamu membebani mereka dengan beban yang tidka sanggup mereka pikul, dan jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan, maka bantulah mereka dalam mengerjakannya.”
(HR. Muslim no.1661)

Kesimpulan

Perbudakan merupakan konsep yang sangat agung dalam syariat islam ini. Perbudakan memiliki aturan-aturan yang digariskan oleh Allah langsung ataupun melalui lisan Rasul-Nya.

Apabila ada orang-orang yang mencela islam dengan perbudakan, maka bisa disimpulkan bahwa ia adalah seorang yang sangat kurang informasi berkaitan dengan perbudakaan dalam islam. Atau setidaknya mereka tidak mau membaca referensi dan aturan-aturan yang sangat banyak berkaitan dengan perbudakan ini.

Semoga artikel yang singkat ini bermanfaat, dan dapat menambah wawasan kita semua. Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad Lc حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
Kontributor Bimbingan Islam (BiAS), Alumni Universitas Islam Madinah Jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS