Hukum Mencicil Rumah, Namun Baru Boleh Ditempati Saat Lunas, Apa Boleh Dalam Islam?

Hukum Mencicil Rumah, Namun Baru Boleh Ditempati Saat Lunas, Apa Boleh Dalam Islam?

Hukum Mencicil Rumah, Namun Baru Boleh Ditempati Saat Lunas, Apa Boleh Dalam Islam?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum mencicil rumah, namun baru boleh ditempati saat lunas, apa boleh dalam islam?
Silahkan membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga,

Ustadz, apabila ada orang  mau menjual rumah dengan cara dicicil, tetapi kemudian si penjual itu mensyaratkan tinggal di rumah tersebut selama belum lunas pembayarannya (artinya saya baru bisa menempati rumah itu saat cicilan saya lunas).
Apakah ini termasuk dalam riba atau gharar yang terlarang?

(Disampaikan oleh fulanah, SAHABAT BiAS T07 G045)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal  Ikhwan wal Akhwat baarakallah fiikum Ajma’in.

Jual beli kredit seperti ini tidak boleh karena berpotensi ghoror (rumah rusak atau berkurang nilainya karena dipakai ).
Dalam sebuah hadits :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari ghoror”
(HR. Muslim, no. 1513).

Dan syarat seperti ini adalah termasuk berpotensi syarat majhul (syarat yang tidak jelas dan menggantung -ed), misalkan karena pembeli yang menyicil rumah sudah membayar uang muka, berpotensi sewaktu-waktu pailit atau ada masalah keuangan dikemudian hari belum bisa melunasi harga rumah padahal sudah jatuh tempo, rumah tersebut pada akhirnya juga tetap tidak akan bisa dipakainya karena belum lunas cicilannya.

Hal ini sejatinya telah dijelaskan sejak dahulu oleh syari’at, tatkala Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.”
(HR Bukhari, no. 2086).

Dikecualikan dari hal ini jika terpenuhi 2 syarat,

1. Pembelinya ridha

2. Rumah yang akan diserahkan nantinya, sama dengan rumah yang ada pada transaksi awal (terjaga dan tidak ada kerusakan).
Maka ini sangat jauh dari harapan (dan kecil sekali kemungkinannya), karena rumah tersebut dipakai dalam waktu yang cukup lama misalkan, dan tentunya akan berkurang nilai rumah tersebut karena terjadi kerusakan-kerusakan walaupun sifatnya ringan. Kecuali waktu pemakaian ditentukan, misalkan 1 bulan, dan semua kerusakan ringan dan berat akan ditanggung oleh pihak penjual.

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Jumat, 06 Jumadal Akhirah 1441 H/ 31 Januari 2019 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS