Hukum Penulis Lepas yang Mendapat Pemasukan dari Internet

Hukum Penulis Lepas yang Mendapat Pemasukan dari Internet bimbingan islam
Hukum Penulis Lepas yang Mendapat Pemasukan dari Internet bimbingan islam

Hukum Penulis Lepas yang Mendapat Pemasukan dari Internet

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bagaimana hukum penulis lepas yang mendapat pemasukan dari internet.
Silahkan membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga,

Mau tanya, apakah bekerja sebagai penulis itu halal atau Haram?

Bukan blogger, tetapi penulis freelance (penulis lepas). Bila artikel penulis bisa dibaca 1000x, maka dapat bayaran sejumlah uang. Apakah itu boleh?
Sementara si penulis tidak tau gaji yang didapat darimana. Dia hanya setor tulisan agar dibaca tapi uang gajinya tidak tau darimana, entah dari iklan atau darimana.

Artikel yang ditulis adalah realita, seperti contoh “pacaran dalam pandangan islam dan realitanya”, atau 5 tempat menarik di  suatu kota, atau macam-macam bagian dalam perusahaan percetakan.

Kemudian artikel dikirim disuatu provider di Google, dan setiap 1000 pembaca mendapat sejumlah uang. Tetapi tidak tau uang dari mana gaji nya. Yang jelas hanya setor artikel saja. Bagaimana hukumnya ?

Jazaakallaahu Khoyron

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat Bias  T08 G38)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal  Ikhwan wal Akhwat baarakallah fiikum Ajma’in.

Hukum asal muamalah adalah boleh, termasuk transaksi jual beli artikel, sama saja itu artikel islami atau selainnya, selama tidak terdapat pelanggaran syariat dalam artikel tersebut, maka sah-sah saja. Sebagaimana kaidah mengatakan

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ

“Hukum asal sesuatu itu (permasalahan dunia) mubah (boleh)”

Adapun ibahah (boleh) di atas secara etimologi berarti menampakkan, mengumumkan, melepaskan dan mengizinkan. Adapun definisi ibahah secara istilah adalah sesuatu yang Allah berikan pilihan untuk mengerjakannya atau meninggalkannya.

Adapun makna kaidah di atas secara keseluruhan yaitu :
Setiap sesuatu yang ada di muka bumi diperbolehkan bagi manusia untuk memanfaatkannya. Baik memanfaatkannya dengan cara memakan, meminum, mentransaksikan, atau pemanfaatan lainnya yang tidak menimbulkan bahaya untuk dirinya dan orang lain. Seluruhnya termasuk dalam kaidah ini kecuali terdapat nash yang secara khusus atau isyarat nash yang menyatakan sebaliknya. Karena sesuatu yang telah ada nashnya (baca; dalil tegas) secara khusus, tidak dibutuhkan kaidah ini untuk menghukuminya.
(lihat pembahasan Kitab Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, hal. 128).

Seorang penulis untuk menghasilkan sebuah tulisan dalam bidang keislaman menghabiskan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, dia harus membaca berbagai macam buku dari referensi yang berbeda-beda, bertanya kepada para pakar dan ahli, bahkan terkadang harus melakukan rihlah (perjalanan) dari satu negeri ke negeri yang lain, bahkan lebih banyak dibandingkan mengajar Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman.

Maka, sebagaimana dibolehkan mengambil upah atas mengajarkan Al-Quran, demikian juga halnya mengambil upah atas hak cipta atas tulisannya. Misalkan sebagian ulama terdahulu juga ada yang menjual buku-bukunya, seperti Al Hafizh Abu Nu’aim Al Ashbahani (336 – 430 H.) rahimahullah menjual bukunya yang berjudul Hilyatul Auliya’ di Naisabur dengan harga 400 keping uang dinar (sekitar 1,7 kg emas murni). Harga sebegitu mahal tidak mungkin imbalan pengganti kertas dan tinta.

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani (773 – 852 H.) rahimahullah menjual salah satu bukunya yang dibeli oleh raja Athraf seharga 300 keping uang dinar (sekitar 1,3 kg emas murni). Harga ini juga sebagai imbalan hak cipta dan bukannya pengganti kertas dan tinta.

Walaupun demikian, jika seseorang ingin mengikhlaskan usahanya dalam penulisan buku, tidak menjual hak ciptanya, dihibahkan kepada seluruh kaum Muslimin. Dan tradisi ini juga diteruskan oleh sebagian para ulama kontemporer dengan mencantumkan pada halaman depan buku karya mereka “Buku ini boleh diperbanyak untuk dibagikan cuma-cuma (bukan untuk komersial) atau “Hak cipta buku ini untuk setiap Muslim”.
Maka ini adalah sebuah keutamaan yang besar, dan Allah Yang Maha Tahu akan membalasnya kelak di hari kiamat dengan ganjaran yang sempurna.

Berkata Dr. Bakr Abu Zaid rahimahullah, ‘Dan tidak seorang pun ulama yang mengingkari penjualan buku karya tulis tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ‘urf yang berlaku sejak zaman dahulu hingga sekarang bahwa hak penulisan buku adalah milik penulis yang boleh diganti dengan uang.’
(lihat Fiqh An Nawazil, 2/173 dengan beberapa penyesuaian).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 10 Jumadal Akhirah 1441 H/ 04 Februari 2019 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini