Hukum Share Foto Korban Meninggal Untuk Penggalangan Donasi bimbingan islam
Hukum Share Foto Korban Meninggal Untuk Penggalangan Donasi bimbingan islam

Hukum Share Foto Korban Meninggal Untuk Penggalangan Donasi

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum share foto korban meninggal untuk penggalangan donasi.
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ijin bertanya ustadz.
Bolehkah share/posting artikel, foto-foto tentang kekejaman dan pembantaian muslim di uighur yang tersebar di medsos akhir akhir ini. Dan bagaimana sikap kita dengan postingan tersebut?

Jazaakallohu khayran ustadz

(Disampaikan oleh Fulanah,Sahabat BiAS G09)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyatuhal Akhawat baarakallah fiikunna.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan arahan kepada umatnya, bagaimana cara bersikap ketika melihat saudara mereka sedang tertimpa musibah atau ujian dalam sebuah hadits :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpaan seorang mukmin dalam kasih sayang terhadap saudaranya ibarat satu tubuh. Apabila salah satu bagian mengerang kesakitan, maka yang lain pun turut merasakan demam dan tidak bisa tidur”
(HR. Muslim, no. 2586).

Akan tetapi, penting bagi seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala di dalam menghadapi sebuah masalah atau persoalan di dunia ini, melihat  kaidah agung dan berharga dalam Islam,

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Mencegah mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada meraih maslahat”.

Berdasarkan kaidah ini, maka mencegah rusaknya hak privasi dan kehormatan korban, sehingga kekejaman dan pembantaian muslim oleh mereka para pendosa dan kaum durjana lebih didahulukan (untuk tidak disebarkan di dunia maya atau media sosial) daripada memberikan pelajaran bagi orang lain dengan menyebarkan foto-foto korban.
Hal ini ditinjau dari beberapa sisi kerusakan :

Baca:  Bolehkah Walimah Khitan?

1. Menyebarkan ketakutan dan kekhawatiran ke dalam hati-hati kaum Muslimin akibat gambar-gambar sadis yang mereka lihat. Padahal  hal ini terlarang dalam Islam.
Sebab ketika mereka menyaksikan pembunuhan, penghancuran, penyiksaan dan teriakan kesakitan serta rintihan para korban di mana-mana, hati mereka yang lemah akan semakin takut dan nyali mereka semakin ciut di dalam menghadapi segala persoalan di dunia ini, tak terkecuali tentang penyiksaan dan pembataian tersebut.

2. Hilangnya kehormatan dan harga diri seorang muslim, dimana pada sebagian gambar tersebut menampakkan aurat yang tidak boleh diekspos, baik itu gambar anak-anak, maupun dewasa, baik pria maupun wanita.

3. Gambar-gambar seperti itu menciptakan opini tentang kekuatan musuh (mereka para penyembah berhala dan kaum yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala), dan kesadisan mereka.
Seakan-akan mereka adalah pasukan yang tak terkalahkan, dan sedang menyampaikan pesan tersirat kepada kita, bahwa “Bila kalian tidak menuruti kemauan kami, maka seperti inilah nasib kalian!!” dan seolah-olah menunjukkan kelemahan kita sebagai seorang muslim.

4. Menyebabkan jatuhnya mental kaum Muslimin, sehingga nyali mereka menjadi ciut dan hilanglah wibawa kemuliannya sebagai orang yang berpegang teguh dengan Islam.

Baca:  Status Gaji PNS Bolos Kerja

5. Gambar-gambar tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak yang jahat, karena gambar memberikan efek tersendiri untuk merubah keyakinan seseorang.
Seperti kaum-kaum ‘Ekstrimis pemberontak mengatasnamakan agama’ yang memropagandakan kesesatan mereka dengan dalih membela para korban, lalu merekrut para pemuda lugu semangat buta yang termakan emosinya untuk menjadi pengikut mereka, dan berprilaku anarkis lagi merusak sembari berkoar-koar tak terarah.

6. Gambar-gambar tersebut menunjukkan betapa murahnya darah kaum Muslimin dan betapa terjajahnya umat ini, sehingga lambat laun sering menyaksikan gambar tersebut, sensitivitas seseorang akan berkurang, sehingga menjadi ‘kebal’ terhadap sadisme dan pemandangan berdarah semisalnya.
Sehingga tidak menutup kemungkinan ia nantinya menjadi pelaku sadisme tersebut, baik kepada pihak yang memang halal ditumpahkan darahnya, atau kepada kaum Muslimin yang berseberangan dengan kelompoknya, seperti yang kita saksikan dan dengar sekarang ini.

Sebagaimana telah datang jawaban dari seorang alim di zaman ini Syaikh Shaleh Al Fauzan hafizhahullahu ketika beliau ditanya (artinya):
Bagaimana dengan menyebarkan gambar/foto dalam rangka menghasung kaum Muslimin untuk memberikan donasi bagi para korban??

Jawaban beliau :
CARA INI TIDAK LAYAK, dan gambar/foto korban-korban yang terluka TIDAK BOLEH dijadikan media untuk meraih simpati para donatur.
Namun cukuplah kaum Muslimin kita hasung melalui ceramah, khutbah, atau tulisan, agar memberikan uluran kepada saudara mereka yang tertimpa musibah. Dengan menyampaikan kabar, bahwa saudara mereka sedang ditimpa kesulitan, dan ditindas oleh musuhnya sedemikian rupa, tanpa menampilkan foto mereka, atau foto korban yang terluka.
Karena menarik simpati melalui gambar-gambar yang diekspos adalah cara-cara yang kita TIDAK DIPERINTAHKAN oleh Allah untuk melakukannya (takalluf).

Baca:  Hukum Makan Dan Minum di Majelis Ilmu

Di samping itu, gambar-gambar tersebut bisa melemahkan kekuatan kaum Muslimin. Sebab saat kita melihat korban Muslim yang dimutilasi, atau tercabik-cabik tubuhnya di muka umum, maka hal ini menimbulkan ketakutan pada diri kaum Muslimin lainnya terhadap perilaku musuh. Padahal seharusnya kaum Muslimin tidak menampakkan sikap lemah di hadapan musuhnya, dan menyembunyikan luka-luka mereka dari musuhnya, sehingga mereka tetap kelihatan ‘kuat’.
Demikian saduran dari intisari jawaban Asy Syaikh Al ‘Allaamah Shalih Al Fauzan, dalam Al Ijaabaat Al Muhimmah (2/105).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Jumat, 23 Rabiul Akhir 1441 H/ 20 Desember 2019 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini