FiqihKonsultasi

Dana Mepet, Haji Dulu atau Umroh?

Dana Mepet, Haji Dulu atau Umroh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Dana Mepet, Haji Dulu atau Umroh? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah. Izin bertanya Ustadz, Manakah yang ditunaikan terlebih dulu antara ibadah haji atau umroh bila bekal yang dimiliki hanya bisa untuk ibadah umroh dan belum mendaftar untuk ibadah haji karena bekal belum cukup? Jazakallahu khoiron Barokallahu fiikum

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah

Pilihan antara umroh dan haji, dengan berbagai problematika dari pendaftaran dan antrian haji yang sangat panjang dikembalikan kepada pendapat yang kita ikuti dari para ulama terkait dengan hukum umroh itu sendiri.

Bila berpandapat bahwa umroh hukumnya wajib, maka dalam pelaksanaan wajib hendaknya mendahulukan kewajiban yang terdekat dan termudah, sehingga pilihan jatuh kepada pelaksanaan umroh terlebih dahulu. Dengan pertimbangan kewajiban yang terdekat dan harapan Allah memberikan rezki setelah pelaksanaan umroh yang dilakukan.

Namun, bila mengatakan bahwa umroh adalah sunnah dan bukan wajib, maka hendaknya ia mendaftar haji terlebih dahulu untuk menggugurkan kewajiban haji dengan cara niat dan mendaftar, karena kewajiban harus didahulukan dibandingkan sunnah. Walaupun nanti antrian panjang atau ada halangan di tengah jalan sehingga tidak bisa melaksanakan haji, tidak menjadi masalah. Yang terpenting niat dan usaha telah dijalankan.

Sehingga pilihan ada di kita, apakah mengatakan umroh adalah ibadah wajib atau sunnah bagi yang mampu.

Pendapat yang menurut kami lebih kuat adalah dengan mendahulukan umroh terlebih dahulu karena beberapa alasan:

1. Bahwa umroh adalah haji kecil dan hukumnya wajib bagi yang mampu.

Sebagaimana pendapat dari ulama Syafi’iyah dan Hambali yang berpendapat bahwa ‘umroh itu wajib sekali seumur hidup dengan alasan firman Allah Ta’ala,

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah: 196). Maksud ayat ini adalah sempurnakanlah kedua ibadah tersebut. Dalil ini menggunakan kata perintah, hal itu menunjukkan akan wajibnya haji dan umroh.

Juga sebagaimana yang di dapatkan dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

وبحديث عائشة رضي الله تعالى عنها قالت : « قلت : يا رسول اللّه هل على النّساء جهاد ؟ قال : نعم ، عليهنّ جهاد لا قتال فيه : الحجّ والعمرة » .

Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani).

2. Berharap ketika menjalankan umroh Allah memberikan rezki dan kesempatan untuk segera bisa mendaftarkan dan melaksanakan haji, sebagaimana yang Rasulullah sebutkan:

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

3. Alasan yang lain, karena umroh lebih mudah untuk di jalankan, terlebih bagi orang yang sudah lemah, sehingga kemudahan di antara dua perkara yang di perintahkan di dalam agama untuk lebih di kedepankan. Sebagaimana firman Allah Jalla Jalaluhu sesudah ayat itu.

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”

Juga hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”.

Ketika dihadapkan pada pilihan Rasulullah selalu memilih yang lebih mudah.

Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam disuruh memilih di antara dua perkara, niscaya beliau lebih memilih yang lebih mudah di antara keduanya, selama itu tidak dosa. Adapun jika itu adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh dari dosa’.” (Muttafaq Alaih)

4. Di samping pendapat ini juga lebih dapat menenangkan hati, karena seseorang bisa segera dapat mengobati kerinduan yang sangat untuk mengunjungi baitullah haram yang telah lama terpendam. Dengan bisa segera menjalani umroh dan beribadah di Masjidil Haram berharap akan banyak meningkatkan diri seseorang dalam beribadah kepada Rabb nya.

Namun, bila dimungkinkan bisa menjalankan keduanya, di mana ada harapan besar bila uang yang dimiliki dipergunakan terlebih dahulu untuk mendaftar haji dan mendapatkan kursi/porsi haji, yang insyaallah dalam waktu yang tidak terlalu lama bisa mendapatkan biaya untuk menjalankan umroh sebelum waktu pelaksanaan haji maka dalam posisi seperti ini hendaknya mendahulukan mendaftar haji, supaya dapat menggabungkan di antara haji dan umroh, supaya tidak terlalu lama dalam masa penantian/antrian yang panjang atau minimalnya dapat menggugurkan kewajiban haji karena telah niat dan usaha mendaftar.

Maka dari beberapa keadaan di atas, silakan kita memosisikan diri dari keadaan yang terbaik buat kita dalam menjalankan ibadah dan mengabdi kepadaNya. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk bisa menjalankan keduanya dari ibadah haji dan umroh. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 14 Shafar 1443 H/ 22 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Nasehat untuk Istri yang Punya Suami Suka Sesama Jenis, Namun Ingin Berhenti

USTADZ MU’TASIM, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button