Haram Menggugurkan Kandungan Menurut Islam

Haram Menggugurkan Kandungan Menurut Islam

Haram Menggugurkan Kandungan Menurut Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang haram menggugurkan kandungan menurut islam.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Maaf mau tanya, barusan saya ikut kajian di kampung mengenai perzinahan, kata ustadnya ada pendapat Kyai-kyai, yaitu sebelum roh ditiupkan diperbolehkan untuk digugurkan untuk menutup aib, apakah ini ada acuan yang membenarkan argumen tersebut?

Jazakumullah khairan katsiron ustadz, barakallahu fiik.

(Disampaikan oleh Fulanah, sahabat BiAS T10-045)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal  Ikhwan wal Akhwat baarakallah fiikum Ajma’in.

Tidak boleh dan haram hukumnya bagi seorang wanita menggugurkan janinnya, sama saja karena janinnya belum ditiupkan ruh ataupun sudah, karena alasan hendak menutup aib dari perbuatan zinanya.
Ini adalah terlarang, dan kami tidak mengetahui ada pendahulunya dari pendapat Ulama, yang ada adalah pengharaman. Bahkan di antara mereka ada yang melarang secara mutlak, sama sekali tidak boleh. Mereka berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan nuthfah (setetes mani) dalam tempat berdiam yang kokoh, dalam firman Allah Ta’ala :

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
(QS. Al Mukminun : 13).

Maka berdasarkan ayat ini, tidak boleh dia (janin) dikeluarkan dari tempatnya kecuali dengan satu sebab yang syar’i.” Demikian pelarangan mutlak ini datang dalam mazhab Maliki.

Tiga Pendapat Dalam Menggugurkan Kandungan

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pendapat Ulama tentang menggugurkan janin (Aborsi) sebelum ditiupkan ruh terbagi menjadi 3 kelompok besar :

1. Kelompok yang membolehkan aborsi sebelum ditiup ruh pada janin. Ini pendapat minoritas Ulama madzhab Syafi’iyah, Hambaliyah dan Hanafiyah.

2. Kelompok yang membolehkan aborsi sebelum dimulai pembentukan bentuk janin yaitu sebelum empat puluh hari pertama. Ini pendapat mayoritas mazhhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Pendapat ini dirajihkan Syaikh Ali Thanthawi rahimahullah.

3. Kelompok yang mengharamkan aborsi sejak terjadinya pembuahan dalam rahim. Ini pendapat yang rajih dalam madzhab Malikiyah, pendapat imam al-Ghazali, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Rajab al-Hambali dan Ibnu al-Jauzi. Inilah pendapat madzhab Zhahiriyah.
(lihat pembahasan lebih lengkap dalam kitab Ahkamul-Janin fil-Fiqhil-Islam, karya Syaikh Umar bin Muhammad bin Ibrahim Ghanim).

Syari’at Islam yang mulia dalam agama yang lurus ini, diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh manusia, untuk menjaga agama, jiwa, harta, kehormatan dan keturunan. Lima hal pokok ini kemudian disebut dengan ad-dharûriyatul khams (5 pokok dasar yang harus dijaga).
Segala tindakan yang mengarahkan kepada pengerusakan terhadap lima perkara pokok yang dilindungi syari’at ini, dianggap sebagai tindakan kriminal dan dihukumi haram. Pelakunya diancam dengan berbagai macam hukuman.

Salah satu tindakan kriminal itu adalah aborsi tanpa alasan yang dibenarkan syari’at. Janin yang sudah diberikan ruh oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki hak hidup yang diakui syari’at Islam.

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.”
(QS. al-Isra`: 33).

Sebagaimana juga melarang sikap merubah ciptaan Allah Ta’ala dalam firmanNya:

وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ

“Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya.”
(QS. an-Nisaa`: 119).

Aborsi mirip (walaupun tak sama hukumnya) dengan al-Wa`du (membunuh anak hidup-hidup) yang dahulu pernah dilakukan di zaman Jahiliyah, bahkan tidak lebih kecil kejahatannya. Islam sangat mengingkari hal ini sebagaimana firman-Nya:

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,”
(QS. at-Takwir : 8).

Oleh karena itu, menimbang semua pertimbangan di atas, maka pelaku tindakan yang menyebabkan sang janin kehilangan hak hidup, berhak mendapatkan hukuman.

Pengecualian Kasus

Dikecualikan dalam hal ini jika memang janin tersebut belum ditiupkan ruh kemudian dikehendaki aborsi karena Janin di dalam kandungan mati atau jiwa sang ibu terancam secara valid dibuktikan dengan keterangan pakar dan ahli, atau janin ini adalah hasil dari pemerkosaan terhadap wanita secara nyata dan hukum syar’i menyatakan wanita ini ingin menggugurkannya, maka dalam hal ini, hukumnya boleh.

Untuk memahami hukum aborsi lebih lanjut, terlebih dahulu kita memperhatikan fase-fase janin dalam kandungan sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berikut ini:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ

“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari (berupa nutfah), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk mencatat empat perkara: amal, ajal, rizki, celaka atau bahagia. Lalu ditiupkan ruh.”
(Muttafaqun ‘alaih – kesepakatan Bukhari dan Muslim-, HR. Bukhari, no. 3208 dan Muslim, no. 2643).

Fatwa Ulama Dalam Masalah Menggugurkan Kandungan

Fatwa Lajnah Da`imah (Kumpulan Ulama Besar Dalam Masalah Fatwa dari negeri haramain KSA) menetapkan :

1. Menurut Hukum Islam, hukum asal menggugurkan kandungan dalam berbagai usia itu tidak boleh.

2. Menggugurkan kandungan pada priode awal yaitu saat usia kandungan 40 hari, tidak boleh dilakukan kecuali untuk mencegah bahaya yang dikhawatirkan akan terjadi atau untuk mewujudkan maslahah syar’iyyah (kebaikan yang sesuai syari’at). Semuanya sesuai dengan ketentuan orang yang ahli, baik secara medis ataupun secara syar’i.

Sedangkan pengguguran kandungan pada masa sekarang ini, yang dilakukan karena alasan takut susah dalam mendidik anak, atau takut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dan memenuhi biaya pendidikan, atau dengan dalih demi masa depan mereka, atau dengan dalih sudah cukup dengan jumlah tertentu anak-anak yang sudah didapatkan oleh pasangan suami istri, maka itu tidak boleh dilakukan.

3. Apabila kandungan itu sudah berbentuk ‘alaqah (segumpal darah) atau mudhghah (segumpal daging), maka tidak boleh digugurkan, sampai ada tim dokter yang bisa dipercaya menetapkan bahwa jika membiarkan kehamilan berlanjut akan membahayakan keselamatan sang ibu.
(Misalnya-pent) dikhawatir akan menyebabkan kematian sang ibu. Jika ada tim ahli yang menetapkan seperti itu, maka kandungan tersebut boleh digugurkan setelah menempuh segala upaya untuk menghindari bahaya tersebut.

4. Setelah priode ketiga dan setelah usia kandungan genap empat bulan, maka tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan sampai diputuskan oleh tim dokter spesialis yang bisa dipercaya, bahwa membiarkan janin tetap berada dalam perut sang ibu bisa menyebabkan kematian ibunya. Itupun setelah menempuh berbagai upaya untuk menyelamatkan hidup sang ibu.
Rukhshah (keringanan hukum) bolehnya menggugurkan kandungan dengan syarat-syarat (yang telah disebutkan-pent) ini adalah demi mencegah bahaya yang lebih besar dari dua bahaya dan untuk mengambil maslahat yang lebih besar dari dua maslahat.
(Fatâwa Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta`, 21/435-436).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 18 Jumadal Akhiroh 1441 H / 12 Febaruari 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS