Hukum Menerima Fee

Hukum Menerima Fee

Pertanyaan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, ana mau tanya, si fulan bekerja di pabrik A. Pabrik A bekerja sama dengan rumah sakit B untuk pengobatan karyawan2nya, nah si fulan inilah bagian yg mengurus kerjasama tersebut, kemudian si fulan mendapat fee sekian % dari total tagihan rumah sakit ke pabrik tersebut, fee ini tidak tertulis pada teks perjanjian kerjasama antara pabrik dan rumah sakit, juga tidak terucap saat hendak melakukan kerjasama tersebut, dan pihak pabrik tidak mengetahui tentang fee tersebut. Apakah fee yg diterima si fulan dari rumah sakit itu halal ?

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Rizki F.S di Tangerang Anggota Grup WA Bimbingan Islam N05 G14)

JAWAB:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terkait masalah fee, maka harus didudukkan terlebih dahulu apakah statusnya sebagai komisi makelaran, atau upah kerja? Kalo statusnya sebagai komisi/jasa mencarikan pelanggan, maka itu tidak mengapa asalkan sekali saja. Misal, ketika pabrik A minta kepada si fulan agar dicarikan rumah sakit (B) yg mau membeli obat darinya; maka ini berarti makelaran. Si fulan boleh mendapatkan fee sesuai kesepakatan dengan salah satu pihak walaupun tidak tertulis dlm perjanjian antara A dan B, yg penting ada kesepakatan antara makelar dan yg memberinya fee/komisi.

Akan tetapi komisi tersebut hanya diberikan sekali saja, karena jasa si fulan adalah mempertemukan A dengan B, dan itu sudah terjadi di transaksi yg pertama. Adapun untuk transaksi berikutnya maka si fulan tidak berhak meminta fee.

Kecuali bila statusnya bukan sekedar makelar, namun juga sebagai orang upahan. Maka setelah mendapatkan fee-nya sebagai makelar, si fulan boleh mendapatkan fee lain sebagai upah kerja. Tentunya harus ada kerjaan yang terus-menerus dia lakukan agar dia halal menerima upah tersebut, walaupun sifatnya mingguan atau bulanan. Misalnya: Setelah si fulan mencarikan pelanggan utk A, maka ia terus memantau pendistribusian obat-obatan dari A ke B setiap harinya/minggunya/bulannya… atau si fulan mencatat tagihan-tagihan B secara periodik, atau bertindak sebagai penagih.

atau usaha apa pun yg sifatnya halal; maka ia tetap berhak menerima fee sesuai kesepakatan dan jenis usaha yg dilakukannya, alias tidak harus sama dengan fee pertamanya sebagai jasa makelaran.

Adapun jika ia terus menerima fee atas sesuatu yg tidak dikerjakannya, maka ini tidak halal. Karena di sini ia tidak menjual barang maupun jasa (selain mempertemukan A dengan B), sehingga tidak berhak mendapatkan imbalan apa pun dengan istilah fee atau apa pun.

Berangkat dari firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yg beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian secara batil; kecuali lewat jual-beli atas dasar rela sama rela diantara kalian (QS. An Nisa’: 29).

Jadi, harta orang lain tidak halal kita miliki kecuali dengan cara yg diperbolehkan, baik cara tersebut dengan imbalan (spt jual-beli atau sewa menyewa barang/jasa), atau murni pemberian tanpa imbalan (seperti hadiah, sedekah, hibah, dan semisalnya).

Wallaahu a’lam.

Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS