Hukum Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis Dalam Islam

Hukum Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis Dalam Islam

Hukum Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis Dalam Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum jabat tangan dengan lawan jenis dalam islam.
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga ustadz dan admin serta kita semua dijaga Allah.

Kami ingin bertanya mengenai jabat tangan dengan yang bukan mahram dalam islam, siapa saja yang bukan mahram kita?
Apakah lawan jenis yang masih kecil dan sudah tua, tidak diperbolehkan untuk ber jabat tangan dengannya juga?
Dan untuk umurnya lawan jenis yang masih kecil umur berapa yang kita boleh berjabat tangan dengannya?
Dan untuk lawan jenis yang sudah tua umur berapa yang kita boleh berjabatan tangan dengannya?
Dan bagaimana cara menolaknya yang baik dan sopan, untuk yang dulunya bersalaman namun tidak bersalaman lagi, agar tidak dikira sombong?

(Disampaikan oleh Fulan, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Dalam masalah ini, yang harus kita fahami terlebih dahulu adalah bahwasanya berjabat tangan dengan lawan jenis atau wanita yang bukan mahram kita hukumnya haram, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Kepala salah seorang kalian ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir : 20/210 dan Ash-Shahihah no. 226).

Demikian juga dalam riwayat ‘Aisyah:

وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْـمُبَايَعَةِ، مَا يبُاَيِعُهُنَّ إِلاَّ بِقَوْلِهِ: قَدْ باَيَعْتُكِ عَلَى ذَلِكَ

“Tidak, demi Allah! Tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita pun dalam pembaiatan.
Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali hanya dengan ucapan, “Sungguh aku telah membaiatmu atas hal tersebut.”
(HR. Bukhari : 4891 dan Muslim : 4811).

Kemudian berkaitan dengan pertanyaan penanya kita sampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui siapa saja orang yang bukan mahram kita, maka kita perlu mengetahui siapa saja orang yang menjadi mahram kita.
Selebihnya berarti ia bukan mahram kita, simak keterangan lebih lanjut tentang siapa saja yang menjadi mahram kita pada tulisan sbb :

Siapa Saja Mahram Kita (Bagian 1)?

2. Berapa batasan anak kecil yang bukan mahram tidak boleh kita ajak berjabat tangan?

Hukum aslinya selama anak belum mencapai usia dewasa/baligh maka tidak mengapa bersalaman dengannya dengan catatan persentuhan kulit tersebut tidak dibarengi adanya syahwat. Disebutkan dalam fatwa Islamweb :

فإن كان اللمس بغير شهوة، وكان الصغير أو الصغيرة ممن لا يشتهى، جاز لمسه عند الحنفية والحنابلة، سواء اتحد الجنس أم اختلف، لعدم خوف الفتنة في هذه الحال، وهو الأصح عند الشافعية، وبناء عليه؛ تحل مصافحته ما دامت الشهوة منعدمة

“Apabila menyentuhnya dilakukan dengan tanpa syahwat dan orang yang disentuh masih kecil yang tidak menimbulkan keinginan (syahwat) maka boleh menyentuhnya menurut madzhab Hanafiyah, dan Hanabilah. Sama saja apakah jenis kelaminnya sama atau berbeda dikarenakan tidak adanya kekhawatiran akan terjadinya fitnah dalam kondisi ini.

Pendapat ini pulalah pendapat yang lebih shahih di kalangan madzab Syafi’iyyah. Berdasarkan hal ini maka boleh menyalami anak kecil (yang belum baligh) selama syahwat itu tidak ada sama sekali.”
(Fatawa Islamweb no. 289651)

3. Berapa batasan orang tua yang bukan mahram tidak boleh kita ajak berjabat tangan?

Adapun batasan usia maksimalnya tidak ada, kita tetap dilarang bersalaman dengan wanita asing yang bukan mahram kita meskipun wanita tersebut telah tua.
Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz menyatakan :

مصافحة النساء لا تجوز، سواء كن عجائز أو شابات، لقول النبي ﷺ: إني لا أصافح النساء، لما تقدمت إليه امرأة في وقت البيعة للمصافحة قال: إني لا أصافح النساء، وقالت عائشة رضي الله عنها : والله ما مست يد رسول الله يد امرأة قط، ما كان يبايعهن إلا بالكلام، ومرادها رضي الله عنها يعني: غير محارم، يعني: ما كان يصافحهن، أما المحارم فلا بأس كان يصافح ابنته فاطمة ويصافح المحارم عليه الصلاة والسلام، ولا حرج أن الإنسان يصافح زوجته وأخته وعمته وأمه وجميع محارمه، وإنما الممنوع أن يصافح امرأة أجنبية كزوجة أخيه أو أخت زوجته أو غيرهما هذا لا يجوز وهو من وسائل الشر ولا يجوز لا مع العجوز ولا مع الشابة، هذا هو الصواب

Artinya :
“Berjabat tangan dengan wanita itu tidak boleh sama saja apakah ia sudah tua ataupun masih muda, berdasarkan sabda Nabi shalalallahu ‘alaihi wa sallam : Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.

Tatkala itu ada seorang wanita yang maju saat baiat untuk menjabat tangan beliau, beliau bersabda ; Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.
Aisyah radhiyallahu anha menyatakan : Tangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh wanita dan tidaklah beliau membaiat wanita kecuali dengan ucapan saja.

Yang dimaksudkan oleh Aisyah adalah wanita-wanita yang bukan mahramnya nabi, beliau tidak pernah berjabat tangan dengan mereka. Adapun wanita yang menjadi mahram maka tidak mengapa. Dahulu nabi juga berjabat tangan dengan Fatimah putri belau, dan beliau juga menyalami wanita-wanita yang menjadi mahram beliau.

Tidak mengapa seseorang berjabat tangan dengan istrinya, saudarinya, bibinya, ibunya, dan seluruh wanita yang menjadi mahramnya. Akan tetapi yang dilarang seseorang berjabat tangan dengan wanita asing seperti istri saudaranya atau saudara wanita dari istrinya atau yang lainnya.

Ini tidak boleh dan ini merupakan salah satu sarana keburukan, tidak boleh dilakukan baik dengan wanita yang sudah tua maupun yang masih muda. Ini adalah pendapat yang benar.”

4. Cara menolak berjabat tangan dengan sopan.

Adapun cara menolaknya kita bisa melakukan salaman dengan tanpa menyentuh seperti yang dilakukan sebagian suku di Indonesia (suku sunda kalau saya tidak salah). Hanya cukup dari jauh dengan tanpa menyentuh, insyaAllah rata-rata orang di negeri kita sudah memamahinya.

Tentu akan lebih baik jika disertai dengan penjelasan, sebagimana yang dilakukan oleh Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh santun.

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Kamis, 02 Sya’ban 1441 H/ 26 Maret 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS