Gadai Tambak

Pertanyaan dari Hamba Alloh

Dijawab oleh : ? Ustadz DR. Erwandi Tarmizi, MA

Source : ETA [Erwandi Tarmizi & Associates]

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة اللّه

Ana bertanya tentang gadai tambak dan kita manfaatkan tambak tersebut berdasarkan kesepakatan bersama.
Bagaimana hukum islam dalam hal ini, Ustadz?

جـزاك اﻟلّـہ خـــيرًا

Jawaban

وعليكـمــ اﻟسّلامــ ورحمـۃ اﻟلّـہ وبركاتہ
​​‎​

Waallāhu Ta’āla ‘a’lam
Pertanyaannya juga belum terlalu jelas, tapi banyak kemungkinan berarti.

Pertama, dia meminjam uang kemudian orang yang memberikan pinjaman meminta barang gadai itu (tambak) kemudian barang gadaian ini dipegang oleh si pemberi pinjaman, sampai disini tidak ada masalah.

Kalau si pemberi pinjaman tadi (yang menerima barang gadaian tadi) mensyaratkan bahwa tambak dia yang mengelola, (dalam hal ini belum langkah selanjutnya ini), masih persyaratan dia mengelola, dalam hal ini jumhur para ulama MELARANG sama sekali.

Andai umpamanya disepakati bahwa sipemilik tambak tadi (yang menerima pinjaman) sama sekali tidak mendapatkan hasil apapun dari tambak, seluruhnya adalah milik sipemberi hutang (yang statusnya memegang barang gadaian), sepakat para ulama ini adalah RIBA dan akadnya (akad gadai menggadainya) batal.

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat maka ini adalah riba”

Dan disini, pemberi pinjaman mendapatkan manfaat menggunakan dan hasil tambak untuk dia.

Karena kalau tidak pinjaman, (maka, -pent) dia tidak bisa mendapatkan tambak ini, kecuali dengan cara sewa menyewa.

Sekarang didapatkan tanpa membayarkan uang sewa nya.
Andai dikatakan bahwasanya perkirakan bahwa uang sewa tambak tersebut untuk satu kali panen sekitar 10 Juta (umpamanya), maka hutangnya tadi (andai hutangnya 100 Juta), bukan 100 Juta lagi ketika dibayar oleh pemilik tambak ini, tetapi 100 Juta + 10 Juta (hutang penerima pinjaman + uang sewa tambak), jelas ini ada pertambahan dari hutang yang ini merupakan RIBA.

Kalau umpamanya disepakati bahwasanya daripada tambak tersebut hak almurtahin (penerima) untuk memegangnya, bolehkah dia mengizinkan kepada pemilik tambak untuk mengelolanya? Kalau di izinkan (maka, -pent) boleh, kalau tidak diizinkan (maka, -pent) tidak boleh.

Sekarang kalau di izinkan oleh dia pemilik tambak (yang menerima utang tadi) untuk mengelolanya, kalau di izinkan dia boleh, kalau dia tidak mengizinkan tidak boleh karena ini Rahn namanya al habs (tertahan barangnya) dan tentu tidak akan berguna tambak ini, tidak produktif jadinya.

Kalau umpamanya sipemilik tambak mengizinkan kepada penerima gadai, statusnya si pemberi pinjaman untuk mengelola dan kalau dikelola tadi tanpa ada imbalan sama sekali (untuk pemilik tambak, -pent), kita katakan dan sepakat para ulama adalah RIBA.

Sekarang ada imbalan untuk pemilik tambak. Tergantung juga kalau umpamanya imbalannya itu lebih murah (biasanya seperti itu) daripada harga sewa tambak biasanya (artinya kalau tanpa diikat dengan akad Qardh tadi) harga Sewa tambak biasa umpamanya 10 Juta tapi karena ada pinjaman tadi, (lalu pemilik tambak mengatakan, -pent),”yaa sudah tidak apa-apa, kamu bayar sewa tambaknya sekitar 8.5 Juta”, (maka, -pent) ada RIBA disana sebanyak 1.5 Juta.

Tapi kalau harganya masih harga normal (harga biasa), maka In syā Allāh tidak mengapa dalam akad ini, karena dzariatu riba nya telah hilang.

? Dan dalam sebuah kaidah bahwasanya

Maa huurima fadl lidzdzari’ah udziifah lilhaajah

“Sesuatu yang diharamkan karena mengantarkan kepada sesuatu yang diharamkan”

Ini dilarang menggunakan barang gadaian karena bisa mengantarkan kepada riba menggabung antara akad sewa menyewa karena dua akad, sekarang sewa menyewa, qord, dan (bahkan 3 akad, -pent) Rahn.

Rahn tidak masalah karena akad taufiq.

Akad sewa menyewa dengan hutang piutang ini Dzariah untuk riba (atau, -pent) bisa sarana menyampaikan kepada perbuatan riba, bukan karena ribanya diharamkan

Dan ada hajah, hajahnya apa? Yaitu tadi hajah nya bila hukum asalnya tidak boleh digunakan oleh pemilik barang kecuali dengan izin, dan dia tidak mengizinkan akan tidak produktif barang ini, tambak ini akan tidak produktif, sia-sia tanah tambak tersebut.

Maka hajah qoimah (hajah kebutuhan) untuk menggunakan barang ini ada dan tidak ada yang dizhaliman disini, tidak ada mengandung unsur riba , In syā Allāh tidak mengapa karena ada hajah untuk membolehkannya, tapi dengan ketentuan bahwa (harga, -pent) sewanya sama dengan sewa biasa

وبالله التوفق

✒ Ditranskip oleh : Team Transkip BiAS & ETA