Ikut Tahlilan Untuk Menyenangkan Hati Tetangga

Ikut Tahlilan Untuk Menyenangkan Hati Tetangga

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan saudara kita yang mengatakan,”kenapa sih kamu gak mau datang diacara tahlilan untuk nyenangkan hati orang yg mengundang?”.

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS 5 G-55

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Kami tidak mengetahui jawaban terbaik seperti apa yang diinginkan oleh penanya. Namun satu hal yang pasti bahwa, ritual tahlilan dengan tatacara khusus sebagaimana yang banyak dilakukan di Indonesia adalah merupakana ritual yang mengatas namakan agama dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Ia adalah bagian dari bid’ah dalam agama, syariat yang diada-adakan yang tidak pernah ada sebelumnya. Ratusan tahun yang lalu Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti agar kita menjauhi segala bentuk kebid’ahan dalam agama, beliau bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk.

Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Tirmidzi no. 2676. ia berkata : Hadits ini hasan shahih).

Dan merupakan bentuk kepandiran jika kita mengharapkan kebahagiaan manusia dan menukarnya dengan kemurkaan Allah ta’ala. Hak membuat syariat adalah hak murni bagi Allah, ketika kita membuat ritual baru dalam agama itu sama halnya kita menyerobot hak Allah ta’ala.

Ketika kita berani menarik garis tegas dari awal, yakinlah rintangan dan kesulitan itu tidak akan lama. Berbeda jika kita ragu di awal, antara ikut ritual kebid’ahan dan tidak, dikarenakan perasaan tidak enak dengan tetangga, kita akan terus-menerus merasakan kegelisahan dan pada akhirnya ridha manusia pun tidak akan pernah kita dapatkan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أن من التماس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضا عنه الناس، ومن أرضا الناس بسخط الله سخط الله عنه وأسخط عنه الناس

“Barangsiapa mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan ridha kepadanya dan Allah akan membuat manusia ridha kepadanya. Barangsiapa mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan Allah akan membuat manusia murka kepadanya”. (HR Tirmidzi 2414, Ibnu Hiban 276 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 1060).

Kita hendaknya yakin bahwa setiap larangan Allah dan Rasul-Nya pasti akan membawa kebaikan dunia dan akhirat. Cepat atau lambat pertolongan Allah akan datang bagi orang-orang yang bertaqwa. Cukup kita mengatakan bahwa kami tidak bisa mengikuti ritual tersebut, karena menurut keyakinan kami ia bukan merupakan ajaran agama islam. Dan negara sekalipun memberikan kebebasan bagi setiap masing-masing warga negara untuk menjalankan dan meyakini ajaran agamanya masing-masing.

Kemudian kita pasrahkan dan kita adukan semuanya kepada Allah ta’ala sembari berdoa meminta diberikan keistiqamahan di dalam berpegang teguh kepada syariat agama Islam yang murni. Semoga bermanfaat wallahu a’lam.

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati

CATEGORIES
Share This

COMMENTS