Muamalah

Hukum Menulis Cerita Fiksi Dalam Pandangan Islam

Mahad Bimbingan Islam (BIAS) belajar Islam terstruktur

Hukum Menulis Cerita Fiksi Dalam Pandangan Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan mengenai hukum menulis cerita fiksi dalam pandangan Islam. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya mau bertanya apakah boleh bagi kita menulis cerita fiksi seperti novel dan semacamnya? Terima kasih, barakallahu fiikum.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS melalui Grup WA)


Jawaban:

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Cerita fiksi yang menanamkan akhlaq, budi pekerti atau nilai nilai islami lainnya maka ada silang pendapat di kalangan ‘ulama, dan sejauh pengamatan kami belum ada yang mengharamkan secara mutlak dari ‘ulama jika tujuannya untuk penanaman akhlaq, dan tidak membawa efek negatif terhadap syari’at bagi pembaca.

Daftar Grup WA Bimbingan Islam Gratis

Ada sebagian ‘ulama yang memakruhkan, ada pula ‘ulama yang membolehkan. Yang membolehkan berhujjah dengan hadits tatkala Rasulullah () mempersilahkan para sahabatnya untuk menyampaikan kisah-kisah Bani Israil.

Beliau () bersabda dalam haditsnya;

حدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج”

Sampaikanlah cerita-cerita yang berasal dari Bani Israil dan itu tidaklah mengapa” [HR Abu Daud 3177]

Bahkan dalam riwayat Ahmad, yang dishahihkan Al-Albani disebutkan dengan tambahan kandungan yang menarik;

فإنه كانت فيهم الأعاجيب (رقم 2926 – المجلد الثاني – القسم الثاني )

Karena sesungguhnya dalam cerita-cerita itu (Bani Israil) terkandung cerita-cerita yang menarik” [Silsilah Ash-Shohihah 2926]

Dan sebagaimana yang kita ketahui bahwa cerita dari Bani Israil tidaklah semuanya benar, namun para ulama mengatakan bahwa hadits di atas menunjukkan bolehnya mendengarkan cerita-cerita Bani Israil yang menarik sekadar untuk hiburan, bukan untuk berdalil atau hujjah.

Dalam artian hanya untuk refreshing, menghilangkan penat atau kegundahan hati, bukan sebagai dalil dan alasan untuk beramal.

Khusus perempuan, apakah kamu tahu Akademi Shalihah (AISHAH) Online?

Hadits di atas juga disimpulkan oleh sebagian ulama untuk menunjukkan bolehnya mendengar atau membaca cerita-cerita yang unik dan menarik dengan tujuan hiburan dengan syarat cerita tersebut belum pasti kebohongannya.

Sedangkan jika cerita tersebut sudah pasti kebohongannya maka boleh diceritakan jika tujuannya untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat-sifat positif seperti adil, berani dan bertanggung jawab, baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan asalkan semua orang yang membacanya pasti faham bahwa cerita tersebut hanya sekadar imajinasi atau karangan semata. Inilah pendapat Ibnu Hajar al-Haitaimi, seorang ulama syafi’iyyah.

Syeikh Utsaimin rahimahullah ketika ditanya perihal orang-orang yang intens dalam masalah adab menulis sebuah buku dengan bahasa memukau yang mampu menggugah para pembaca, dan di dalamnya terdapat cerita-cerita khayalan atau fiksi, maka beliau pun menjawab;

لا بأس بذلك إذا كان يعالج مشاكل دينية أو خُلقية أو اجتماعية ، لأن ضرب الأمثال بقصص مفروضة غيرواقعة لا بأس به ، حتى أن بعض العلماء ذكر ذلك في بعض أمثلة القرآن الكريم أنها ليست واقعة لكن الله ضربها مثلا ، مثل قوله : ” ضرب الله مثلا رجلين أحدهما أبكم لا يقدر على شيء وهو كلّ على مولاه أينما يوجّهه لا يأت

بخير هل يستوي هو من يأمر بالعدل وهوعلى صراط مستقيم “. ] فتاوى نور على الدرب (الحلقة (716)]

Tidak mengapa dengan itu jika dapat menyembuhkan berbagai permasalahan agama, akhlaq, ataupun kemasyarakatan. Sebab menyampaikan permisalan dengan kisah-kisah yang tak nyata tidak mengapa, boleh. Bahkan sebagian ulama menyampaikan dengan beberapa permisalan yang disampaikan Al-Quran itu tidaklah nyata, hanya sebuah permisalan dari Allah.

Seperti dalam firman-Nya;

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ أَيۡنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأۡتِ بِخَيۡرٍ هَلۡ يَسۡتَوِي هُوَ وَمَن يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ

Dan Allah pun membuat perumpamaan, dua orang lelaki, salah satunya bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?” (QS An-Nahl 76)

Syeikh Ibnu Jibrin rahimahullah pun menjawab dengan jawaban yang senada, ketika ditanya tentang teks bacaan dalam buku pelajaran ta’bir yang mayoritasnya adalah cerita fiksi

إذا عرف الحاضرون أنها قصص خيالية ابتكرها الكاتب، أو القاص لشحذ أذهان الطلاب واجتذاب أفهامهم وضرب الأمثلة لهم فلا بأس بها فقد أقر العلماء القصص المؤلفة كما في مقامات بديع الزمان الهمذاني ومقامات الحريري ونحوها..

Beliau mengatakan, “Jika para hadirin mengetahui bahwa kisah tersebut adalah fiksi yang dibuat oleh penulis atau pendongeng, dengan tujuan menarik perhatian dan pemahaman para hadirin atau sebagai permisalan maka hukumnya adalah tidak mengapa. Karena para ulama pun telah menetapkan bolehnya cerita fiksi seperti yang terdapat dalam buku Maqamat karya Badiuz Zaman Al-Hamdzani dan Maqamat karya Al-Hariri, serta buku-buku semisalnya..”

Namun beliau juga memberikan nasihat pada akhir penjelasannya tentang keutamaan mengambil ibrah dari kisah nyata;

مع أنه يُفضل أن يبحث عن قصص واقعية يصوغها بعبارته ويظهر ما فيها من المعاني والفوائد

“Walaupun yang lebih baik adalah mencari cerita-cerita nyata yang disampaikan dengan bahasa sendiri, kemudian disampaikan pesan atau faidah yang terkandung di balik cerita tersebut”.

Dari pemaparan di atas, baik itu hadits ataupun perkataan ‘ulama, kami dapat simpulkan bahwa tidaklah terlarang untuk membaca ataupun menulis buku cerita fiksi (inilah yang kami sebut dengan tinjauan umum), namun dengan 4 syarat berikut ini;

a. Semua orang yang membacanya paham dan sadar bahwa cerita itu hanyalah fiksi.

b. Tujuan penulisan cerita itu adalah niat yang baik, penanaman akhlak mulia seperti; adil, berani, tanggung jawab, dan lain-lain.

c. Bukan sebagai dalil atau hujjah.

d. Bukan cerita birahi untuk membangkitkan syahwat atau seni sihir dan kesyirikan yang dapat merusak aqidah

Adapun tinjauan khusus yakni dari sisi efek bagi orang yang menekuninya, hukumnya pun berbeda-beda, selain poin yang disebutkan di atas, jika kegiatan membaca atau menulis kisah fiksi ini justru membuat seseorang lalai dari perkara yang hukumnya wajib, maka kegiatan ini hukumnya haram.

Dan jika kegiatan menulis atau membaca ini melalaikan seseorang dari perkara yang hukumnya sunnah maka kegiatan ini hukumnya makruh. Karena termasuk bisikan syeitan adalah membuat seseorang mudah meninggalkan yang sunnah dan lebih memilih yang mubah, bahkan makruh. Wal’iyyadzubillah.

Dan berkenaan tentang hisab, tentu saja semua yang kita lakukan akan dihisab oleh Allah, tidak terkecuali menulis cerita fiksi, sebagus dan semulia apa pun isinya tak kan ada yang luput dari hisab-Nya.

Sebagaimana tercantum di beberapa tempat dalam firmanNya;

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ – وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula”. (QS Al-Zalzalah 7-8)

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ – ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

“Sesungguhnya kepada Kamilah mereka akan kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka”. (QS. Al-Ghasyiyah 25-26)

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan sejatinya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al-Mujaadilah 6)

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yaasin 65)

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sejatinya Allah amat cepat hisabnya.” (QS Al-Mu’min 17)

Karenanya saudaraku, mari kita isi hidup kita dan juga amal perbuatan kita, dengan amalan-amalan terbaik yang mampu kita lakukan.

Berani meninggalkan yang baik untuk mendapatkan yang lebih baik. Tidak mencukupkan dengan yang baik, jika ada sesuatu yang lebih baik. Wallahu Ta’ala A’lam.

Baca juga: Hukum Berprofesi Sebagai Penulis Fiksi Islam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag.
حفظه الله
Selasa, 4 Muharram 1443 H/ 2 Agustus 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik di sini

Baca Juga:  Bolehkah Membagi Tanah Warisan Sebelum Meninggal?
Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button