FiqihKonsultasi

Hukum Mengenai Hewan Hewan Buas

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Hukum Mengenai Hewan Hewan Buas

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum Mengenai Hewan Hewan Buas, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan izin bertanya terkait benda najis yaitu bangkai dan binatang buas. Makna dari najis sepenuhnya apakah berarti kalau tersentuh binatang buas atau bangkai baik itu bulunya saja juga sudah terhitung terkena najis? Ataukah maknanya kotoran dan darah dari bangkai atau binatang buas tersebut. Mohon pencerahannya ustadz.

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Adapun kenajisan bangkai, para ulama membaginya menjadi beberapa pembahasan,

1.Dagingnya.
Daging dari bangkai hukumnya najis. Dalilnya :

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang disembelih atas nama selain Allah“. [Al An’am/6:145]

Diayat ini disebutkan bahwa bangkai termasuk ‘rijsun’ yaitu kotor. Dan kata ‘rijsun’ bermakna najis. Maka bangkai termasuk najis, begitupula dagingnya.

Bahkan Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd, Ibnu Qudamah, dan Imam Nawawi menukilkan bahwa telah terjadi ijma’ tentang najisnya daging bengkai.

2.Kulitnya.
Kulit bangkai pada asalnya adalah najis berdasarkan pendapat dari madzhab yang empat, bahkan di katakan telah ada ijma’ mengenai hal ini. Dalilnya adalah keumuman ayat diatas. Dan kulitnya bisa menjadi suci jika di samak.

عَنِ ابنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عنهما قال: سمعتُ رسولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يقول: [1]

Dari Ibnu Abbas beliau berkata : aku mendengar Rasulullah bersabda : ( jika kulit telah disamak maka menjadi suci ). (HR. Muslim)

3.Tulangnya, tanduknya dan kukunya.
Mayoritas ulama yang terdiri dari madzhab maliki, syafi’i dan hambali mengatakan bahwa tulang, tanduk, dan kuku dari hewan yang telah menjadi bangkai hukumnya najis. Dalilnya keumuman ayat diatas.

4.Rambut, bulu, wol dari hewan yang halal dimakan.
Mayoritas ulama mengatakan hukumnya suci. Dalilnya

وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

Dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)”. [An-Nahl/16:80]

5.Bagian tubuh yang dipotong ketika masih hidup.
Dan yang termasuk kategori bangkai adalah bagian tubuh hewan yang dipotong ketika hewannya masih hidup. Contoh tangannya, kakinya, telinganya, dan lain-lain. Hukumnya adalah najis berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama).

6.Bagian tubuh yang terpisah dari hewan yang halal dimakan dan tidak menimbulkan adanya darah. Contoh bulu, rambut, wol. Maka hukumnya suci. Berdasarkan keumuman surat An Nahl diatas.

Adapun kenajisan hewan buas maka para ulama berbeda pendapat,

1.Madzhab Maliki : Seluruh hewan hukumnya suci selama dalam keadaan hidup.
2.Madzhab Hanafi : Seluruh hewan suci kecuali babi.
3.Madzhab Syafi’i : Seluruh hewan suci keacuali babi dan anjing.
4.Madzhab Hambali : Anjing, babi, hewan buas, dan burung hukumnya najis. Adapun selainnya hukumnya suci.
Adapun dalil yang mengatakan bahwa hewan buas termasuk najis adalah,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“(kucing) tidaklah najis, hanya ia hewan yang seringkali berkeliaran dan mengelilingi (berada di dekat) kalian” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai, Ahmad dan Ad Darimy)

Kucing hukumnya suci. Padahal kucing termasuk hewan buas. Dan alasannya adalah kerena kucing termasuk hewan yang ada didekat manusia. Dari sini bisa diambil pemahaman bahwa hewan buas yang tidak tinggal didekat manusia maka hukumnya najis.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُسْأَلُ عَنْ الْمَاءِ يَكُونُ فِي الْفَلَاةِ مِنْ الْأَرْضِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنْ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ

Dari [Ibnu Umar] ia berkata; “Aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang air yang ada di tanah lapang dan sering dikunjungi oleh binatang buas dan hewan hewan lainnya, ” Ibnu Umar berkata; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Apabila air itu mencapai dua Qulah maka tidak akan mengandung kotoran (najis).” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At Tirmidzi, An Nasai, Ad Darimy dan Ahmad)

Adapun mereka yang mengatakan hewan buas tidak najis, mereka mengomentari hadits diatas.
Ibnu Abdil Bar berkata : “Ketika ada hadits yang menerangkan tentang sucinya kucing padahal dia termasuk hewan buas dan pemakan bangkai, maka itu menunjukkan bahwa setiap hewan yang hidup tidak najis.”

Adapun untuk hadits yang kedua maka itu tidak menunjukkan kenajisan hewan buas. Karena kebiasaan hewan ketika singgah di air adalah kencing atau buang kotoran ditempat tersebut. Dan kita tahu bahwa air kencing dan kotoran termasuk najis.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalil yang shohih yang secara jelas menerangkan tentang najisnya hewan buas. Bahkan fatwa dari lajnah daimah (lembaga fatwa di saudi) merojihkan pendapat sucinya hewan buas.

Jika anda memilih pendapat yang mengatakan hewan buas termasuk najis, maka yang termasuk najis adalah seluruh tubuhnya. Dan jangan diartikan bahwa setiap yang najis itu tidak boleh dipegang. Boleh dipegang akan tetapi setelah itu harus di sucikan tangannya dengan cara dibersihkan atau dicuci dengan air.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Achmad Nur Hanafi, Lc. حافظه الله

  1. إذا دُبِغَ الإهابُ فقد طَهُر

Related Articles

Back to top button
dentoto situs togel situs togel https://getnick.org/ toto togel https://seomex.org/ situs togel dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto situs togel http://e-bphtb.pandeglangkab.go.id/products/ slot demo slot pulsa toto slot slot gacor