Hukum Pengangkatan Rahim Dalam Islam

Hukum Pengangkatan Rahim Dalam Islam

Hukum Pengangkatan Rahim Dalam Islam

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz,

Ada seseorang yang divonis menderita kista dan miom oleh dokter kemudian dokter menyarankan untuk diangkat dengan rahimnya karena katanya jika di angkat miomnya saja ada kemungkinan miom tersebut tumbuh kembali dan harus dilakukan operasi lagi. Apakah menurut agama diperbolehkan melakukannya (mengangkat rahim) ?

Mohon pencerahannya Ustadz agar tidak salah mengambil sikap yang dilarang agama.

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

( Disampaikan oleh Fulanah Sahabat BiAS T09 G-31)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Yang pertama harus kita fahami bahwa proses operasi atau pembedahan harus didasarkan pada kaidah-kaidah agama, disebutkan dalam salah satu fatwa :

فالحكم بجواز الجراحات الطبية عموماً مقيد بشروط أشار إليها الفقهاء وهي مستقاة من أصول الشرع وقواعده، منها أن تكون الجراحة مشروعة فلا يجوز للمريض أن يطلب فعل الجراحة، ولا للطبيب أن يجبيبه إلا بعد أن تكون تلك الجراحة مأذوناً بفعلها شرعاً، لأن الجسد ملك لله فلا يجوز للإنسان أن يتصرف فيه إلا بإذن المالك الحقيقي.

“Hukum akan bolehnya pembedahan medis secara umum terikat dengan syarat-syarat yang diisyaratkan oleh para Fuqoha’ dan itu terambil dari prinsip syariat serta kaidah syariat.

Diantara syaratnya hendaknya pembedahan medis tersebut diizinkan oleh syariat bukan atas permintaan pasien, tidak boleh pula bagi dokter untuk memenuhi permintaan tersebut kecuali jika telah diizinkan oleh syariat.

Karena jasad manusia itu milik Allah ta’ala, sehingga tidak boleh bagi manusia memperlakukan jasad sekehendak hatinya kecuali harus seizin pemilik jasad yang hakiki.”
(Fatawa IslamWeb no. 122544).

Yang kedua tentang definisi pengangkatan rahim disebutkan dalam wikipedia versi arabic sekilas tentang definisi ringkas pembedahan ini :

استئصال الرحم (بالإنجليزية: Hysterectomy)

هو إجراء جراحي يتم فيه عملية جراحية لإزالة الرحم، تُجرى عادة على يد طبيب نساء. وقد تشمل إزالة الرحم في العديد من الأحيان إزالة عنق الرحم، المبيضان، قناتا فالوب، وبعض المباني المُحيطة.

“Isti’sholur Rahmi atau dalam bahasa Inggrisnya Hysterectomy, adalah sebuah tindakan medis berupa pengangkatan rahim. Biasanya dilakukan oleh dokter wanita, pada beberapa kondisi proses ini disertai adanya proses pemotongan leher rahim, Mubayyidhon (organ penghasil sel telur), dan organ Fallopian tube serta sebagian organ lain yang ada di sekitarnya.”
(Sumber arabic wikipedia bagian isti’sholur rahmi).

Yang ketiga para ulama telah menjelaskan berdasarkan dalil serta kaidah syariat yang ada tentang bagaimana dan kapan pembedahan medis dan secara khusus pengangkatan rahim boleh dilakukan.

Diantaranya Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz menjelaskan hukum proses pengangkatan rahim ini beliau berkata :

إذا كان هناك ضرورة فلا بأس، وإلا فالواجب تركه؛ لأن الشارع يحبذ النسل ويدعو إلى أسبابه لتكثير الأمة، لكن إذا كان هناك ضرورة فلا بأس، كما يجوز تعاطي أسباب منع الحمل مؤقتا للمصلحة الشرعية

“Apabila di sana ada kondisi darurat maka tidak mengapa, jika tidak darurat maka wajib ditinggalkan perbuatan itu. Karena Sang Pembuat syariat memuji keturunan dan menyeru untuk menempuh cara dalam rangka untuk memperbanyak jumlah umat. Akan tetapi jika di sana ada kondisi darurat maka tidak mengapa, sebagaimana pula boleh mengkonsumsi obat pencegah hamil dalam kurun waktu tertentu demi untuk mewujudkan maslahat syar’iyyah.”
(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 3445).

Apabila para dokter sudah sepakat bahwa pasien tersebut jika tidak menjalani pengangkatan rahim, akan tertimpa madharat yang membahayakn diri. Maka tidak mengapa baginya untuk menempuh tindakan tersebut. Kami menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter spesialis yang benar-benar ahli dalam masalah tersebut, dan akan lebih baik lagi jika jumlah dokternya lebih dari satu orang dokter. Sebagai bentuk kehati-hatian.

 

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
Kamis, 8 Dzulqodah 1440 H / 11 Juli 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS