Muamalah

Hukum Menerima Hadiah Lomba, Haram?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Hukum Menerima Hadiah Lomba, Haram?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan hukum menerima hadiah lomba, haram? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz, afwan ijin bertanya. Saya pernah mendengar bahwa hukum menerima hadiah dari lomba olahraga semisal voli, sepak bola adalah haram.

Suami saya pernah ikut lomba olahraga di kantornya dan menang mendapat hadiah kursi. Harus diapakan barang ini ustadz? Mengingat kursi tersebut sudah dicoret-coret anak. Tidak mungkin untuk diberikan kepada orang lain.

Apakah harus dibuang atau boleh kita mengeluarkan sejumlah uang seharga kursi tersebut dengan niat mengeluarkan harta haram? Jika demikian apakah kursi tersebut menjdi halal untuk kami? Jazakallahu khairan.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabaarokatuh

Hadiah dari perlombaan yang tidak mensyaratkan kita membayar uang terlebih dahulu, yang disinyalir uang tersebut tidak dipergunakan untuk membeli hadiah, maka hukumnya boleh.

Yang tidak diperbolehkan adalah sebaliknya, ada kewajiban membayar untuk dipergunakan membeli hadiah, karena ini bentuk dari perjudian yang dilarang, salah satu bentuk dari perjudian.

Hadiah Lomba Yang Boleh Diterima

Majmak Fiqih Islam yang berafiliasi dengan Organisasi Konferensi Islam terkait dengan hadiah dari perlombaan kompetisi menyatakan, bahwa hadiah dari perlombaan/kompetisi diperbolehkan dengan beberapa catatan:

1. Hendaknya tujuan perlombaan dan medianya sesuatu yang disyariatkan/tidak melanggar aturan syar`i.

2. Hadiah bukan bersumber dari para peserta lomba.

3. Tujuan perlombaan berkaitan dengan target yang sah menurut syariat.

4. Hendaknya tidak berdampak buruk, dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang haram.

Syekh Kholid Almusyaiqih menjawab pertanyaan terkait dengan perlombaan yang boleh diikuti dan hukum hadiah dengan membayarnya dalam perlombaan yang dibolehkan beliau menjelaskan:

.لمسابقات المباحة يجوز بذل العوض والجائزة فيها، إذا كانت من أجنبي و ليست من المتسابقين، أما إذا كانت من المتسابقين، فبذل كل منهما عوضاً وأيهما يسبق يأخذ العوض فإن هذا محرم ولا يجوز؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ( لا سبق إلا في خف أو حافر أو نصل )، أخرجه أحمد (7170) و سنن النسائي (3533) وابن ماجة (2869) بسند صحيح من حديث أبي هريرة رضي الله عنه ، ومعنى الحديث ؛ أي لا عوض يبذل بين المتسابقين إلا في هذه الأشياء الثلاث، وعلى ذلك فإذا خرجت المسابقة عن هذه الأشياء الثلاثة المنصوص عليها في الحديث، أصبح العوض لايجوز بين المتسابقين، والله أعلم. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

“Perlombaan/kompetisi yang tidak ada keharaman maka diperbolehkan memberikan/membayar iwadh/biaya dan hadiah di dalamnya, bila hal tersebut dilakukan dari orang lain yang tidak mengikuti perlombaan. Bila ada dua peserta, setiap mereka membayar, siapa yang menang akan mengambil hadiah/taruhannya maka hal itu terlarang dan tidak diperbolehkan, sebagaimana sabda Nabi sallahu alaihi wasallam,”

لا سبَقَ إلا في نَصلٍ أو خفٍّ أو حافرٍ

Tidak boleh ada lomba (hadiah), kecuali dalam lomba memanah, berkuda, atau menunggang unta.” (HR. Ahmad (7170), sunan Nasai (3533), Ibnu Majah (2869) dengan sanad yang sahih dari hadist Abu Hurairah radhiyahu anhu).

Makna hadist di atas bahwa tidak boleh ada biaya/iwadh yang diberikan di antara dua orang yang berlomba kecuali dalam tiga hal tersebut.

Karenanya bila di luar dari tiga lomba tersebut yang telah disebutkan dalam nash hadist maka biaya (hadiah) yang didapatkan tidak boleh dilakukan/bersumber dari keduanya. Wallahu a`lam, dan shalawat tertuju kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya. (http://almoslim.net/node/76580)

Ringkasnya, bila hadiah tersebut dari perlombaan yang tidak ada kewajiban membayar untuk membeli hadiah maka hadiah tersebut boleh di pergunakan.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 13 Rabiul Akhir 1444 H / 7 November 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button