Fiqih

Hadist Dho’if, Do’a Keluar dari WC / Kamar Mandi

Hadist Dho’if, Do’a Keluar dari WC / Kamar Mandi

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan hadist dho’if, do’a keluar dari WC/kamar mandi. Selamat membaca.


Pertanyaan:

بسم اللّه الرّحمن الرّحيـــــــم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

‘Afwan ustadz, saya mau bertanya hadits tentang do’a keluar dari WC الحمد لله الذي اذهب عني الاذي وعافاني, bukankah hadits ini dho’if ya ustadz? Apakah do’a tersebut boleh digunakan?

Dan hadits tentang “ketika buang hajat disunnahkan duduk di atas kaki kiri sementara kaki kanan di luruskan” ini juga dho’if, apakah kegiatan tersebut masih bisa disebut sunnah?

Sedangkan “sunnah” yang saya pahami selama ini adalah kegiatan yang dicontoh kan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mohon penjelasannya ustadz. Untuk masalah ini saya belum mengerti. Jazakumullah khayran.

Baca Juga:  Imam Batal Sholatnya Tapi Masih Dilanjut, Bagaimana Cara Taubatnya?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

Benar, hadist terkait dengan lafadz tersebut adalah lemah, sehingga tidak bisa digunakan. Sebagiamana yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab Sunannya dari jalan Anas bin Malik radhiyallahu anhu.

Derajat hadits tersebut DHO’IF JIDDAN (sangat lemah), karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Isma’il bin Muslim Al-Makky, dia dinilai sebagai perawi yang Munkar haditsnya, atau Matruk (ditinggalkan) haditsnya.

Di antara para ulama hadits yang menilainya DHO’IF adalah: Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, Al-Hafizh Ibnu Katsir, Imam An-Nawawi., Imam Adz-Dzahabi., Syaikh Al-Albani., Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad dan yang lainnya.

Baca Juga:  Kisah Dusta Tentang Kehalalan Daging Babi

Pada hadist terkait duduk di atas kaki kiri dan dan kaki kanan direnggangkan/diluruskan sebagaimana hadist di bawah ini adalah lemah maka tidak bisa dikatakan bahwa itu adalah sunnah.

رواه سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ ـ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ـ قَالَ: عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَلَاءِ أَنْ نَقْعُدَ عَلَى الْيُسْرَى، وَنَنْصِبَ الْيُمْنَى. قال الحافظ في البلوغ: رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ.

Suraqah Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami tentang cara buang air besar yaitu agar kami duduk di atas kaki kiri dan merentangkan/menegakkan kaki kanan. (Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh alhafidz di kitab Bulughul Maram)

Hadis ini juga disebutkan dalam kitab Bulughul Maram Min Adillati al-Ahkām bab adab buang hajat, Ibnu Hajar al-Asqalani juga melemahkan hadis ini, bahkan Imam al-Baihaqi sendiri yang mencantumkam hadis ini dalam kitabnya, juga melemahkan hadis ini, karena ada dua tokoh yang tidak dikenal dalam sanadnya yaitu al-Madlaji dan Muhammad bin Abdurrahman, penjelasan ini disebutkan oleh as-Syeikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan dalam kitab Minhatu al-‘Allām Syarh Bulughil Marām.

Baca Juga:  Bolehkah Mentalak di Lakukan via Sms atau Telepon

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H/ 18 Juli 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button