Hadits-hadits Tentang Berbakti Kepada Kedua Orangtua

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan artikel tentang hadits berbakti kepada kedua orangtua.
selamat membaca.


Syariat islam sebagai aturan yang sangat sempurna, memiliki peranan dalam mengatur kehidupan manusia dan menjaga hubungan satu individu dengan individu lainnya, menjaga agar hak bisa terpenuhi dan kewajiban bisa terlaksana, sehingga tidak ada sebuah kezhaliman pun terjadi jika masyarakat dalam sebuah lingkungan mau mengamalkan ajaran islam.

Begitu pula perihal orangtua, yang notabenenya menjadi penyebab dan perantara lahirnya seorang insan yang baru di atas dunia, tidak hanya sampai di sana, ada lagi kewajiban syariat yang Allah wajibkan atas mereka yaitu menjaga, merawat dan mendidik anak tersebut, sehingga bisa menjalani kehidupan sesuai aturan Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman,

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ  ١٤

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

Kalaupun orangtua memiliki kesalahan, syariat islam tetap melarang seorang anak untuk menyakiti orangtua, bahkan jika orang tua menyuruh untuk berbuat syirik. Allah ﷻ berfirman:

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ….  ١٥

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik….” (QS. Lukman : 15).

Baca Juga:  Curhat yang Dianggap Ghibah

Karena agungnya kedudukan orangtua dalam agama Islam, maka kita dapati petunjuk dari manusia terbaik, Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits-hadits beliau, di antaranya:

  1. Orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan anak adalah orangtua.

Abu Hurairah berkata,

جاءَ رَجُلٌ إلى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ، مَن أحَقُّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحابَتِي؟ قالَ: «أُمُّكَ» قالَ: ثُمَّ مَن؟ قالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قالَ: ثُمَّ مَن؟ قالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قالَ: ثُمَّ مَن؟ قالَ: «ثُمَّ أبُوكَ»

“Seseorang pernah bertanya kepada rasulullah ﷺ; Duhai rasulullah ﷺ, siapa orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik? Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu”. Orang tersebut berkata: siapa lagi ya rasulullah? Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu”. Orang tersebut berkata: siapa lagi ya rasulullah? Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu”. Orang tersebut berkata: siapa lagi ya rasulullah?. Beliau ﷺ menjawab: “Ayahmu”” (HR. Bukhari, no. 5971 & Muslim, no. 2548).

Dalam hadits tersebut Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa orangtua adalah orang yang harusnya pertama kali mendapatkan kebaikan seorang anak. Bahkan ibu mendapat perhatian yang sangat besar, sampai Rasulullah ﷺ menyebutkan sebanyak tiga kali.

 

  1. Berbakti kepada orangtua adalah sebab lepas dari kesulitan.

Suatu ketika Rasulullah ﷺ menceritakan tentang tiga orang yang terkurung di dalam goa yang ditutupi batu besar. Lalu mereka pun menjadikan amalan terbaik sebagai wasilah (perantara) tatkala berdoa kepada Allah ﷻ. Salah seorang dari mereka berdoa:

اللهم إن كنت تعلم أنه كان لي أبوان شيخان كبيران، فكنت آتيهما كل ليلة بلبن غنم لي، فأبطأت عليهما ليلة، فجئت وقد رقدا وأهلي وعيالي يتضاغون من الجوع، فكنت لا أسقيهم حتى يشرب أبواي فكرهت أن أوقظهما، وكرهت أن أدعهما، فيستكنا لشربتهما، فلم أزل أنتظر حتى طلع الفجر، فإن كنت تعلم أني فعلت ذلك من خشيتك ففرج عنا، فانساحت عنهم الصخرة حتى نظروا إلى السماء.

“Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku memilki orang tua yang sudah lansia. Aku selalu membawakan mereka susu perahan kambingku setiap malam. Suatu malam aku terlambat menghantarkan susu kepada mereka, sehingga aku mendapati mereka sudah terlelap, sedangkan keluargaku sudah menangis karena lapar. Dan aku tidak ingin memberikan susu tersebut kepada keluargaku sebelum orang tuaku, namun aku tidak tega membangunkan mereka, dan  meninggalkan mereka sehingga membuat mereka menunggu untuk memnum susu tersebut. Sehingga akupun menunggu sampai terbit fajar. Jika, Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal tersebut karena takut kepadaMu, maka bukakanlah pintu goa ini. Maka batu besar tersebut bergeser dan mereka pun bisa melihat langit” (HR. Bukhari, no. 3465).

 

  1. Berbakti kepada orang tua adalah amalan paling utama.
Baca Juga:  Menyikapi Keluarga yang Kental Dengan Adat dan Tradisi

Abdullah bin Mas’ud berkata,

سألت رسول الله ﷺ: أي الأعمال أحب إلى الله؟ قال: «الصلاة على وقتها» قلت: ثم أي؟ قال: «ثم بر الوالدين» قلت: ثم أي؟ قال: «ثم الجهاد في سبيل الله»

“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ amalan mana yang paling Allah cintai? Beliau ﷺ menjawab: sholat pada waktunya. Aku berkata: setelahnya apa? Beliau ﷺ menjawab: berbakti kepada orangtua. Aku berkata: setelahnya apa? Beliau ﷺ menjawab: jihad di jalan Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 139).

 

  1. Orang tua adalah pintu surga paling tengah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه

“Orangtua adalah pintu surga paling tengah, terserah kamu ingin merawat pintu tersebut atau tidak” (HR. Tirmidzi, no. 1900).

 

  1. Surga berada di kaki ibu.
Baca Juga:  Apakah Anak Laki - laki Termasuk Mahrom?

Seorang sahabat Nabi ﷺ yang bernama Jahimah pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ,

“Duhai Rasulullah aku ingin berperang bersamamu, sekarang aku ingin meminta saran kepadamu. Rasulullah ﷺ pun bertanya: apakah kamu memiliki seorang ibu? Jahimah berkata: masih ya Rasulullah, maka Rasulullah ﷺ bersabda:

فالزمها، فإن الجنة تحت رجليها

“Temanilah ibumu, karena sungguh surga ada pada kedua kakinya” (HR. An-Nasa’I: 3104).

Al-‘Ajluny berkata,

والمعنى: أن التواضع للأمهات وإطاعتهن في خدمتهن وعدم مخالفتهن إلا فيما حظره الشرع سببٌ لدخول الجنة

“Makna hadits tersebut adalah sikap tawadhu’ (merendahkan diri), taat ketika mendampingi seorang ibu dan tidak membantah perintahnya kecuali jika dalam hal yang dilarang syariat adalah sebab masuk surga.” (Kasyful khafa’ : 1/387).

 

  1. Ridha Allah ﷻ ada pada keridhaan orang tua.

Rasulullah ﷺ bersabda,

رضى الرب في رضى الوالد، وسخط الرب في سخط الوالد

“Ridha Allah ada pada ridha orangtua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orangtua” (HR. Tirmidzi, no. 1899).

 

Wallahu a’lam.