Muamalah

Hukum Menyimpan Dana Darurat (Menabung)

Hukum Menyimpan Dana Darurat (Menabung)

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Hukum Menyimpan Dana Darurat (Menabung), selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Afwan ustadz mau tanya, bolehkah menyiapkan dana darurat sebagai bekal jika suatu saat terjadi bencana (alam, misalnya)?

Syukran. Jazakallahu khairan.

(Dari Fulan Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Boleh menyiapkan dana darurat untuk pribadi dan keluarga alias menabung, dan ini tidak menjadi masalah. Dan lebih baik lagi, jika menabungnya tidak di bank, asuransi, deposit dan yang semisalnya yang terindikasi secara nyata dan samar masih menggunakan transaksi riba. Lebih baik Anda menabungnya secara manual, bila dirasa cukup aman. Dengan catatan, tetap dikeluarkan zakatnya, jika dana tersebut sampai nishab dan haul.

Baca Juga :  Hukum Menerima Beasiswa Bidikmisi

Dalam sebuah riwayat;

فَكَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يَعْزِلُ نَفَقَةَ أهلِهِ سَنَةً

Rasulullah menyimpan makanan untuk kebutuhan keluarga selama setahun.” (HR. Bukhari, no 2904 dan Muslim, no 1757).

Dan kita tahu bahwa makanan itu juga bentuk harta, dan boleh disimpan untuk kebutuhan darurat, bukan untuk penimbunan barang di saat bahan makanan langka.

Syaikh Abdullah alu Bassam rahimahullah ketika menjelaskan kandungan hadits di atas (artinya), “Bolehnya menyimpan bahan makanan dan hal tersebut tidaklah bertentangan dengan tawakkal kepada Allah Ta’ala, karena Nabi yang merupakan manusia paling hebat dalam masalah tawakkal saja menyimpan bahan makanan untuk persediaan kebutuhan keluarganya” (Taisir Allam Syarh Umdatul Ahkam, 2/558).

Sedangkan menurut Prof. Dr. Sa’ad as Syatsri ketika membahas faedah hadits ini, beliau memberikan catatan berharga (artinya), “Hadits di atas menunjukkan bolehnya menyimpan kebutuhan nafkah selama setahun dan hal tersebut tidaklah tergolong menghambur-hamburkan harta atau simpanan harta yang tercela.” (Syarh Umdatul Ahkam, 2/898).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 25 Rabiul Akhir 1443 H/1 Desember 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button