Hukum Menjual Jasa Perawatan Jenazah

Hukum Menjual Jasa Perawatan Jenazah

Hukum Menjual Jasa Perawatan Jenazah

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya ingin bertanya Ustadz..
Bagaimana hukum pekerjaan yang menjual jasa perawatan jenazah ? Tidak hanya jenazah muslim, namun juga melayani jenazah non-muslim seperti :
Memberikan formalin, menyediakan jas/pakaian untuk yang non muslim, peti kematian.
Mohon penjelasannya Ustadz..

جَزَاكَ الله خَيْرًا

(Fulanah, SAHABAT BiAS T07 G-64)

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillah

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Yang pertama..
Tidak mengapa menerima upah dari aktifitas merawat jenazah asalkan tidak mematok tarif tertentu. Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala berkata :

إذا كانت هذه الأجرة أو هذا العطاء بدون شرط فلا شك في جوازه ولا حرج فيه ؛ لأنه وقع مكافأة لهذا الغاسل المكفن على عمله ، وقد قال النبي عليه الصلاة والسلام : (من صنع إليكم معروفاً فكافئوه) .

“Jika upah ini diberikan dengan tanpa dipersyaratkan (dipatok tarif) maka tiada keraguan akan bolehnya hal tersebut. Karena itu menjadi mukafa’ah (balas budi) bagi si perawat jenazah atas amalnya. Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa berbuat baik kepadamu maka balas budilah kepadanya.’

أما إذا كانت هذه الأجرة مشروطة فإنها بلا شك تنقص أجر الغاسل المكفن ؛ لأن الغاسل المكفن ينال أجراً كبيراً ؛ لأن تغسيل الميت وتكفينه من فروض الكفاية ؛ فيحصل للغاسل والمكفن أجر فرض الكفاية . لكن إذا أخذ على ذلك أجرة فإن أجره سوف ينقص ، ولا حرج عليه إذا أخذ أجرة على هذا ؛ لأن هذه الأجرة تكون في مقابل العمل المتعدي للغير ، والعمل المتعدي للغير يجوز أخذ الأجرة عليه ، كما جاز أخذ الأجرة على تعليم القرآن على القول الصحيح

“Adapun jika upah ini dipasang tarif maka tidak diragukan bahwa hal tersebut mengurangi pahala si perawat jenazah. Perawat jenazah itu mendapatkan pahala besar karena memandikan dan mengkafani jenazah hukumnya fardhu kifayah maka pelakunya mendapatkan pahala fardhu kifayah. Akan tetapi ketika ia mematok tarif maka akan berkurang pahalanya.

Tapi tidak mengapa jika ia mengambil upah dalam hal ini. Karena upah ini menjadi pengganti bagi perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain. Perbuatan yang membawa kebaikan bagi orang lain boleh hukumnya mengambil upah sebagaimana boleh pula mengambil upah dari megajarkan Al-Qur’an menurut pendapat yang shahih.” (Fatawa Nurun Alad Darbi : 7/36).

Yang kedua..
Tidak boleh seorang muslim membantu perawatan jenazah orang kafir kecuali jika memang tidak ada orang lain sama sekali yang mengurusnya.

Para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daimah atau komisi fatwa kerajaan Saudi menyatakan :

إذا وجد من الكفار من يقوم بدفن موتاهم فليس للمسلمين أن يتولوا دفنهم ، ولا أن يشاركوا الكفار ويعاونوهم في دفنهم ، أو يجاملوهم في تشييع جنائزهم ؛ عملاً بالتقاليد السياسية ، فإن ذلك لم يعرف عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا عن الخلفاء الراشدين ، بل نهى الله رسوله صلى الله عليه وسلم أن يقوم على قبر عبد الله بن أُبَي بن سلول ، وعلل ذلك بكفره ، قال تعالى : ( ولا تصل على أحد منهم مات أبداً ولا تقم على قبره إنهم كفروا بالله ورسوله وماتوا وهم فاسقون ) التوبة 81 ، وأما إذا لم يوجد منهم من يدفنه دفنه المسلمون كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم بقتلى بدر، وبعمه أبي طالب لما توفي قال لعلي : ( اذهب فواره ) .
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

Apabila ada dari kalangan orang kafir yang telah melaksanakan penguburan mayatnya, maka tidak boleh bagi muslimin untuk bertanggung jawab atas penguburan mereka dan tidak turut serta dan tolong menolong bersama orang-orang kafir di dalam menguburkan jenazah tersebut. Atau menemani mereka di dalam mengantarkan jenazah disebabkan mengamalkan kepatuhan terkait politik.

Maka sesungguhnya hal tersebut tidak diketahui (asalnya) dari Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tidak pula dari KhulafaurRasyidin. Bahkan Allāh melarang Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdiri di atas Kubur Abdullah bin Ubay Bin Salul, Allāh mengabarkan sebab larangan tersebut adalah karena

kekafirannya.
Allāh Subhanhu wa Ta’ālā berfirman :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allāh dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.” (QS. At-Taubah : 84)

Dan adapun apabila tidak ditemukan dari kalangan orang kafir yang menguburkannya, maka Kaum Muslimin yang menguburkannya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada korban orang badar (dari pihak kafir) dan juga ketika pamannya Abu Thalib wafat, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepada Ali Rhadiyallahu ‘anhu : “Pergilah, kuburkan dia !.”

Wabillahi taufiq, Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam berserta keluarga dan para sahabatnya (Fatawa Lajnah Da’imah no. 2612).

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله

Tanya Jawab
Tanya Jawab Grup WA Bimbingan Islam T07
Senin, 12 Muharram 1439 H / 02 Oktober 2017 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS