Faedah Hadist

Fawaid Hadist #142 | Menjadi Pelopor Kebajikan, Bukan Sebaliknya

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Fawaid Hadist #142 | Menjadi Pelopor Kebajikan, Bukan Sebaliknya

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan serial fawaid hadist, Fawaid Hadist #142 | Menjadi Pelopor Kebajikan, Bukan Sebaliknya. Selamat membaca.


[div class=fawaid-hadis]

عَنْ أَبِي عَمْرٍو جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيَّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Amr Jarir bin Abdullah radhiyallahu anhu ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang memberi contoh (memulai) sunnah yang baik dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelah itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberi contoh perilaku yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

(HR. Muslim, no. 1017).

[/div]

FAEDAH HADIST

Hadist ini memberikan faedah – faedah berharga, di antaranya;

  1. Maksud “memberi contoh” pada sabda Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang memberi contoh perilaku baik dalam Islam,” yaitu memulai melakukan sesuatu yang disunnahkan, bukan membuat sesuatu yang baru, karena orang yang membuat perkara baru dalam Islam yang bukan berasal dari Islam itu sendiri, maka tertolak dan bukanlah hal yang baik.
  2. Dalam hadist ini, yang dimaksud dengan orang yang berbuat sunnah adalah orang yang pertama kali melakukannya, seperti orang yang datang membawa sedekah, dan lainnya termotivasi karena hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang didapati melakukan sunnah yang baik dalam Islam, baik dengan bersegera melaksanakannya atau ia menghidupkannya setelah sunnah itu sebelumnya mati.
  3. Sunnah hasanah (yang baik) itu secara umum terbagi menjadi dua macam,
    Pertama; Sunnah itu harus disyariatkan, lalu tidak diamalkan, kemudian datang orang yang memperbaharuinya seperti Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) dengan satu imam, karena pada awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mensyariatkan kepada umatnya agar shalat dengan satu imam pada shalat tarawih di bulan Ramadhan, kemudian baginda meninggalkannya sebab khawatir hal ini akan diwajibkan kepada umat. Kemudian hal ini ditinggalkan sampai akhir kehidupan Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam,_ juga pada masa khalifah Abu Bakar As-siddiq dan pada masa awal khalifah Umar Al-Khaththab setelah itu. Lalu Umar memandang perlu mengumpulkan orang-orang (untuk shalat) dengan satu imam, kemudian ia melaksanakan hal tersebut. Maka Umar telah membuat sunnah yang baik dalam Islam, karena Umar telah menghidupkan sunnah yang sudah ditinggalkan.
    Kedua; Termasuk dari sunnah yang baik adalah apabila seseorang bersegera melakukannya, sebagaimana keadaan para sahabat yang bersegera dalam bersedekah hingga diikuti oleh yang lainnya, di mana mereka setuju dengan apa yang dilakukannya.
  4. Menjadi pelopor kebaikan pertama yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, dimana tidak ada sunnah yang baik, kecuali yang telah dibawa oleh syariat, maka baginya pahala dan pahala orang yang melakukan setelahnya.
  5. Dalam hadits ini juga terdapat ancaman terhadap sunnah yang jelek, bahwa orang yang melakukannya sunnah kejelekan, pelopor keburukan, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya, sampai hari kiamat.
  6. Besarnya motivasi dan pengaruh keteladanan dalam kehidupan umat manusia.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.


[div class=fawaid-hadis]

Yuk dukungoperasional & pengembangan dakwahBimbingan Islam,bagikanjuga faedah hadist ini kepada kerabat dan teman-teman.

Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab perantara dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.”(HR. Bukhari dan Muslim).

*unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabiﷺ).

[/div]

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button