Hukum Vaksin MR (Measles and Rubela)

Hukum Vaksin MR (Measles and Rubela)

Apa Hukum Vaksin MR? Proses pembuatan Vaksin MR terkait bab istihalah dalam fiqih islam. Bagaimana pembahasan tentang hal tersebut? Simak penjelasan berikut ini!

Hukum Vaksin MR (Measles and Rubela)

Tanya Jawab Grup WA Admin Akhwat Bimbingan Islam

Pertanyaan:

Bismillah

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ana mau bertanya tentang hukum vaksin MR yang secara dzatnya haram tetapi dihukumi mubah oleh MUI. Yang menjadi pertanyaan ana apakah pencegahan ini termasuk kondisi darurat yang mengharuskan kita menerjang keharaman atas vaksin ini?

Sedangkan jiwa yang mau divaksin dalam kondisi baik-baik saja. Dan dari pengalaman beberapa orang yang tidak memberikan vaksinasi ke anak-anaknya kondisi mereka pun baik-baik saja, qadarallah.

Mohon pencerahannya ustadz karena ana masih ragu dengan hal ini dan sebentar lagi akan ada jadwal pemberian vaksin MR di tempat tinggal ana.

Jazakumullah khairan

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

(Ditanyakan oleh Admin Bias T08)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Bismillah

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Thoyyib, sebetulnya kalau kaitannya dengan medis bukan bidang ana. Tapi kalau istihalah itu bahasan dasar dalam fiqh, termasuk bab thaharah & makanan.

Singkatnya, Istihalah adalah perubahan dari sesuatu yang najis/haram menjadi sesuatu yang suci/halal. Perubahan di sini adalah perubahan dzat, dan perubahan itu bisa dari sisi kandungannya, cirinya, sifatnya, serta namanya.

Contohnya kulit harimau, sebagaimana kita ketahui bahwa bagian dari hewan yang haram dimakan secara umum dihukumi najis dan tidak boleh dimanfaatkan.

Tapi kulit harimau tadi kalau dijemur, diberi obat, diproses sedemikian rupa dalam rangkaian samak.. Bisa berubah menjadi suci. Boleh dipakai duduk, buat baju, tas, sabuk dll. Hal yang sebelumnya terlarang jadi boleh, inilah Istihalah.

Nah begitu juga enzim dalam vaksin, kalau toh pada awalnya mengandung dzat najis/haram, Namun setelah diproses sedemikian rupa bisa berubah menjadi halal, sebagaimana contoh istihalah diatas.

Apalagi andai dzat yang diduga/mengandung babi itu bukan bahan dasar, tapi “hanya” sebagai katalisator, jelas lebih boleh lagi dipakai. Lha yang bahan bakunya dihukumi najis/haram saja bisa jadi suci, apalagi cuma katalisator.

Diantara penjelasan ulama tentang istihalah ini;

اللَّهُ يُخْرِجُ الطَّيِّبَ مِنْ الْخَبِيثِ وَالْخَبِيثَ مِنْ الطَّيِّبِ، وَلَا عِبْرَةَ بِالْأَصْلِ، بَلْ بِوَصْفِ الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ، وَمِنْ الْمُمْتَنِعِ بَقَاءُ حُكْمِ الْخُبْثِ وَقَدْ زَالَ اسْمُهُ وَوَصْفُهُ،

“Allah itu mampu mengeluarkan benda yang suci dari benda yang najis dan mengeluarkan benda yang najis dari benda yang suci. Dan tolok ukur itu bukan pada benda asalnya, tetapi pada sifatnya yang terkandung pada benda tersebut di akhirnya. Dan tidak boleh menetapkan hukum najis jika telah hilang sifat dan berganti namanya.” (I’lamul muwaqqin ‘an Robbil ‘Alamin, 1/298)

Bijaksana dalam bersikap terhadap Vaksin MR

Namun untuk menerapkan dan membuat semua individu sepaham dengan bahasan istihalah ini bukan perkara mudah, maka kembalikan ke hukum asalnya. Hukum dasar vaksin kan mubah, walau pemerintah ada anjuran dan himbauan tentang itu, tapi tidak bisa ditafsirkan wajib, karena bisa jadi wajib ‘ain atau wajib kifayah. Bahkan tidak sedikit pula yang menentang. Maka tinggal pribadi masing-masing saja, sebagaimana Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

“Tinggalkan yang meragukan bagimu, menuju hal yang tidak meragukan bagimu.” (HR. At-Tirmidzi no. 2442)

Mana yang nyaman bagi anda, pilihlah. Asal jangan bikin suasana jadi tidak nyaman. Semoga Allah senantiasa menjaga kita, keluarga, dan seluruh kaum muslimin.

Wallahu A’lam

Wabillahit taufiq.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Selasa, 22 Muharram 1440H / 2 Oktober 2018M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah, SH.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS)
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS