Hama Ilmu Dan Ibadah

Hama Ilmu Dan Ibadah

Hama Ilmu Dan Ibadah

Seandainya kita berbicara tentang ilmu maka tak akan ada batasnya, sebab ilmu tak bertepi, ilmu pun tak berujung. Karena sebab ilmu seseorang menjadi mulia dan karena sebab ilmu seluruh makhluk akan memuliakannya.

Ketika anda menuntut ilmu prioritaskan diri anda agar ikhlas dalam menuntutnya, sebab ilmu tak akan hinggap pada diri orang yang sombong. Oleh karena itu seseorang yang berilmu tak akan berhenti belajar, dia tidak mencukupkan diri dgn ilmu yang ia miliki, ia selalu ingin mencari dan menambah ilmu. Sa’id ibnu Jubair rahimahullaah berkata:

“Seseorang akan tetap disebut ulama (orang yang berilmu) selama dia belajar. Adapun jika dia berhenti mencari ilmu dan menganggap dirinya telah cukup, maka dia menjadi orang yang paling bodoh.” (Min Hadyi Salaf, hal. 77)

Jika padi punya hama yang namanya wereng, begitu juga dengan ilmu hamanya adalah kesombongan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

“آفة العلم الكبر، وآفة العبادة الرياء”

“Hama (penghalang) ilmu adalah kesombongan, dan hama ibadah adalah riya’ . (Ar Raddu ‘ala Asy Syadzaliy hal. 207)

Mungkin orang yang sombong atas ilmu yang ia miliki sedang terjangkiti hama berupa riya’, sombong dan sum’ah, jika padi saja ada yang varietas unggul dan anti wereng dinamakan Inpari, maka seharusnya penuntut ilmu juga perlu menjadi penuntut ilmu dengan varietas unggul, dinamakan Thaalibun Najihun (murid sukses).

Belajarlah Anda wahai ikhwah dan akhwat untuk memperbaiki niat, olah hati agar tak sombong. Biasanya orang yang sombong susah menerima kebenaran, apalagi mau mengambil faedah ilmu, justru sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Ibnu Jama’ah rahimahullaah berkata:

“Janganlah seorang sombong menolak untuk mengambil faedah ilmu yang ia belum ketahui dari orang yang di bawahnya! Bahkan hendaklah ia bersungguh-sungguh mencari faedah ilmu, karena hikmah adalah milik seorang mukmin di manapun ia temui hendaklah ia mengambilnya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, Khatib Al-Baghdadi, melalui Min Hadyi Salaf, hal. 77)

Jika seseorang sudah sombong, maka ia tidak  akan mendapat faedah ilmu, karena sudah merasa cukup atas ilmu yang ia miliki. Kalau sombong, beramal pun tanpa ilmu, kemudian ibadahnya pun riya’ karena beramal tanpa ilmu.

Kesimpulannya:

Ilmu tanpa Amal = Sia-sia, Amal tanpa Ilmu = Hampa

Terkadang memang menyakitkan tatkala ilmu dipelajari namun hanya digunakan sebagai wacana saja. Ilmu tidak lebih masuk ke dalam hati lalu teramalkan dalam lisan dan anggota badan. Padahal saat ilmu diterjemahkan dalam bentuk amalan, ia melahirkan khasyah (rasa takut kepada Allah). Sehingga sang pemilik ilmu pun beradab dan berakhlak mulia, nilai keimanan terpancar dalam bentuk khasyah (rasa takut) disertai tawadhu’. Namun hari ini saat ia menjadi wacana dan wawasan, lahirlah debat-debat yang tak berujung, lalu hatipun menjadi keras. Ini akibat ilmu yang tak sampai ke dalam hati, ia hanya makanan lezat yang dicicipi semata. Ibarat menu makan prasmanan semua orang boleh merasakan dan mencicipi, sehingga muncullah para ahli fatwa dadakan.

Ingatlah wahai saudaraku, sekali lagi ilmu itu tak bertepi, sedangkan lisan itu bertepi, barangsiapa yang tak mampu meraih ilmu yang nafi’ (bermanfaat) biasanya lisannya akan komat-kamit kemana mana mencari mangsa. Virus ghibah, tahdzir ala ikhwan dan akhwat jaman sekarang pun banyak tersebar. Ilmu yang luas dan tanpa ujung tak sebanding dengan umur yang terbatas.

Ingat perkataan Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu :

اَلْعِلْمُ كَثِيْرٌ وَالْعُمْرُ قَصِيْرٌ فَخُذْ مِنَ الْعِلْمِ مَا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِيْ أَمْرِ دِيْنِكَ.

“Ilmu itu banyak sedangkan umur itu pendek (terbatas), maka ambillah ilmu (yang terpenting) yang engkau butuhkan dalam urusan agamamu.” (Shifatush Shafwah, 1/546).

Saudaraku, ada beberapa faedah yang dapat kita ambil dari pelajaran diatasi, diantaranya :

[1] Jangan sampai anda ingin mempelajari semua ilmu, sebab ilmu Agama itu luas dan dalam ia laksana lautan yang tak bertepi.

[2] Sadari bahwa usia dan hidup ini begitu singkat maka gunakan waktu semaksimal mungkin. Manfaatkan waktu luang sebaik-baiknya.

[3] Prioritaskanlah dalam mempelajari ilmu yang paling dibutuhkan diantaranya adalah ilmu tentang aqidah dan ibadah, jangan mempelajari ilmu yang fardlu kifayah sebelum mempelajari ilmu yang fardlu ‘ain, atau terkadang seseorang membutuhkan kepada ilmu tertentu dibandingkan ilmu yang lainnya, misalnya para pedagang wajib mengetahui seluk beluk riba, sementara orang kaya wajib mengetahui hukum yang terkait zakat.

[4] Saudara kita yang baru ngaji jangan mempelajari dulu ilmu jarah dan ta’dil, atau ilmu mencela dan membantah atau berdebat didalam ilmu dan agama. Karena yang demikian itu bukan lah medan para penuntut ilmu akan tetapi medannya para ulama. Jadi jangan sekali-kali mencicipi tahdzir, awalnya nikmat ujungnya ghibah akhirnya kena dosa.

[5] Berlindunglah kepada Allah dari rusaknya niat dalam menuntut ilmu dan hati-hati jangan salah pilih tempat ngaji karena akan berujung penyesalan. Pilihlah orang-orang yang kokoh manhajnya. Jangan buang-buang waktu percuma dan berakhir pada kesesatan. Dengarlah nasehat Imam Ibnu Sirin rahimahullah :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ.

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian.” (Shahih Muslim, 1/7). Mintalah kepada Allah tambahan ilmu dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat dan juga rusaknya niat. Allahua’lam bishawab.

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ حفظه الله



👤 Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ حفظه الله

(Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya, Mahasiswa S2 Magister Hukum Islam – Kelas Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta, Da’i Mukim Yayasan Tebar Da’i Mukim di Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah)

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi حفظه الله  klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS