Faedah Doa Tanpa Sepengetahuan Orang yang Didoakan bimbingan islam
Faedah Doa Tanpa Sepengetahuan Orang yang Didoakan bimbingan islam

Faedah Doa Tanpa Sepengetahuan Orang yang Didoakan

Sebuah kisah yang sangat luar biasa, dan semoga dapat memberi kita inspirasi untuk mencontohnya adalah apa yang dilakukan oleh sahabat yang Mulia Abu Darda Radhiallahu ‘anhu. Ummu Darda mengisahkan,

كان لأبي الدرداء ستون وثلاث مئة خليل في الله يدعو لهم في الصلاة، فقلت له في ذلك، فقال : إنه ليس رجل يدعو لأخيه في الغيب إلا وكل الله به ملكين يقولان : « ولك بمثل » أفلا أرغب أن تدعو لي الملائكة

Dahulu Abu Darda memiliki sekitar 300 orang sahabat (pertemanan di dalam ketaatan), yang di dalam shalatnya, Abu Darda seringkali mendo’akan mereka. Maka aku pun berkata kepadanya tentang apa yang ia lakukan.
Maka Ia pun berkata, “Sesungguhnya tidaklah seseorang mendo’akan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, kecuali Allah mengutus denganya dua malaikat, yang keduanya akan mengatakan, “Begitu juga denganmu.” Apakah aku tidak boleh mendambakan malaikat mendoakanku?”(1)

Masya Allah, seandainya benar apa yang dilakukan oleh Abu Darda, mendo’akan 300 sahabatnya di dalam shalatnya, maka ini suatu keutamaan yang luar biasa sekali bagi beliau.

Apa yang dilakukan oleh Abu Darda Radhiallahu ‘anhu, adalah sebuah Sunnah yang mungkin sudah ditinggalkan oleh sebagian kaum muslimin, bahkan mayoritas kaum mu’minin sudah banyak meninggalkanya, yaitu mendoakan bagi saudaranya muslim tanpa sepengetahuannya.

Kebanyakan dari kita mendo’akan saudara kita sesama mu’min jika langsung bertemu dengan orangnya, atau ketika ada momen-momen tertentu, pada pernikahanya, ketika ia sakit, ketika ia ditimpa musibah, atau ketika ia sudah meninggal dunia.

Sungguh kecintaan yang luar biasa dari Abu Darda kepada sahabat-sahabatnya, dan betapa besar keutamaan yang Insya Allah beliau akan dapatkan dengannya, yaitu dido’akan oleh para malaikat.

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: قال رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ»

Dari Abu Darda Radhiallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullahﷺ “Tidaklah seorang hamba muslim mendoakan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya kecuali malaikat akan berkata “bagimu yang semisal.””

وفي رواية له عن أبي الدرداء مرفوعًا: «مَنْ دَعَا لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ»

Di sebuah riwayat lain, juga dari Abu Darda Radhiallahu ‘anhu secara marfu’ “Barangsiapa yang mendo’akan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, malaikat yang diutus mengatakan Aaamiin, dan bagimu yang semisal.”” (2)

Maksud perkataan malaikat, Walaka bimitslin, adalah do’a dari malaikat agar orang yang berdo’a bagi saudaranya tadi mendapatkan apa yg sama.

Maka ketika kita mendo’akan saudara kita, “ya Allah lancarkanlah rizkinya, “ Maka malaikat akan mengamini do’a kita dan akan mengatakan, “semoga engkau pun sama (dilancarkan rizkinya).”

Berikut akan kami rangkumkan beberapa faidah atau keutamaan dari mendoakan saudara kita muslim tanpa sepengetahuanya

1. Do’a kita untuk saudara kita muslim tanpa sepengetahuanya akan lebih ikhlash dibandingkan jika ia mengetahui kita mendo’akannya.

Al Imam Nawawy mengatakan,

أَمَّا قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( بِظَهْرِ الْغَيْب ) فَمَعْنَاهُ : فِي غَيْبَة الْمَدْعُوّ لَهُ , وَفِي سِرّه ; لِأَنَّهُ أَبْلَغ فِي الْإِخْلَاص

Adapun, perkataan Rasulullahﷺ (yang artinya; tanpa sepengetahuanya), maka maknanya adalah tanpa sepengetahuan yang didoakan, ketika ia sendiri, karena do’a seperti ini lebih ikhlash. (3)

2. Do’a kita untuk saudara kita muslim tanpa sepengetahuanya menunjukkan kebenaran keimanan kita,

أن الدعاء بظهر الغيب يدل دلالة واضحة على صدق الإيمان لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يؤمن أحدكم حت ىيحب لأخيه ما يحب لنفسه فإذا دعوت لأخيك بظهر الغيبب دون وصية منه كان هذا دليل على محبتك إياه وأنك تحب له من الخير ماتحب لنفسك

“Bahwasanya do’a tanpa sepengetahuan yang dido’akan, menunjukan bukti yang jelas akan kebenaran iman seseorang. Karena Nabi ‘Alaihi sholatu wa sallam bersabda, “Belum sempurna keimanan seseorang diantara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa-apa yang ia cintai baginya sendiri. Jika engkau mendo’akan saudaramu tanpa sepengetahuanya, tanpa ada permintaan darinya, maka ini adalah bukti kecintaanmu kepadanya, dan sesungguhnya engkau mencintai baginya dari kebaikan apa-apa yang engkau cintai bagi dirimu.” (4)

3. Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuanya adalah termasuk do’a yang mustajab. Karena do’a kita untuk saudara kita tadi akan ikut diamini oleh malaikat. Dan do’a malaikat mustajab.

Berkata Ibnu Bathol Rahimahullah,

“ومعلوم أن دعاء الملائكة مجاب”

Sudah diketahui bahwasanya do’anya para malaikat diijabahi. (5)

Berkata Abul Hasan Al Mubaarakfuury Rahimahullah,

دعاء الملائكة مستجاب

“Do’a malaikat mustajab.” (6)

Berkata Al Imam Nawawy Rahimahullah,

وَكَانَ بَعْض السَّلَف إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَخِيهِ الْمُسْلِم بِتِلْكَ الدَّعْوَة ; لِأَنَّهَا تُسْتَجَاب , وَيَحْصُل لَهُ مِثْلهَا ” انتهى من “شرح مسلم”

“Dahulu para salaf jika ingin berdo’a untuk dirinya, maka ia mendo’akan bagi saudaranya muslim dengan do’a yang serupa ia minta untuk dirinya, karena seperti ini do’a yang mustajab. Hal yang serupa pun akan ia dapatkan”

4. Insya Allah, mendoakan kebaikan bagi orang lain tanpa sepengetahuanya akan mendapatkan pahala yang berlipat, yaitu pahala berdo’a dan pahala berbuat baik kepada saudara kita muslim, dengan mengikuti sunnah Rasulullah

Pahala berdo’a karena berdo’a itu ibadah, bahkan diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Doa adalah ibadah.” (7)

5.Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuanya adalah kebiasaan nabi dan orang-orang shalih, sebagaimana yang Allah abadikan di dalam Al Qur’an.

Do’a Nabi Ibrahim untuk kaum mu’minin

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari ditegakkanya hisab (hari kiamat)”. (8)

Do’a Nabi Nuh ‘alaihish sholatu wa salaam untuk kaum mu’minin

 رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Tuhanku! Ampunilah aku, ibu-bapakku, orang yang masuk kerumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (9)

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang dating sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampun lah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (10)

Ummul Mu’minin, ‘Aisyah pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ,

يا رسول الله، ادع الله لي، قال: اللهم اغفر لعائشة ما تقدم من ذنبها وما تأخر، وما أسرت وما أعلنت

“Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah untuku,” Maka beliau pun berdo’a, “Ya Allah ampunilah ‘Aisyah dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang, apa yang ia nampakkan dan apa yang ia sembunyikan.”

Maka ‘Aisyah pun tertawa gembira sampa-sampai kepalanya terjatuh tersandarkan ke pangkuan Rasulullah ﷺ, saking bahagianya. Maka Rasulullah ﷺ bertanya padanya,

أيسرك دعائي؟، فقلت: وما لي لا يسرني دعاؤك، فقال صلى الله عليه وسلم:إنه لدعائي لأمتي في كل صلاة

“Apakah doaku membuatmu bahagia?” Maka aku pun menjawab, bagaimana aku tidak senang dengan do’a yang engkau ucapkan. Maka rasulullahﷺ berkata, “Sesungguhnya itu adalah do’a yang aku panjatkan untuk ummatku di setiap shalat.” (11)

Semoga dari apa yang kami sampaikan berupa Sunnah yang mulia ini, disertai dengan penjelasan beberapa keutamaan-keutamaanya dapat memotivasi kita untuk melakukan hal yang serupa. Di waktu-waktu yang mustajab kita panjatkan do’a kepada Allah teruntuk saudara-saudara kita sesama muslimin secara umum, dan kita khususkan untuk kedua orang tua kita, untuk keluarga kita, untuk saudara-saudara dan sahabat-sahabat kita, untuk guru-guru dan ustadz-ustadz kita, bahkan untuk murid-murid dan santri kita.

Referensi
1.Siyar A’lamin Nubala’ (2/351)
2.Shahih Muslim no.2732
3.Syarah shahih Muslim
4.Syarah Riyadhush Shalihin (1/1715)
5.Syarah Shahih Bukhari (3/439)
6.Mir’atulMafatih, juz 5 no.309
7.HR. Tirmidzi no. 2969. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani
8.Q.S. Ibrahim: 41
9.Q.S. NUH :24
10.Q.S. Al Hasyr : 10
11.Hadits Riwayat Ibnu Hibban di dalam Shahih Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al Albany Rahimahullah.

Wallahu ‘alam.

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
Beliau adalah Alumni UNS dan STDIIS, Pengajar di Ponpes Al Irsyad Tengaran dan Ponpes Muslim Merapi Boyolali
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله  
klik disini