FiqihKonsultasi

Hukum Bekerja Di Perusahaan Yang Menyediakan Peminjaman

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Hukum Bekerja Di Perusahaan Yang Menyediakan Peminjaman

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum Bekerja Di Perusahaan Yang Menyediakan Peminjaman, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Ta’ala selalu senantiasa mencurahkan taufik dan hidayah-Nya bagi ustadz dan bagi seluruh kaum muslimin Aamiin.

Izin bertanya,

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan dan ini mengganjal hati saya, semoga Allah Ta’ala mudahkan ustadz untuk menjawabnya

Saya ditawari untuk pindah perusahaan, perushaan ini bergerak di investasi dan pembiayaan (PT Sarana Multi Infrastruktur (persero), basic kuliah saya di Teknik Sipil, pihak yang menawari saya bekerja dikarenakan perusahaan membutuhkan lulusan teknik sipil yang bekerja sebagai engineer.

Pertanyaan saya: Berdosakah dan haramkah pekerjaan saya, apabila saya membuat hasil analisa sebuah proyek, misalkan hasil analisa saya, proyek tersebut dinilai layak, sehingga perusahaan akhirnya mau memberikan pembiayaan atau pinjaman kepada pihak pemda atau proyek yang pembiayaan atau pinjaman ini diberikan bunga, dan perusahaan ini bisa dikategorikan pendapatan utamanya dari pinjaman.

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Sebelum meninjau apakah berdosa dan haram, maka lebih baik dirincikan dahulu sebelumnya ;

1.Sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang pembiayaan (pinjaman) tentu sangat berkaitan erat dengan riba. Mengapa demikian? Karena segala transaksi pinjam-meminjam dengan bunga sudah berkarak di tengah-tengah masyarakat di segala penjuru dunia. Padahal hakikat transaksi pinjaman dalam kacamata syariat adalah merupakan bentuk kepedulian sosial, saling membantu dan tolong menolong. Inilah yang ditekankan dalam syariat islam. Banyak sekali dalil-dalil yang menjelaskan tentang besarnya pahala orang meminjamkan hartanya dan memudahkan urusan orang lain.

Hanya saja terdapat satu kaidah fikih terkait transaksi pinjaman non halal, yaitu :

كل قرض جرّ منفعة فهو ربا

“Segala sesuatu yang mendatangkan keuntungan dalam kegiatan utang-piutang, maka itu tergolong ke dalam perbuatan riba.”

Banyak sekali dalil-dalil dari al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan akan keharaman riba, bahkan Allah ﷻ telah menyatakan perang bagi para pelaku riba, sebagaimana dalam firman-Nya ;

﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ وَاِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْۚ لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika kamu bertobat, kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 278-279)

Baca Juga:  Apakah Pakai Susuk Bisa Membuat Susah Meninggal Dunia?

Dengan demikian, anda pasti telah mengetahui bahwa perbuatan ini adalah haram.

2.Seseorang yang membantu melancarkan transaksi pinjaman ribawi, berarti ia telah bantu membantu dalam dosa dan kebatilan, sementara Allah ﷻ telah melarang hal tersebut sebagaimana dalam firman-Nya ;

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Seseorang yang membantu perbuatan buruk, tentu dosanya akan terus mengalir kepada dirinya. Sebagai contoh; ia memberikan rekomendasi terhadap satu client, kemudian pihak perusahaan memberikan persetujuan, sehingga terjalinlah transaksi antara keduanya. Setiap keduanya terjalin komunikasi dan transaksi, maka dosa itu tentu akan kembali kepada pembuka utama yaitu dirinya sendiri yang menjadi penghubung antara kedua belah pihak, dan begitu seterusnya.

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barang siapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang memulai kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, pasti anda juga telah mengetahui dosa dari perbuatan yang akan anda lakukan.

Wallahu a’lam bisshowab.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Ahmad Yuhanna, Lc. حافظه الله

Related Articles

Back to top button