Mu’aamalatul Hukkaam Bagian 12

Mu’aamalatul Hukkaam Bagian 12

Hukum Kepemimpinan, Hikmah Serta Penjelasan Dari Maksud Kepemimpinan

1). Hukum kepemimpinan.

Mengangkat seorang pemimpin merupakan kewajiban bagi kaum muslimin ini berdasarkan kesepakatan para imam dan umat Islam secara umum tidak ada yang menyelisihinya kecuali orang yang membangkang dan menutup mata dari dalil Al-Kitab dan As-Sunnah.

Demikian pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum bersepakat akan hal ini, Imam Al-Qurthubi berkata :

و لا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة و لا بين الأئمة إلا ما روى عن الأصم حيث كان عن الشريعة -أصم- و كذلك كل من قال بقوله و اتبعوه على رأيه و مذهبه

“Dan tidak ada perselisihan akan wajibnya kepemimpinan itu diantara umat maupun diantara para imam (ulama’) kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-Ashom yang mana ia ini tuli dari syariat demikian pula orang yang mengikuti hawa nafsu dia dan cara berfikirnya dia.” (Tafsir Al-Qurthubi : 1/264).

Adapun dalil akan kewajiban mengangkat pemimpin diantaranya :

a). Firman Allah ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS An-Nisa’ : 59).

b). Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR Muslim : 1851).

c). Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan. (HR Abu Dawud : 3/81 hadits no. 2609).

Berdasarkan dalil-dalil syariat di atas dan dalil-dalil yang serupa lainnya maka membentuk suatu kepemimpinan wajib hukumnya. Jika sudah ada beberapa kalangan yang melaksanakannya maka gugurlah kewajiban tersebut dari semua.

2). Hikmah kepemimpinan

Manusia secara umum kecuali para nabi dan rasul memiliki tabiat suka berbuat zalim dan meninggalkan keadilan. Jika mereka tidak dipimpin oleh penguasa yang akan mengatur dan menertibkan mereka, niscaya akan berlaku hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah.

Sebagai contoh kita melihat sudah terpasang rambu lalu lintas saja masih banyak orang yang berlaku zalim, saling mendahului dan tidak mengantri apalagi jika aturan serta kepemimpinan tidak ada maka akan timbul kerusakan. Ali bin Abi Thalib berkata :

لا يُصلِحُ الناسَ إلا أميرٌ برٌّ كان أو فاجر ؛قالوا يا أمير المؤمنين: هذا البر فكيف بالفاجر؟! قال: إن الفاجر يُؤمِّنُ اللهُ عز وجل به السبل، ويجاهَد به العدو، ويجيء به الفيء، وتقام به الحدود، ويُحج به البيت، ويعبد اللهَ فيه المسلمُ آمنا حتى يأتيه أجله

“Tidak akan memperbaiki manusia melainkan penguasa, baik penguasa yang baik maupun penguasa yang jahat. Orang-orang bertanya : Wahai amirul mukminin , ini penguasa yang baik, lantas bagaimana penguasa yang jahat bisa memperbaiki?

Beliau menjawab : Sesungguhnya melalui penguasa yang jahat itu Allah ta’ala mengamankan jalan-jalan, serta mengusir musuh, mendatangkan fa’i, menegakkan hukuman bagi pelaku kejahatan, menyelenggarakan kafilah haji, dan seorang muslim bisa melakukan ibadah kepada Allah dengan aman hingga ia mati.” (Akhbarul Qudhot : 1/21, Syu’abul Iman : 13/187).

Renungkan ucapan ini wahai kaum muslimin, sebuah ucapan yang dinasehatkan oleh satu satu imam diantara imam-imam kaum muslimin, salah satu dari Khulafa’ur Rasyidin yang mulia. Yang beliau menghadapi sendiri di masa beliau munculnya perpecahan kaum muslimin.

Ucapan beliau ini merupakan bagian dari syariat Islam, maka wajib untuk diambil dan diamalkan dan karena ia termabil dari hasil pengalaman nyata dari seorang yang sudah mencapai puncak keahlian dalam politik dan kepemimpinan. Maka pegang teguhlah nasehat ini dan buanglah bisikan-bisikan syaithan.

Wallahu a’lam

Diterjemahkan Oleh :
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS