Hati-Hati Menjadi Munafik Karena Dosa Sembunyi-sembunyi

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hati-hati menjadi munafik karena dosa sembunyi-sembunyi.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ustadz. Saya mau menanyakan mengenai hadits orang yang berbuat dosa dalam kesendiriannya, dan nampak shaleh ketika di keramaian maka kelak di hari kiamat akan dinampakkan amalannya sebanyak gunung tapi semua menjadi debu.
Apakah hadits ini untuk orang munafik saja? Bagaimana jika seorang yang tahu hadits ini namun tetap melakukan dosa dalam kesendiriannya apakah dia termasuk orang munafik?
(Disampaikan oleh Fulan, Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Para ulama berbeda dalam memahami hadist tersebut, sebagian menyebutkan khusus untuk orang munafik dan sebagian memahami bahwa hadist tersebut juga berkaitan dengan seorang muslim yang melakukan amalan nifak, sehingga ia sengaja dan terus menerus melakukan dosa tersebut, sehingga menjadi kebiasaannya yang menjadikan dia melakukan nifak amali.

Baca Juga:  Inilah Cara Menghancurkan Jimat dan Mantra

Bila tidak ia coba halau segera dalam kehidupannya, bisa jadi ia akan menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah, sampai akhirnya ia menjadi seorang yang munafik secara I’tiqodi, karena telah menentang hukum Allah, dengan menghalalkan apa yang diharamkan. Walaupun ia menyembunyikan niatnya dan menampakkan kebaikan/islam di depan umum, maka menjadilah ia sebagai seorang yang munafik.

Maka berhati hatilah dalam setiap kemmaksiatan yang kita lakukan dan renungkanlah ayat dan hadist berikut, supaya kita lebih waspada dalam masalah ini.

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”
Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.”
(HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Baca Juga:  Terlupa Satu Rakaat Setelah Salam

Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.

Hadits di atas semakna dengan ayat,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. An-Nisa’: 108).

Baca Juga:  Apakah Boleh Membayar Zakat Fitri di Luar Daerah?

Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan.

Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله
Selasa, 30 Rabiul Akhir 1442 H/ 15 Desember 2020 M



Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini