IbadahRamadhan

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Berkumandang

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Berkumandang

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan hukum makan sahur ketika adzan berkumandang. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah, izin bertanya ustadz. bagaimana jika saat sedang sahur kemudian adzan subuh berkumandang. Apakah harus berhenti tidak boleh minum dan membuang sisa makanan, atau diperbolehkan menyelesaikan sahur? hal ini terjadi beberapa kali secara tidak sengaja atau tidak diniatkan untuk sahur sampai adzan subuh.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Alhamdulillah.

Semoga Allah berikan kepada kita semua kemudahan di dalam menjalankan syariat islam di dalam keseharian kita.

Sebagaimana yang kita pahami, bahwa puasa di mulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Dari pengertian itu maka larangan makan, makan dan pembatal puasa lainnya dilarang dilakukan di antara waktu tersebut. Sehingga bila adzan berkumandang sebagai tanda terbitnya fajar telah dikumandangkan maka tidak boleh makan minum di waktu tersebut.

Dan ini yang lebih berhati-hati untuk dilakukan, kecuali hanya membutuhkan beberapa saat/waktu singkat untuk menyelesaikan makan dan minum, maka ini boleh. Sebagai bentuk penafsiran dan penggabungan pendapat yang membolehkan makan /minum ketika makanan ada di tangannya sebagaimana hadist,”

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan bejana masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menunaikan hajatnya sampai selesai.” (HR. Abu Daud no. 2350).

Sebagaimana yang di fatwakan oleh syekh Sholeh Fauzan sebagaimana yang disebutkan di dalam islam web no…/8073.., beliau menjelaskan ketika ditanya tentang makan/minum setelah adzan dikumandangkan mengacu dengan jadwal waktu sholat yang ada?, beliau menjelasakan,”

الله سبحانه وتعالى جعل طلوع الفجر نهاية للأكل والشرب فقال تعالى: {وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ} [سورة البقرة: آية 187]. هذا هو النهاية الشرعية للأكل وبداية الصيام. والأذان والتقويم إنما هي علامات فقط يستدل بها على طلوع الفجر، فمن لم يستيقظ إلا والمؤذن يؤذن فهذا يرجع فيه إلى عادة المؤذن إن كان عادة المؤذن أنه يقدم الأذان أي يبكر فلا بأس أن يأكل الإنسان بعد أذان المؤذن لقوله صلى الله عليه وسلم: “‏إن بلالاً يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوموكان ابن أم مكتوم يؤذن إذا قيل أصبحت أصبحت [رواه الإمام البخاري في صحيحه]. أما إذا كان عادة المؤذن أنه يتقيد بطلوع الفجر ولا يؤذن إلا عند طلوع الفجر فإنه لا يجوز الأكل عند ذلك لأنه أكل وشرب بعد طلوع الفجر وكذلك التقويم كما ذكرنا هو علامة يستدل بها فلا ينبغي أن يتأخر عن حد التقويم تأخرًا كثيرًا، أما لو تأخر دقيقة أو دقيقتين وما أشبه ذلك فهذا لا بأس بهأما التأخر الكثير عن التقويم كخمس دقائق وأكثر فهذا لا يجوز.

“Allah telah menjadikan terbit fajar sebagai akhir untuk makan dan minum, sebagaimana firman Allah,”

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar (waktu shalat subuh). Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datangnya) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Inilah waktu yang sesuai syariat batas akhir untuk makan dan permulaan untuk berpuasa. Adzan dan jadwal yang ada sesungguhnya sebagai tanda saja untuk menunjukkan terbitnya fajar. Maka barangsiapa yang bangun tidur, dan muadzin melakukan adzan maka melihat kepada kebiasaan dari muadzin tersebut. Bila kebiasaannya ia terlalu cepat maka tidak mengapa makan setelah adzan, Sebagaimana sabda Rasulullah sallahu alaihi wasallam, “sungguh Bilal melakukan adzan ketika malam, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum melakukan adzan.”( HR. Bukhari di sahihnya). Namun bila kebiasaan muadzin tersebut melakukannya di waktu yang tepat dengan terbitnya fajar, ia tidak adzan kecuali telah terbit fajar maka tidak boleh makan pada saat itu,karena ia makan dan minum setelah terbitnya fajar.

Begitupula dengan kalender/jadwal adzan sebagaimana yang kita sebutkan, adzan sebagai tanda/sinyal dengan terbitnya fajar, maka hendaknya ia tidak mengakhirkan dari jadwal terlalu banyak, adapun bila terlambat satu atau dua menit atau sekitar itu maka ini tidak mengapa…adapun bila terlalu mundur dari kalender/jadwal terlalu banyak semisal 5 menit atau lebih maka ini tidak diperbolehkan.”

Dan senada dengan apa yang di jelaskan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya, “Apa hukum Islam mengenai seseorang yang mendengar adzan Shubuh lantas ia masih terus makan dan minum?”

Beliau menjawab, “Wajib bagi setiap mukmin untuk menahan diri dari segala pembatal puasa yaitu makan, minum dan lainnya ketika ia yakin telah masuk waktu shubuh. Ini berlaku bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar dan puasa dalam rangka menunaikan kafarot.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Jika mendengar adzan shubuh dan ia yakin bahwa muadzin mengumandangkannya tepat waktu ketika terbit fajar, maka wajib baginya menahan diri dari makan.

Namun jika muadzin mengumandangkan adzan sebelum terbit fajar, maka tidak wajib baginya menahan diri dari makan, ia masih diperbolehkan makan dan minum sampai ia yakin telah terbit fajar shubuh.

Sedangkan jika ia tidak yakin apakah muadzin mengumandangkan adzan sebelum ataukah sesudah terbit fajar, dalam kondisi semacam ini lebih utama baginya untuk menahan diri dari makan dan minum jika ia mendengar adzan.

Namun tidak mengapa jika ia masih minum atau makan sesuatu ketika adzan yang ia tidak tahu tepat waktu ataukah tidak, karena memang ia tidak tahu waktu pasti terbitnya fajar.

Sebagaimana sudah diketahui bahwa jika seseorang berada di suatu negeri yang sudah mendapat penerangan dengan cahaya listrik, maka ia pasti sulit melihat langsung terbitnya fajar shubuh.

Ketika itu dalam rangka kehati-hatian, ia boleh saja menjadikan jadwal-jadwal shalat yang ada sebagai tanda masuknya waktu shubuh.

Hal ini karena mengamalkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tinggalkanlah hal yang meragukanmu. Berpeganglah pada hal yang tidak meragukanmu.”

Begitu juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang selamat dari syubhat, maka selamatlah agama dan kehormatannya.” Wallahu waliyyut taufiq.” [Fatawa Ramadhan, dikumpulkan oleh ‘Abdul Maqshud, hal. 201, dinukil dari Fatawa Al Islam Sual wa Jawab no. 66202].

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 17 Ramadan 1443 H/ 19 April 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Baca Juga :  Apakah Memakai Niqob Atau Cadar Bisa Menggugurkan Dosa?

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button