Muamalah

Gratis Ongkir Shopeepay, Riba Atau Bukan?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Gratis Ongkir Shopeepay, Riba Atau Bukan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Gratis Ongkir Shopeepay, Riba Atau Bukan? selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz yg semoga senantiasa dilindungi Allah Subhanahu wa Ta’ala,, afwan ijin bertanya.. ana membeli barang di marketplace shopee.. setelah dibayar ternyata barang tersebut stok kosong, akhirnya ana batalkan dan otomatis dana langsung masuk ke shopeepay..

Kemudian ana membeli barang lagi dg uang dr shopeepay tsb.. di shoppe ada 2 macam gratis ongkir, yg 1 (khusus) untuk pengguna shoppepay, lalu yang ke 2 (umum) untuk pengiriman pulau jawa.. saya tdk menggunakam gratis ongkir khusus pengguna shopee pay..

Pertanyaannya apakah saya boleh memanfaatkan gratis ongkir yg umum (pengiriman pulau jawa)? dmana saya biasa menggunakan gratis ongkir tsb ketika bayar dg transfer? jazakallahu khairan

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh.

Ada khilaf diantara ulama terkait hadiah yang diterima dari marketplace, apakah halal atau tidak? Semua kembali kepada penghukuman terhadap transaksi yang di lakukan, apakah dianggap masuk pada bab hutang piutang atau apakah ia sebagai traksaksi titipan.

Bila transaksi antara pembeli, penjual dan marketplace dianggap sebagai transaksi hutang piutang maka hadiah tambahan yang di berikan dianggap sebagai riba yang diharamkan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasaallam,”

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ حَرَامٌ

“Setiap utang piutang yang di dalamnya ada keuntungan, maka itu dihukumi haram.”

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

“Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6: 436)

Kemudian Ibnu Qudamah membawakan perkataan berikut ini,

“Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْمُسَلِّفَ إذَا شَرَطَ عَلَى الْمُسْتَسْلِفِ زِيَادَةً أَوْ هَدِيَّةً ، فَأَسْلَفَ عَلَى ذَلِكَ ، أَنَّ أَخْذَ الزِّيَادَةِ عَلَى ذَلِكَ رَبًّا .

“Para ulama sepakat bahwa jika orang yang memberikan pinjaman memberikan syarat kepada yang meminjam supaya memberikan tambahan atau hadiah, lalu transaksinya terjadi demikian, maka mengambil tambahan tersebut adalah riba.”

Pe؛ndapat lain yang mengatakan bolehnya free ongkir tersebut karena melihat bahwa uang yang diibayarkan dan di masukkan ke dalam rekening bersama tidak dianggap sebagai hutang piutang, ia hanya sebagai tempat penitipan yang dibuat oleh pihak marketplace, sebagai media /tempat transaksi yang disepekati dan dianggap aman, dimana tetap menjadikan uang yang dibayarkan melalui rekening bersama masih milik pembeli yang dititipkan kepada pihak marketplace.

Marketplace bukan sebagai penjual atau pemberi hutang namun ia sebagai media penjamin akan keamanan dan lancarnya jual beli yang akan dilakukan oleh pihak pembeli dan penjual.

Maka atas dasar ini sebagian mengatakan bahwa apapun yang diberikan oleh marketplace bukanlah riba yang dilarang, karena bukan akad hutang piutang dan tidak ada hubungan sama sekali dengan transaksi yang telah di sepakati diantara penjual dan pembeli dengan menjadikan tempat/media yang dibuat oleh pihak ke tiga (marketplace)

Pendapat ini yang kami lebih cenderung pilih, karena melihat sisi alur jual beli yang disebutkan di atas, dimana market place bukan bagian dari si pemberi hutang atau penerima hutang, ia pihak ke tiga yang tidak terkait dengan akad tersebut, sehingga apapun yang diberikan pihak marketplace sebagai pemicu/pemantik para konsumen untuk menjadikan marketplace nya sebagai media jual beli bukan riba yang di larang dalam hadist tersebut.

Lalu menjadi pertanyaan berikutnya, kalau marketplace tidak terkait maka tidak mungkin ia akan memberikan barang/fasilitas dengan cuma cuma? Dari mana atau maukah ia akan memberikan hadiah cuma cuma tersebut tanpa ada manfaat yang didapatkan dari jual beli tersebut?

Kita bisa katakan, benar adanya tidak mungkin pihak market place akan memberikan cuma cuma dari penawaran bonus/hadiah tanda ada keuntungan yang didapatkan.

Namun perlu dipahami juga, bahwa keuntungan marketplace bukanlah mengambil secara langsung dari akad yang terjadi namun dari akad lain yang berupa jasa dari tempat yang dimilikinya, untuk mengambil keuntungan sesuai kesepakatan pada akad yang lainnya.

Perkara sah tidaknya keuntungan tersebut, maka tidak terkait langsung dengan fee ongkir atau hadiah yang ditawarkan oleh pihak marketplace untuk memberikan keuntungan kepada para penjual dan pembeli yang telah memakai jasa layanan yang ditawarkan.

Namun begitu, walau kami mengatakan bolehnya hal tersebut, dari pihak pembeli yang memungkinkan untuk memiilih, maka sebaiknya untuk tidak menggunakan free ongkir tersebut.

Sebagai bentuk kehati-hatian dan menjauhkan diri dari sesuutu yang di perselisihkan oleh para ulama, sebagai bentuk kewaspadaan kita untuk tidak mendekati apa yang dilarang oleh sebagian para ulama..

Berharap Allah memberikan keberkahan dengan apa yang kita dapatkan dari rezeki yang telah di titipkan kepada kita semua dengan sifat wara` yang dimiliki terhadap sesuatu yang berpotensi memunculkan keharaman.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Jum’at, 9 Ramadhan 1444H / 31 Maret 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button