Durhaka Pada Orang Tua

Durhaka Pada Orang Tua

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, apakah termasuk durhaka kepada bapak saya, jika saya sering kecewa dan marah karena bapak saya :

1. Tidak memberikan pendidikan agama, dan memberi saya nama chris=anak kristus;
2. Sejak sekolah dasar saya tidak diperbolehkan mondok ;
3. Sering membawa teman dekatnya yang membawa khamr dan teman perempuannya kerumah;
4. Tidak bisa akrab dengan orangtua teman-teman saya;
5. Orangtua saya memprioritaskan keinginannya agar saya menikah dengan orang awam, masalah agama belakangan, yang penting mapan.

Bolehkah saya mengazamkan diri ga akan minta uang bapak saya speserpun ?…karena saat saya minta ke bapak beliau bilang akad nya utang, jadi kalau saya sudah punya uang saya harus bayar.

Saya juga tidak betah di rumah jika bapak saya ada di rumah.

Mohon nasihatnya ya ustadz…,
Jazaakallahu khairan…

Penanya : Sahabat BiAS

( Dari Fauziah, Admin T04)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Yang ana pahami dari pertanyaan, semuanya berawal dari ketidakcocokan dan ketidaksepahaman sudut pandang anak dan orangtua, khususnya bapak. Dan jika saya ringkas dengan bahasa saya, soalnya menjadi sebagai berikut:

1. Bolehkah seorang anak marah atau benci kepada bapak ?
2. Bolehkah seorang anak menjauhi bapaknya untuk menghindari pertengkaran, kegaduhan dan tekanan?
3. (Mungkin) Bolehkah seorang anak menyampaikan uneg-uneg hatinya kepada bapak atas kesalahan yang telah diperbuat?

Dan disini ana ingin menjelaskan secara terperinci dulu, agar sistematis sehingga semua bisa mengambil faedah dan kesimpulan.

Pertama;
JENIS – JENIS ‘uquuqul walidain
Antara lain:

1. Membuat kedua orangtua menangis, baik dengan perbuatan ataupun ucapan.

2. Berdusta, membantah, memotong pembicaraan, merendahkan, bermuka masam, atau memandang dengan pandangan marah.

3. Menghardik kedua orangtua dengan mengeluarkan kata “ah” atau apapun yg dapat melukai perasaan orangtua. Allah Ta’ala berfirman;

فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

“Maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” [QS Al-Isra : 23]

4. Mencaci, mencela, melaknat, membeberkan aib, atau memancing masalah dengan orangtua.

5. Berbuat kemungkaran di rumah orangtua dan melakukannya dihadapan mereka.

6. Membebani mereka dengan segunung permintaan.

7. Lebih mendahulukan istri dibanding orangtua bagi laki-laki.

8. Tidak merawat mereka di saat mereka membutuhkan (memasukkan orangtua ke panti jompo).

9. Malu bernasabkan orangtua, enggan menisbatkan diri pada orangtua.

10. Menasehati orangtua dengan cara yang tidak baik saat mereka jatuh dalam kemaksiatan.

11. Mengungkit-ungkit pemberian dan bantuan yang diberikan pada orangtua.

12. Mencuri harta orangua.

13. Mengharapkan kematian orangtua agar terbebas dari beban/tanggung jawab mengurus keduanya.

Kedua;
SEBAB-SEBAB ‘uquuqul walidain:

1. Ketidaktahuan akan adanya adzab bagi orang yang melakukan dosa ‘uquuqul walidain

2. Pendidikan yang buruk yang diberikan orangtua pada anak.

3. Ketidakcocokan antara ucapan dan perbuatan orangtua, sehingga anak memiliki potensi besar untuk mencontoh kesalahan orangtua, dari apa yang mereka lihat dan mereka dengar, karena tidak adanya contoh ideal dalam keluarganya.

4. Perlakuan buruk orangtua terhadap anak.

5. Kedurhakaan orangtua kepada orang tua mereka sendiri, sehingga dibalas dengan kedurhakaan anaknya sendiri kepadanya.

6. Adanya konflik dalam rumah tangga orangtua. Disadari atau tidak hal ini akan mendorong anak untuk mendurhakai keduanya.

7. Diskriminasi diantara anak, atau ketidak adlilan yang diterima anak yang pada akhirnya akan menumbuhkan kebencian kepada orangtua.

8. Mengutamakan kesenangan pribadi dibanding berbakti kepada orangtua.

9. Rendahnya motivasi orangtua dalam membimbing anak-anak untuk berbakti kepada orangtua, minimnya pendidikan atau penanaman adab akhlaq, sebab tidak adanya bimbingan, akan cenderung menyimpang dan meremehkan masalah birrul walidain.

10. Minimnya kepekaan anak terhadap masalah atau musibah yang menimpa orangtua.

Ketiga;
SOLUSI
Dari poin-poin di atas dapat kita ketahui bahwa uquuqul walidain adalah perbuatan yang sangat tercela. Perbuatan ini tidaklah ada melainkan dari pribadi yang buta akan sakralnya kedudukan orangtua.

Maka dari itu, solusi dari permasalahan ini tidak lain adalah *kembali kepada agama islam secara kaffah* :
– Kembali pada Syari’at Islam.
– Kembali pada Sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam.
-Dan hendaklah kita mencontoh akhlaq salafush sahlih, generasi terbaik umat ini.

Jadi, ana menjawab 3 simpulan pertanyaan diatas dengan;
1. Tidak boleh mutlak
2. Tidak boleh jika melukai perasaannya
3. Boleh dengan syarat menjunjung adab

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T04
Hari Senin, 21Jumadil Akhir 1438H / 20 Maret 2017M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS