Hukum Melihat Aurat Orang Tua Bagi Anak

Hukum Melihat Aurat Orang Tua Bagi Anak

Hukum Melihat Aurat Orang Tua Bagi Anak

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Afwan mohon bertanya ustadz.
Bolehkah seorang anak yang sudah dewasa melihat aurat ibu atau bapaknya, ketika merawat bapak/ibunya sakit ?
(Saat ganti pampers-memandikan dsb)
Barakallahu fiik

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(Admin N07)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Pertanyaan serupa pernah diajukan kepada Al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz berikut redaksi pertanyaannya :

أبي رجل كبير في السن وهو لا يستطيع السيطرة على نفسه وبطبيعة الحال هو يحتاج إلى التنظيف ويكون منا ذلك وأحيانًا نضطر للكشف عنه فكيف توجهوننا؟ جزاكم الله خيرًا.

“Ayahku seorang yang tua dan tidak mampu menguasai dirinya, maka secara otomatis ia membutuhkan untuk dibersihkan dimandikan. Dan kami terkadang harus menyingkap aurat beliau apa arahan anda untuk kami, jazakumullahu khairan ?”

Beliau menjawab :

إذا تيسر أن تخدمه زوجته هذا هو الواجب؛ لأن الزوجة لها النظر إلى عورته، فإذا تيسر أن تخدمه زوجته هذا هو الواجب أن تقوم بحاجته إذا كان مضطرًا لذلك لا يستطيع أن يخدم نفسه، فإن لم يتيسر ذلك فينبغي أن يخدمه رجل في هذا الأمر خادم يتولى هذه الأمور التي يحتاجها ولا يباشر العورة، بل يزيل الأذى بواسطة منديل أو خرق يزيل بها الأذى ولا يمس العورة، فإن لم يتيسر ذلك خدمه إحدى بناته أو إحدى أخواته إذا تيسر ذلك مع الاجتهاد والحذر مما لا يجوز، كمس العورة، بل تمس ذلك بخرقة ونحوها لإزالة الأذى إذا كان لا يستطيع أن يزيل الأذى لمرضه أو عجزه أو كبر سنه، فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ [التغابن:16]، ومن تولى ذلك فهو مأجور في خدمته سواءً كانت الخادمة بنتًا أو أختًا أو زوجة، فهي على خير عظيم، ولكن لا يتولاه غير الزوجة إذا وجدت الزوجة، للاستغناء بها.

Jika istrinya bisa membantu lelaki tua ini maka inilah yang wajib untuk dilakukan, karena istri boleh melihat aurat suaminya. Jika istrinya bisa maka wajib membantu suaminya jika suaminya memang tak bisa mengurus dirinya sendiri.

Apabila tidak bisa maka sebaiknya ada lelaki yang mengurusnya, seorang pembantu laki yang melaksanakan tugas ini dengan tanpa menyentuh aurat. Tapi ia membersihkan kotoran dengan sapu tangan atau kain, ia membersihkan kotoran dengan sarana ini serta tidak boleh menyentuh aurat.

Jika tetap tidak bisa maka yang melakukannya adalah salah satu dari anak wanitanya, dengan tetap menjaga diri dari hal-hal yang dilarang seperti menyentuh aurat. Akan tetapi ia menyentuhnya dengan menggunakan secarik kain atau benda lain untk membersihkan kotoran, jika memang si bapak yang sudah tua ini tak mampu membersihkannya sendiri dikarenakan sakit atau karena pikun.

(Bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai dengan kadar kemampuan kalian) (At-Taghabun : 16).

Barang siapa melakukan khidmah kepada orang tua ini maka ia mendapatkan pahala atas jasanya tersebut. Sama saja apakah yang membantu itu anaknya, atau saudarinya, atau istrinya, ia mendapatkan kebaikan yang sangat agung. Akan tetapi jika istrinya masih ada maka jangan ada yang melakukannya kecuali dia, karena ia sudah mencukupi.

(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 17218).

Maka dari pertanyaan penanya kami menganjurkan jika memang pasangan orang tua sudah tidak ada maka diusahakan yang memandikannya adalah anaknya yang berjenis kelamin sama. Jika ibunya yang sakit yang memandikan anaknya yang wanita, jika ayahnya yang sakit yang memandikan anak nya yang lelaki. Dengan tetap memperhatikan arahan dari Syaikh Bin Baz sebagaimana dalam fatwa yang sudah kami cantumkan di atas

Wallohu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
📆 Senin, 20 Jumadal Akhir 1440H / 25 Februari 2019M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS