Fiqih

Hukum Memotong Rambut Plontos Sebagian

Hukum Memotong Rambut Plontos Sebagian

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Hukum Memotong Rambut Plontos Sebagian. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, izin bertanya apa hukumnya bagi tukang cukur rambut yang mencukur rambut dengan gaya rambut qaza, terima kasih, waalaikumsallam.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Facebook Bimbingan Islam)


Jawaban:

Wa alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuh.

Hukum terkait potong rambut jenis qaza diriwayatkan dari Nafi’ rahimahullah (salah seorang ulama dari kalangan tabi’in), dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْقَزَعِ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.”

Perawi yang meriwayatkan hadits ini dari Nafi’ bertanya kepada Nafi’, “Apa itu qaza’?”

Nafi’ berkata:

يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِيِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ

“Dicukur habis (dipelontos) sebagian rambut kepala anak kecil, dan dibiarkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari no. 5921 dan Muslim no. 2120)

Namun hukum yang dimaknai dari hadist di atas bukan sampai taraf haram, hukumnya dipahami sebagai perkara yang makruh, al-Imam al-Nawawi mengatakan:

يُكْرَهُ الْقَزَعُ ، وَهُوَ حَلْقُ بَعْضِ الرَّأْسِ ؛ لِحَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما فِي الصَّحِيحَيْنِانتهى

“Dimakruhkan melakukan qaza, yaitu mencukur (plontos) sebagian rambut (dan meninggalkan sebagian), ini berdasarkan hadist Ibnu Umar radiyallahu anhuma dalam Bukhari dan Muslim”. (al-Majmu’ 1/347).

Kecuali jika ada maksud lain ia melakukan qaza, seperti dalam rangka meneladani orang-orang kafir dan fasik, maka hukumnya tidak berhenti pada makruh saja, justru bisa sampai derajat haram.

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:

والقزع مكروه ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم رأى غلاماًً حلق بعض شعره وترك بعضه ، فنهاهم عن ذلك . وقال : (احلقوا كله أو اتركه كله) إلا إذا كان فيه تشبه بالكفار فهو محرم ، لأن التشبه بالكفار محرم ؛ قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( من تشبه بقوم فهو منهم)

“Qaza itu hukumnya makruh, karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam melihat seorang anak kecil mencukur sebagian kepalanya, dan meninggalkan sebagian lainnya, Nabi pun melarang praktek tersebut. Beliau bersabda “cukurlah semua, atau tinggalkan semua”, kecuali jika dalam hal tersebut ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir, maka hukumnya adalah haram, karena menyerupai orang kafir hukumnya haram, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari golongannya”. (al-Syarh al-Mumti’ 1/167).

Jika sudah diketahui bahwa praktik yang demikian hukumnya makruh misalnya, atau sampai haram, maka menjadi sarana dan wasilah pada amalan tersebut juga hukumnya sama, ada kaidah fiqih yang berbunyi:

الوسائل لها أحكام المقاصد

“Hukum suatu sarana itu tergantung hukum tujuannya”

Si tukang cukur adalah wasilah, atau sarana menuju perbuatan potong rambut dengan gaya qaza, jika hukum qaza makruh atau haram, maka sarana menuju amalan tersebut juga makruh atau haram.

Sama halnya hukum seorang potong rambut dalam rangka tahallul setelah rangkaian umroh atau haji, yang demikian adalah amalan yang baik, bahkan bagian dari rangkaian ibadah, maka tukang potong rambut untuk tahallul tersebut sebagai sarana kebaikan, dan iapun mengambil hukum kebaikan tersebut. Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Selasa, 3 Rabiul Awal 1443 H/ 9 November 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Diminta Jadi Imam Masjid, Namun Harus Mengeraskan Dzikir, Bagaimana Baiknya?

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button