Derajat Hadits Dalam Musnad Ahmad

Derajat Hadits Dalam Musnad Ahmad

Pertanyaan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, Benarkah dalam musnad Ahmad tercampur di dalam nya hadist doif dan palsu? Bagaimanakah cara kita membedakannya?

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Arief Firmansyah di Gresik Anggota Grup WA Bimbingan Islam N04-G73)

JAWAB:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terkait keberadaan hadits dhoif maka dapat dipastikan bahwa dalam musnad Imam Ahmad terdapat banyak hadits dhoif, karena penulisnya memang tidak berniat untuk hanya mengumpulkan hadits shahih saja. Dan karena madzhab penulisnya (Imam Ahmad) menganggap bahwa hadits dhaif masih lebih baik daripada ro’yu (pendapat manusia).

Adapun ada tidaknya hadits maudhu’ atau palsu dalam musnad Ahmad, maka diperselisihkan oleh para ulama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Terjadi perbedaan pendapat apakah dalam Musnad Imam Ahmad terdapat hadits maudhu’? Ada sebagian ulama seperti Al Hafizh Abul Ala’ Al Hamdani dll yang mengatakan: Tidak ada hadits maudhu’ (palsu) di dalamnya. Namun sebagian ulama lainnya seperti Abul Faraj Ibnul Jauzi mengatakan: Ada!”

Ibnu Taimiyyah lantas menengahi, “Bila diteliti lebih jauh, sebenarnya tidak ada perbedaan antara kedua pendapat tadi. Sebab istilah maudhu’ (palsu/dusta) terkadang digunakan untuk sesuatu yang direkayasa dan dibuat-buat, alias kebohongan yang disengaja oleh perawinya. Untuk hadits maudhu’ yang seperti ini tidak ditemukan dalam Musnad Imam Ahmad.

Namun istilah maudhu’ juga digunakan untuk berita yang dinafikan kebenarannya karena perawinya keliru dalam meriwayatkan, bukan karena ia sengaja untuk berdusta. Nah, hadits maudhu’ jenis kedua ini ditemukan dalam Musnad Imam Ahmad, bahkan dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan Nasa’i.”

Pendapat yang senada juga diungkapkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani, bahwa dalam Musnad Ahmad terdapat banyak hadits dha’if, dan ada sejumlah kecil hadits maudhu’. Statemen Ibnu Hajar ini diingkari oleh sebagian kalangan, akan tetapi beliau tetap mempertahankan pendapat tersebut dengan mengatakan: “Bagi mereka yang mengingkari pendapatku ini, hendaknya mengetahui bahwa dia mengingkari sesuatu yang wajib kukatakan karena dua alasan:

Pertama: Karena aku ditanya tentangnya,

Kedua: Karena para ulama mengatakan: “Tidak boleh meriwayatkan hadits maudhu’ (palsu) kecuali disertai penjelasan akan kepalsuannya”. Beliau lantas menyebutkan satu-persatu dari hadits-hadits yang dikritisi tersebut dalam kitab beliau ‘Al Qoulul Musaddad’.

Dalam kitab lainnya yang berjudul Ta’jiilul Manfa’ah, Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam Musnad Ahmad tidak ditemukan adanya hadits yang tidak memiliki asal-usul (palsu), kecuali tiga atau empat hadits saja. Udzur beliau (Imam Ahmad) dalam hal ini ialah bahwa beliau kemungkinan telah memerintahkan agar kesemua hadits tadi dicoret/dihapus dari kitab beliau, akan tetapi terlupakan. Atau telah dicoret, namun tetap disalin kembali.”

Demikian, wallaahu a’lam.

Referensi:

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=206347

Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS