ArtikelFiqih

Dzikir Di Sela-Sela Sholat Tarawih, Apakah Ada Tuntunannya?

Dzikir Di Sela-Sela Sholat Tarawih, Apakah Ada Tuntunannya?

Pembaca Bimbinganislam.com, pada kesempatan ini kami hadirkan artikel tentang dzikir di sela-sela sholat tarawih, apakah ada tuntunannya?


Hukum Asal Ibadah Adalah Terlarang, Sampai Ada Dalil yang Mewajibkannya

Dzikir adalah bagian dari ibadah, dan hukum asal ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mewajibkannya atau menganjurkan pelaksanaannya, tidak diperkenankan membuat-buat dzikir yang dibaca bersamaan dengan ibadah tertentu, sebelumnya, atau sesudahnya.

Dzikir Khusus Sejatinya Tidak Ada

Nabi pernah melakukan sholat malam berjama’ah bersama para sahabat di bulan Ramadhan beberapa malam, kemudian berhenti, sahabat pun setelah sepeninggal Nabi juga melakukan sholat malam di bulan Ramadhan ada yang secara munfarid maupun berjama’ah. Namun, belum pernah diketahui ada dzikir tertentu yang mereka baca di setiap selesai dua raka’at sholat malam (tarawih), juga tidak ada penukilan dari ulama berupa dzikir secara jama’ah yang dilantunkan di sela-sela sholat tarawih dari para sahabat dan generasi selepas mereka, ini menunjukkan bahwa dzikir khusus itu sejatinya tidak ada, karena biasanya para ulama akan menukilkan perkara-perkara yang rinci/tersembunyi dari amaliyah yang dzahir (terang) seperti sholat tarawih ini, sebaik-baik petunjuk adalah mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk para sahabatnya dalam perkara ibadah, dengan mengerjakan apa yang mereka kerjakan, dan meninggalkan apa yang mereka tinggalkan.

Boleh Berdo’a, Membaca Al-Qur’an, Atau Dzikir Tanpa Pengkhususan

Namun, boleh sejatinya bagi orang yang sholat tarawih untuk berdo’a kepada Allah, membaca Al-Qur’an, atau membaca dzikir dengan syarat tanpa mengkhususkan ayat-ayat tertentu, surat tertentu di sela raka’at tarawih, dan tidak dilakukan dalam satu suara, atau juga tidak dengan dipimpin imam atau selainnya, karena hal tersebut tidak datang penjelasannya dalam syari’at, dan hukum asal dalam pelaksanaan ibadah adalah tauqifiyyah (berhenti pada dalil) dalam penentuan ukurannya, caranya, waktunya, tempatnya, sebabnya dan sifatnya.

Berkata Ibnu al-Haj al-Maliki (Syaikh Muhammad al-‘Abdary) dalam kitab al-Madkhol, pasal khusus tentang dzikir selepas salam pada sholat tarawih,

وينبغي له – أي : الإمام – أن يتجنب ما أحدثوه من الذكر بعد كل تسليمتين من صلاة التراويح ، ومن رفع أصواتهم بذلك ، والمشي على صوت واحد ؛ فإن ذلك كله من البدع ، وكذلك ينهى عن قول المؤذن بعد ذكرهم بعد التسلميتين من صلاة التراويح ” الصلاة يرحمكم الله ” ؛ فإنه محدث أيضاً ، والحدث في الدين ممنوع ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، ثم الخلفاء بعده ثم الصحابة رضوان الله عليهم أجمعين ولم يذكر عن أحد من السلف فعل ذلك فيسعنا ما وسعهم . ” المدخل ” ( 2 / 293 ، 294

“Selayaknya bagi imam untuk menjauhi apa yang dibuat-buat oleh orang berupa dzikir selepas salam dari sholat tarawih, juga dengan mengangkat suara mereka, melantunkannya dengan satu irama suara, keseluruhan itu semua bagian dari bidah dalam agama, sebagaimana juga dilarang bagi muadzin selepas dzikir tersebut selesai kemudian menyuarakan “as-sholaatu yarhamukumullah”, yang demikian juga terhitung kebid’ahan, sedangkan perbuatan bid’ah dalam agama adalah terlarang, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kemudian para khulafa selepas beliau, kemudian para sahabat -radhiyallahu anhum ajmain-, dan lagipula perbuatan tersebut tidak dinukilkan dari para kaum salaf, maka kita bersikap sebagaimana mereka bersikap” (al-Madkhol, 2/293-294).

Baca Juga :  Bagaimana Hukum Berdoa Pada Tahiyat Awal?

Jika Ada yang Mengatakan: ‘Kami Isi Bacaan Di Antara Sholat Tarawih Itu Salah Satunya Dengan Sholawat Kepada Nabi, Bukankah Itu Perkara yang Baik?

Iya, memang perkara itu adalah sesuatu yang baik, namun ketika dikhususkan di waktu tertentu, dimana tidak ada nash yang dinukilkan dari Nabi, juga dari para sahabat bahwa mereka melakukan hal itu, yang demikian bisa masuk ranah kebid’ahan dalam agama.

Ibnu Hajar al-Haitamy menjelaskan hukum membaca sholawat di sela-sela tarawih, berikut penjelasannya,

وسئل العلامة ابن حجر الهيتمي رحمه الله تعالى: هل تسن الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم بين تسليمات التراويح أو هي بدعة ينهى عنها؟ (فأجاب): بقوله: الصلاة في هذا المحل بخصوصه لم نر شيئاً في السنة ولا في كلام أصحابنا فهي بدعة ينهى عنها من يأتي بها بقصد كونها سنة في هذا المحل بخصوصه دون من يأتي بها لا بهذا القصد، كأن يقصد أنها في كل وقت سنة من حيث العموم بل جاء في أحاديث ما يؤيد الخصوص إلا أنه غير كاف في الدلالة لذلك

“Al-‘Allamah Ibnu Hajr Al-Haitami rahimahullah pernah ditanya: Apakah disunnahkan bersholawat di antara jeda salam shalat tarawih ataukah termasuk bid’ah yang dilarang?

Beliau menjawab: Bersholawat dengan mengkhususkan pada waktu tersebut, kami tidak berpendapat bahwa itu perkara sunnah, tidak pula menjadi pendapat para sahabat kami (ulama Syafiyyah). hal tersebut merupakan bid’ah yang terlarang bagi siapa saja yang membacanya dengan meyakini bahwa perbuatan itu termasuk sunnah dengan mengucapkan (shalawat) secara khusus pada waktu tersebut. Namun tidaklah bid’ah bagi orang yang mengucapkannya tidak dengan niat pengkhususan, sebagaimana (tidak bid’ah bagi) orang yang meyakini sunnahnya bershalawat di setiap waktu secara umum (tanpa mengkhususkan waktu tertentu, red). Bahkan terdapat beberapa hadis yang menekankan anjuran bershalawat pada waktu khusus tersebut, namun hal itu tidaklah cukup sebagai dalil untuk permasalahan tersebut” (al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro, 1/186) .

Jika memang membaca sholawat itu dengan niat tidak mengkhususkan, anda baca di waktu tersebut dan waktu selainnya, maka boleh-boleh saja.

Namun jika anda mengkhususkannya di waktu tersebut, tidak dibaca di tempat lain, yang demikian masuk ranah kebid’ahan. Dan apa yang banyak diamalkan di masyarakat, indikasinya mengarah pada pengkhususan, kenapa? tandanya mereka membacanya secara rutin, hanya di waktu itu saja, dan mengesankan kalau tidak membacanya di waktu tersebut maka terkesan tidak afdhol dan kadang menjadi keharusan, ini indikasi kuat bahwa hal tersebut dikhususkan.

Jika ada yang mengatakan: bacaan tersebut dibaca di sela-sela tarawih adalah dengan tujuan untuk memisahkan antara sholat satu dengan sholat yang lain, karena ada larangan janganlah menyambung sholat satu dengan yang lainnya kecuali dengan adanya pembicaraan atau keluar dari tempat sholat, sebagaimana dalam hadits,

عن معاوية رضي الله عنه: أنه صلى الله عليه وسلم أمر ألا توصل صلاة بصلاة حتى نتكلم أو نخرج

Dari Muawiyah radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar supaya solat satu dengan yang lainnya tidak disambung sampai kami berbicara atau kami keluar” (HR. Muslim).

Nah, dzikir tersebut posisinya sebagai pemisah solat sebagaimana pembicaraan, jadi diperbolehkan.

Sanggahan: Perintah Nabi dalam hadits tersebut untuk memisahkan sholat satu dengan yang lainnya dengan keluar, berpindah atau berbicara, secara fiqih hukumnya sunnah, tidak wajib.

Juga yang dimaksudkan dalam hadits adalah memisahkan antara sholat wajib dengan solat sunnah, bukan sholat sunnah satu dengan yang lainnya, dan tarawih pun tidak masuk pada pembahasan ini.

Disebutkan dalam fatwa islamweb.com,

وهذا الأمر الوارد في الحديث للاستحباب وليس للوجوب، فلو وصل المصلي صلاة بأخرى قبل أن يقوم من مقامه أو قبل أن يتكلم فصلاته الثانية صحيحة وليست باطلة، والوصل بين ركعات صلاة التراويح لا يدخل في هذه الأمر لأن المقصود به الفصل بين الفريضة وبين النافلة

“Perintah yang datang dalam hadist adalah untuk anjuran, bukan wajib, maka jika orang yang solat menyambung solatnya (selepas salam) langsung dengan solat lainnya sebelum bangun dari tempatnya (berpindah), atau sebelum ada pembicaraan, solatnya yang kedua sah dan tidak batal. Penyambungan antara rakaat-rakaat solat taraweh (2 rakaat salam trus disambung lagi) tidak masuk dalam perintah ini, karena yang dimaksudkan adalah pemisahan antara solat fardhu (wajib) dengan solat nafilah (sunnah)”  klik disini

Bacaan Apa yang Dibaca Selepas Tarawih?

Adapun bacaan yang dianjurkan selepas taraweh, ada beberapa riwayat yang disebutkan, bacaan ini dibaca selepas selesai solat witir, diantaranya bacaan:

عن عبد الرحمن بن أبزى رضي الله عنه ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ : ( سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكِ الْأَعْلَى ) ، و( قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ) ، و ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) ، فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ : سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ . ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَرْفَعُ بِالثَّالِثِ صَوْتَهُ .
رواه أبوداود الطيالسي في ” المسند ” (1/441) ، وابن الجعد في ” المسند ” (1/86) ، وابن أبي شيبة في ” المصنف ” (2/93)

Dari Abdurrahman ibnu Abza radhiyallahu ‘anhu, “bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membaca pada sholat witirnya dengan (sabbihis marobbikal a’la), dan (qul ya ayyuhal kafirun), dan (qul huwallahu ahad), jika beliau salam, beliau membaca: subhaanal malikil quddus tiga kali, mengangkat suara beliau di dzikir yang ketiga”. (HR. Abu Dawud al-Thayalisi dalam al-Musnad (1/441), Ibnu al-Ja’d dalam al-Musnad (1/86), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (2/93).

Imam Ibnu Qudamah mengatakan,

” يستحب أن يقول بعد وتره : سبحان الملك القدوس . ثلاثا ، ويمد صوته بها في الثالثة ” انتهى من ” المغني ” (2/ 122

“Dianjurkan untuk membaca selepas witir: Subhanal malikil quddus tiga kali, dan agak mengangkat suaranya di bacaan yang ke tiga”  (al-Mughny, 2/122).

Ada juga bacaan dzikir yang lainnya disebutkan dalam hadits berikut,

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu membaca di akhir witirnya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Allaahumma innii a’uudzu bi-ridlaaka min sakhathika, wa bi-mu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’uudzu bika min-ka laa uhshii tsanaa-an ‘alaika, anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dengan keridlaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri” (H.R An-Nasaa’iy no. 1747; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan An-Nasaa’iy 1/559, Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1419 H).

Perlu diperhatikan, bahwa bacaan doa-doa tersebut dilakukan sendiri-sendiri dan tidak secara berjamaah dalam satu suara, sebagaimana penjelasan Ibnu al-Hajj al-Maliki dalam kitab al-Madkhol sebelumnya.

Demikian, yang terbaik adalah ketika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan meneladani para sahabatnya, dan keburukan adalah ketika menyelisihi dan tidak meneladani mereka dalam agama, semoga Allah memberi taufiq pada semuanya.

Wallahu a’lam.

 

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Kamis, 17 Ramadhan 1442 H/ 29 April 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini

 

Baca Juga :  Ucapan Salam Yang Diikuti Doa Lain

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button