KonsultasiMuamalah

Haruskah Mengikhlaskan dan Merelakan Hutang?

Haruskah Mengikhlaskan dan Merelakan Hutang?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Haruskah Mengikhlaskan dan Merelakan Hutang? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillaah.. Izin bertanya ustadz, perihal al-hajr atau boikot. Seseorang berhutang kepada 4 orang temannya dan sudah jatuh tempo. Namun orang yang berhutang tersebut tidak bisa dihubungi untuk dimintai kejelasan pelunasan hutang tersebut, bahkan menghindar. Kemudian ada dua orang dari temannya itu bermaksud untuk menemuinya untuk menagih hutangnya tersebut, terlebih mengetahui kondisi salah seorang pemberi hutang tersebut dalam keadaan sedang sangat membutuhkan uang.

Yang ingin saya tanyakan, Ustadz,

1. Bagaimanakah cara terbaik untuk menyelesaikan hutang tersebut jika tidak ada aset apa pun yang ia miliki?

2. Apakah boleh orang yang berhutang dan tidak mampu melunasi hutangnya diboikot atau ditahan hartanya (yg mana harta yg tersisa hanya yg esensial bagi kehidupannya sehari misal rumah dan uang yg cukup untuk makan sehari2)? jazaakumullaahu khoiroo ustadz dan tim semoga senantiasa dalam lindungan Allaah azza wa jalla. Aamiin

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Menangguhkan dan Merelakan Hutang Bagi Yang Beritikad Baik

Bismillah

Ketika orang yang berhutang tidak bisa membayar hutangnya, sikap yang terbaik bagi orang yang memberikan hutang sebaiknya dengan melihat dari itikad baik dan tidaknya dari orang yang berhutang. Bila ternyata niatnya dan itikadnya baik, maka bisa ditangguhkan pembayarannya sampai ia mampu. Sebagaimana firman Allah ta`alaa,”

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)

Baca Juga :  Hukum Bekerja di Perpajakan & Memanfaatkan Gaji Pegawai Pajak

Atau membantu mencarikan orang untuk melunasi hutangnya atau bisa dengan merelakan/meng-ihklaskan hutangnya sebagai shadaqah darinya. Karena orang seperti itu adalah orang yang berhak mendapatkan zakat, sebagaimana firman Allah ta`alaa,”

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” [At-Taubah: 60]

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى

Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِرَجُلٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ انْظُرُوا فِى عَمَلِهِ. فَيَقُولُ رَبِّ مَا كُنْتُ أَعْمَلُ خَيْراً غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ لِى مَالٌ وَكُنْتُ أُخَالِطُ النَّاسَ فَمَنْ كَانَ مُوسِراً يَسَّرْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ مُعْسِراً أَنْظَرْتُهُ إِلَى مَيْسَرَةٍ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا أَحَقُّ مَنْ يَسَّرَ فَغَفَرَ لَهُ

“Ada seseorang didatangkan pada Hari Kiamat. Allah berkata (yang artinya), “Lihatlah amalannya.” Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai Rabbku. Aku tidak memiliki amalan kebaikan selain satu amalan. Dulu aku memiliki harta, lalu aku sering meminjamkannya pada orang-orang. Setiap orang yang sebenarnya mampu untuk melunasinya, aku beri kemudahan. Begitu pula setiap orang yang berada dalam kesulitan, aku selalu memberinya tenggang waktu sampai dia mampu melunasinya.” Lantas Allah pun berkata (yang artinya), “Aku lebih berhak memberi kemudahan”. Orang ini pun akhirnya diampuni.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Solusi Jika Si Penghutang Tidak Beritikad Baik

Namun bila tidak ada itikad baik untuk mengembalikan, padahal anda butuh dengan hutang tersebut atau ada faktor lain maka tidak ada salahnya mencoba kembali untuk menemui, berbicara dan memberikan peringatan kepada orang tersebut. Terus memberikan nasihat dengan cara yang baik, antara lain dengan apa yang telah Rasulullah ancamkan, sebagaimana riwayat dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Dan yang lainnya dari ancaman kepada orang orang yang tidak mau atau enggan membayar hutang., padahal ia mampu membayarkannya atau tidak ada itikad baik untuk berkomunikasi dengan masalah hutangnya.

Begitu pula bila dirasa akan dapat memberikan efek negatif kepada orang lain, supaya tidak berdampak dan mendapatkan kasus yang sama maka diperbolehkan untuk memberikan peringatan kepada orang lain supaya tidak terkena dengan perkara yang serupa.

Atau jika telah diberikan kesempatan, namun tidak berubah sehingga sudah berputus asa, maka bisa mencarikan pihak ketiga untuk mendesak kepada penghutang untuk melunasinya, dengan menggugat dan melaporkannya kepada pihak yang berwenang sebagai perkara perdata. Namun, ini tentunya adalah cara terakhir bila melihat kemaslahatan yang dihasilkan dengan cara seperti ini.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik

Maka menjadi peringatan buatan kita semua untuk tidak bermudah-mudah berhutang untuk membeli sesuatu yang primer, karena efek negatif dan kehinaan yang bisa didapatkan bila tidak bisa membayarkannya. Begitu pula terus memberikan motivasi kepada diri kita dan orang-orang yang mampu untuk memberikan bantuan hutang atau bahkan memberikan bantuan non hutang berupa hadiah, infak atau zakat bila memang kita mendapatkan saudara saudara kita dalam kesusahan dan membutuhkan uluran tangan kita dan kita bisa membantunya. Berharap Allah menolong dan memudahkan urusan kita dengan kita membantu dan meringankan saudara kita, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam,”

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Wallahu ta`ala a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
USTADZ MU’TASIM, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 22 Shafar 1443 H/ 30 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Hukum Memperlakukan Barang Bajakan atau KW yang Pernah Dibeli

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button