AqidahArtikel

IJTIHAD KOLEKTIF, DAN URGENSINYA BAGI ORANG AWAM

IJTIHAD KOLEKTIF, DAN URGENSINYA BAGI ORANG AWAM

Proses ijtihad bukanlah sesuatu pekerjaan yang ringan, oleh karenanya secara etimologi ijtihad itu adalah:

بذل الجهد لإدراك أمر شاق

“Mengerahkan kesungguhan/upaya untuk mendapatkan perkara yang berat/sulit”

Atau kalau didefinisikan secara terminologi kurang lebih:

بذل الجهد لإدراك حكم شرعي

“Mengerahkan segala upaya untuk mengetahui hukum syari”. (al-Ushul min Ilmi al-Ushul hal:85).

Pelaku ijtihad juga bukan orang yang sembarangan, dia adalah orang yang terkumpul dalam dirinya paling tidak beberapa syarat berikut:

1. Mengetahui dalil-dalil syari (al-quran, sunnah atau selainnya) dalam masalah yang sedang dibahas, dia tahu betul sohih atau lemahnya dalil, mengenal mana dalil yang sudah mansukh, mana yang masih eksis, tujuannya agar tidak berdalil dengan yang lemah, atau dengan yang mansukh/tidak eksis.

2.Menguasai bahasa Arab yang dengannya menjadi wasilah untuk memahami dalil, karena sumber hukum semuanya berbahasa arab.

3. Mengetahui disiplin ilmu ushul fiqih dan mampu menerapkan kaidah-kaidahnya pada dalil untuk memahami dilalah dan maknanya. Tanpa ilmu ini, seorang yang berijtihad permisalannya seperti orang sudah di depan kompor, sudah ada wajan, sayur, bumbu dan bahan lainnya namun tidak mampu untuk mengolahnya.

4. Mengetahui mana masalah yang sudah dikonsensuskan (ijmak), mana yang masih ada silang pendapat, agar fatwanya tidak menyelisihi ijmak. (Syarhu al-Ushul min Ilmi al-Ushul oleh Dr Sa’ad al-Syatsry hal:313-314).

Sebagaimana disebutkan di awal, bahwa proses ijtihad itu berat, syaratnya tidak ringan, sangat sedikit orang yang mampu dan mencapai level ini. Jika ada orang yang belum mencapai level tersebut namun memaksakan berijtihad maka berpotensi melahirkan hasil yang prematur, atau hasil ijtihad yang memiliki kecacatan.

Karena sulitnya mencapai level mujtahid, tidak dipungkiri maka kemudian muncul sebagian pendapat ulama bahwa ijtihad di masa belakangan sulit terwujud, atau sangat sedikit dan langka, sehingga sebagian mereka kemudian mewajibkan bagi yang awam untuk bermadzhab (mengambil semua azimah & rukhsoh) dari pendapat ulama terdahulu melalui kitab-kitab mereka, karena ulama terdahulu sudah jelas dan terakui pencapaian mereka pada derajat ijtihad.

Namun dalam permasalahan ini (bermadzhab) tentu masih ada banyak perdebatan dan butuh pembahasan tersendiri.

Untuk mencapai level mujtahid dalam setiap pembahasan tema agama memang berat dan sedikit untuk didapati, namun para ulama ushul fiqh membahas bahwa masih memungkinkan untuk menjadi mujtahid namun hanya dalam bagian kecil pembahasan tema agama, misal seorang dikatakan mujtahid dalam tema muamalat, atau dalam tema fiqih jinayat, atau mujtahid dalam tema fiqih keluarga (ahwal syakhsiyah) dan semisalnya, ini yang diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan (تجزء الاجتهاد) “mencapai level mujtahid dalam sebagian pembahasan”.

Nah, karena sulitnya menemukan adanya satu orang yang mencapai derajat ijtihad dalam semua aspek pembahasan agama, maka kemudian muncullah lembaga-lembaga ijtihad kolektif (الإجتهاد الجماعي) yang menghimpun para pakar dan ahli agama agar masing-masing bisa saling menutupi dan melengkapi, sehingga dengan kolektifitas itu mereka bisa mencapai level ijtihad secara menyeluruh dengan hasil ijtihad semakin sempurna.

Taruhlah permisalannya muncul Majma fiqih islami milik robitah al-aalam al-islami, majma fiqih islami milik OKI, haiah kibar ulama kerajaan saudi arabia, al-lajnah al-daimah saudi arabia, majma fiqih islami di sudan dan india, majma fuqoha amerika dan lainnya.

Dengan ijtihad secara kolektif yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut maka diharapkan bisa lebih meminimalisir kesalahan dan kecacatan dalam ijtihad jika dibandingkan dengan proses ijtihad individu (الإجتهاد الفردي) karena output hukum yang muncul adalah hasil diskusi dan pengkompromian berbagai sudut pandang dari para ulama yang tergabung dalam lajnah.

Dalam salah satu jurnal yang ditulis perihal ijtihad kolektif oleh Prof Dr Mahir Hamid al-Hauly (dekan fak syariah univ islam gaza, palestina) beliau mengungkapkan:

الاجتهاد الجماعي له أهمية عظيمة كما له أغراض عملية كثيرة يحققها بتحققه. وهو أصل تشريعي تأتي مكانته بعد الإجماع الحقيقي التام، بل هو سبيل إليه في كثير من الأحيان وهو فوق القياس وفوق كل اجتهاد فردي

“Ijtihad secara kolektif memiliki urgensi yang sangat agung dan tujuan-tujuan amaliah yang begitu banyak, itu semua tidak terwujud melainkan dengan merealisasikannya. Ia merupakan dasar syariat yang memiliki kedudukan setelah konsensus ulama, bahkan sejatinya ia adalah satu tahapan menuju konsensus ulama dalam banyak kesempatan, ia juga mempunyai kedudukan di atas qiyas dan ijtihad secara individu”. (Tandzimu al-Ijtihad al-jamaiy fi al-‘aalam al-islamy).

Dari keterangan tersebut kita pahami bahwa ijtihad kolektif itu begitu memiliki urgensi besar dalam menyimpulkan hukum syari, dan dia lebih baik daripada ijtihad secara personal/individu.

Di sisi yang lain, untuk orang awam seperti kita, hasil simpulan hukum dari ijtihad secara kolektif ini lebih menentramkan bagi kita untuk diadopsi daripada hasil ijtihad individu. Dan secara kaidah memang demikian yang disebutkan, jika seorang awam menghadapi suatu masalah dan mendapati fatwa yang berbeda-beda dalam perkara itu, satu bilang A, lainnya bilang B, lainnya lagi C, maka salah satu cara untuk memilih fatwa terkuat bagi awam adalah dengan melihat mana kuantitas ulama yang lebih banyak berpendapat dari salah satu pendapat yang ada.

Syaikh Dr Sa’d bin Nashir al-Syatsry mengatakan:

والعامي مطالب باتباع شرع الله، ولا يعرف شرع الله إلا بقول المفتي، فإذا اختلفت عليه أقوال المفتين وجب عليه العمل بما يغلب على ظنه أنه شرع الله سواء غلب على ظنه بوساطة كثرة المفتين بأحد الأقوال، أوبأفضلية القائلين به، أو بالأدلة الشرعية

“Seorang awam dituntut untuk mengikuti syariat Allah, dan ia tak akan mengenal syariat Allah melainkan dengan perantara fatwa seorang mufty. Jika fatwa para mufty ia dapati berbeda-beda, wajib atasnya untuk beramal dengan apa yang dominan dari prasangka kuatnya bahwa salah satu pendapat itulah yang merupakan syariat Allah, entah ia dapatkan dominannya prasangka itu karena sebab banyaknya mufty yang berpegang dengan salah satu pendapat, atau dengan menengok siapa yang paling afdol dari para mufty tersebut, atau dengan perantara dalil syari”. (al-Qawaid al-Ushuliah wa al-Fiqhiyyah al-Muta’alliqah bi al-Muslim Ghair al-Mujtahid hal:26).

Kesimpulannya: ijtihad secara kolektif memiliki urgensi yang begitu besar dalam memecahkan permasalahan-permasalahan kontemporer dan nawazil yang tak putus dan senantiasa baru di tengah umat, dan bagi orang awam seperti kita, fatwa hasil ijtihad secara kolektif itu lebih menentramkan untuk diterima, apalagi jika itu hasil ijtihad kolektif para ulama internasional yang sudah tidak diragukan lagi kepakarannya.

Jadi, ketika kita dapati permasalahan-permasalahan baru yang butuh untuk diketahui hukum syarinya, lebih baik kita mengambil pendapat dari lembaga-lembaga fatwa yang melakukan ijtihad secara kolektif melalui para pakar, terlebih jika lembaga tersebut berlevel internasional. Wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Selasa, 8 Muharram 1443 H/ 17 Agustus 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini

Baca Juga :  Pelaku Pencurian Anak-Anak, Ini Sikap Rasulullah

USTADZ SETIAWAN TUGIYONO, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button