ArtikelhotMuamalah

Hukum Tebus Murah di Alfamart, Indomart dan Semisalnya, Bolehkah?

Hukum Tebus Murah di Alfamart, Indomart dan Semisalnya, Bolehkah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Hukum Tebus Murah di Alfamart, Indomart dan Semisalnya, Bolehkah? selamat membaca.


Promo tebus murah merupakan promo yang sedang dijalankan oleh merchant atau supplier di Indomaret/Alfamart. Saya yakin Anda pasti pernah ditawarkan promo tebus murah ini oleh kasir Indomaret/Alfamart, kurang lebihnya seperti ini contohnya:

“Karena Bapak sudah berbelanja lebih dari 100 ribu untuk produk Unilover, maka bapak berhak untuk promo tebus murah minyak goreng tropicol satu liter dengan harga 7 ribu saja, apakah bapak berminat?”

Jadi konsep tebus murah itu adalah pembelian bersyarat, yakni pembeli dapat membeli barang yang dipromokan dengan harga murah dengan syarat ia berbelanja terlebih dahulu dengan batas minimal nominal tertentu yang ditetapkan oleh pihak toko, jika pembeli memenuhi syarat tersebut maka ia berhak untuk membeli barang yang dipromokan dengan harga miring, nah apakah demikian diperbolehkan?

1. Bantahan Bagi Yang Mengatakan Transaksi ini Tidak Boleh

Sebagian ustadz ada yang berpendapat bahwa transaksi seperti ini tidak diperkenankan alias haram, beliau berargumen bahwa transaksi ini adalah penggabungan dua akad dalam satu akad transaksi (shafqataini fi shafqah wahidah/bai’ataini fi bai’ah) atau dua kesepakatan dalam satu kesepakatan, yang mana hal ini dilarang oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam beberapa hadist di antaranya:

عن أبي هريرة قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ

Dari Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang dua jual beli dalam satu jual beli.” [HR. Tirmidzi no. 1231, Ahmad no. 9582, 10153; An-Nasa’i no. 4632]

Juga hadist dalam riwayat yang lain:

من باع بيعتين في بيعة فله أوكسهما أو الربا

“Barangsiapa yang menjual dengan dua penjualan dalam satu transaksi, maka baginya harga yang terendah atau riba”. [HR. Abu Dawud no. 3461, Ibnu Hibban no. 4974, Al-Haakim no. 2292]

Para ulama memiliki beberapa tafsiran makna atas larangan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam hadist tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:

1.1. Tafsir Hadits “Larangan Menggabungkan Dua Akad” 

1.1.1. Tafsir Hadits Menurut Imam At-Tirmidzi

Berkata al-Imam al-Tirmidzi:

Baca Juga :  Bulan Shafar Bulan Kesialan dan Bala’, benarkah?

وَقَدْ فَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ أَنْ يَقُولَ أَبِيعُكَ هَذَا الثَّوْبَ بِنَقْدٍ بِعَشَرَةٍ وَبِنَسِيئَةٍ بِعِشْرِينَ وَلَا يُفَارِقُهُ عَلَى أَحَدِ الْبَيْعَيْنِ فَإِذَا فَارَقَهُ عَلَى أَحَدِهِمَا فَلَا بَأْسَ إِذَا كَانَتْ الْعُقْدَةُ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمَا

“Sebagian ulama telah menafsirkannya, mereka berkata bahwa dua akad transaksi dalam satu akad itu misalnya seperti engkau mengatakan: saya jual baju ini padamu dengan kontan harganya 10 tapi kalau tunda (nyicil/kredit) harganya 20, kemudian ia berpisah dengan tanpa memilih salah satu akad yang ada, jika ia berpisah dengan sebelumnya memilih salah satunya maka boleh, boleh jika akadnya atas salah satu dari dua transaksi”. (Jami’ al-Tirmidzi, bab ma jaa fi al-nahyi ‘an bai’atain fi bai’ah juz:2 hal:513)

Menurut tafsiran yang dibawakan oleh al-Imam al-Tirmidzi, bentuk transaksi yang terlarang dalam hadist adalah jika ada seorang menjual barang kemudian menawarkan dua harga kepada calon pembeli, harga kontan misalnya 10 ribu, harga kredit 20 ribu, kemudian konsumen mengatakan sepakat dengan penjual dalam transaksi lantas pergi namun belum memilih harga mana yang ia ridhoi, nah yang demikian ini yang terlarang, dan gambaran ini tidak didapati dalam kasus tebus murah.

1.1.2. Tafsir Hadits Menurut Syaikh bin Baz

Makna kedua yang dipahami oleh ulama dalam hadist di atas adalah jual beli ‘inah/jual beli yang hakikatnya riba, Syaikh Abdul Aziz bin Baz mantan mufty Saudi Arabia dahulu mengatakan:

ومن ذلك أن يبيعه السلعة إلى أجل ثم يشتريها بأقل، وهذه بيعتان في بيعة وهي تسمى العينة (ربا) لا تجوز، يبيعه السلعة مثلًا بمائة، ثم يشتريها بثمانين نقدًا أو ستين نقدًا منه فهذه حيلة على الربا كأنه أعطاه ستين نقدًا حتى يرد عليه مائة مؤجلة، فهذه بيعتان في بيعة وهي من أصول الربا

“Di antara makna dua akad transaksi dalam satu akad adalah seorang menjual produk dengan cara non cash (nyicil) kepada konsumen, kemudian barang tersebut dibeli lagi oleh penjual dengan harga lebih murah cash, inilah dua akad dalam satu akad, dan dinamakan jual beli ‘inah (riba) hukumnya haram, seorang menjual produk dengan harga seratus misalnya, kemudian ia beli lagi dari pembeli seharga 80 kontan, atau 60 cash, ini adalah tipu muslihat pada riba, seakan sama saja ia memberi uang 60 kontan sampai kemudian ia mengembalikannya 100 dengan cara nyicil, inilah dua akad jual beli dalam satu akad, dan ini adalah pokok transaksi riba”. Lihat: https://binbaz.org.sa/fatwas/17942/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%87%D9%8A-%D8%B9%D9%86-%D8%A8%D9%8A%D8%B9%D8%AA%D9%8A%D9%86-%D9%81%D9%8A-%D8%A8%D9%8A%D8%B9%D8%A9

Tafsiran kedua yang dipaparkan oleh ahli ilmu dalam memahami hadist di atas adalah maksudnya larangan jual beli ‘inah, yakni jual beli yang hakikatnya adalah pinjaman uang berbunga, pinjam uang 80 misalnya, kemudian ia bayar tunda/nyicil sebanyak 100, hanya saja transaksinya dibungkus dengan akad jual beli yang mengesankan seakan itu jual beli, padahal hakikatnya adalah transaksi ribawi, dan kalau kita lihat makna seperti ini dalam tebus murah, yang demikian tidak kita dapati.

1.1.3. Tafsir Hadits Menurut Ibnu Qayyim

Makna ketiga yang dipahami oleh para ulama dari hadist larangan melakukan dua transaksi dalam satu akad adalah kedua pelaku mempersyaratkan jual beli dengan jual beli, lebih jelasnya seperti yang disampaikan oleh Ibnu al-Qayyim berikut:

وقيل هو أن يشترطا بيعاً في بيع، وقد فسره بهذا الوجه أيضاً الشافعي، فقال: هو أن يقول: بعتك هذه الفرس بألف على أن تبيعني دارك بكذا، أي إذا وجب لك عندي فقد وجب لي عندك

“Dikatakan salah satu makna hadistnya adalah kedua pelaku transaksi mempersyaratkan sebuah transaksi dengan terlaksananya sebuah transaksi terlebih dahulu, pihak yang menafsirkannya dengan sudut pandang ini adalah al-Syafii, beliau mengatakan: yakni seperti seorang penjual mengatakan saya akan menjual kuda ini padamu dengan harga 1000 tapi syaratnya engkau menjual rumahmu padaku dengan harga sekian, yakni jika berlaku bagimu milikku, maka juga berlaku bagiku milikmu”. Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/112322/%D8%B4%D8%B1%D8%AD-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%87%D9%8A-%D8%B9%D9%86-%D8%A8%D9%8A%D8%B9%D8%AA%D9%8A%D9%86-%D9%81%D9%8A-%D8%A8%D9%8A%D8%B9%D8%A9

Dari pemaknaan ketiga hadist yang kita perbincangkan, makna yang ketiga ini juga tidak berlaku pada gambaran transaksi tebus murah, sehingga sejatinya tidak ada larangan dalam gambaran transaksi tebus murah.


2. Syaikh Al-Utsaimin Pernah Ditanya Kasus Serupa dengan Program Tebus Murah, Beliau Memperbolehkan

Dalam hal ini ada gambaran khusus yang serupa dengan kasus tebus murah yang pernah ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Solih al-Utsaimin, dan beliau memperbolehkannya, beliau tidak memasukkan gambaran transaksi tebus murah pada pemaknaan larangan hadist melakukan dua transaksi dalam satu transaksi, justru beliau memasukkannya pada jual beli bersyarat dengan syarat yang mubah/diperbolehkan.

Pertanyaan:

Berikut ini pertanyaan yang pernah dilontarkan kepada beliau: Bagaimana pandangan syariat terkait penjual yang menjual suatu produk pada Anda dan mempersyaratkan atas Anda untuk melakukan perkara yang lain jika Anda ingin mengambil produk tersebut (produk pertama), dengan melihat karena orang-orang tidak terlalu tertarik dengan jenis produk itu (yang pertama), bagaimana hukum transaksinya, apakah sah? apakah ada dosa ketika membeli produk tersebut?

Jawaban:

Syaikh al-Utsaimin menjawab:

نعم. هذا لا بأس به، أي لا بأس من أن يقول لك البائع: أنا لا أبيع عليك هذه السلعة إلا أن تشتري السلع الأخرى فإن رضيت بذلك فلا حرج؛ لعموم قوله تعالى: ﴿يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود﴾، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: «المسلمين على شروطهم»، ولقوله: «إن أحق الشروط أن توفوا به ما استحللتم به الفروج»، فالأصل في الشروط كالأصل في العقود وهو الإباحة والحل حتى يقوم دليلٌ على المنع

“Iya, yang demikian tidak mengapa, maksudnya tidak mengapa jika penjual mengatakan kepada Anda sebagai konsumen “saya tidak akan menjual pada Anda barang niaga tertentu melainkan Anda harus membeli terlebih dulu barang yang lain”, jika Anda ridho/setuju dengan persyaratan tersebut tidak mengapa, ini berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”. (Al-Maidah:1)

Juga atas dasar sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram”. (H.R Ahmad 2/366, Abu Dâwud no. 3594).

Juga atas dasar sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

أَحَقُّ الشُّرُوطِ أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوجَ

“Syarat yang paling layak untuk dipenuhi adalah apa menyebabkan kemaluannya menjadi halal bagi kalian (syarat dalam pernikahan).” (HR. Bukhari, 2721 dan Muslim, 1418).

Hukum asal terkait syarat sebagaimana hukum asal akad yakni halal dan mubah sampai ada dalil yang melarangnya”. Lihat: https://binothaimeen.net/content/9134


3. Kesimpulan

Kesimpulannya adalah program promo tebus murah yang dilakukan oleh beberapa toko retail atau merchant dan semisalnya adalah halal dan boleh, dan bukan termasuk dalam makna larangan hadist menggabungkan dua akad dalam satu akad, justru hal tersebut adalah termasuk jual beli dengan akad bersyarat yang masih diperbolehkan oleh syariat sebagaimana paparan dari Syaikh Muhammad bin Solih al-Utsaimin, jadi silakan masyarakat bisa memanfaatkan promo tersebut dan tidak perlu ragu, demikian sedikit paparan dari kami, wallahu a’lam bis showab.


Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Rabu, 5 Rabiul Akhir 1443 H/ 10 November 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button