FiqihKonsultasi

Cara Wudhu Bagi Orang Selesai Operasi Mata

Cara Wudhu Bagi Orang Selesai Operasi Mata

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan “Cara Wudhu Bagi Orang Selesai Operasi Mata”, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillaah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh ustadz. Semoga ustadz beserta keluarga dan juga kaum muslimin semua senantiasa dalam rahmat dan penjagaan Allah Ta’ala. Aamiin. Afwan ustadz, izin bertanya. Insya Allah biidznillah saya hendak melakukan operasi mata, dan saya diinformasikan bahwa setelah operasi tidak diperbolehkan untuk mencuci muka selama sekitar 1 minggu. Pertanyaan saya, bagaimana cara saya berwudhu ya ustadz, mengingatkan mencuci muka termasuk salah satu rukun wudhu? Terima kasih ustadz

جزاك الله خيرا

(Dari Member Sahabat BiAS)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Jika memang dokter telah menetapkan bahwa penanya tidak boleh membasuh muka dengan air, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Meletakkan perban di bagian mata yang dioperasi hingga menutupinya.

Setelah itu berwudhu sebagaimana biasa, hanya saja bagian mata tidak usah dibasuh namun cukup diusap di atas perban yang menutupi mata tersebut. Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz menyatakan :

إذا أصاب العبد جرح في بعض أعضاء الوضوء فإنه بين أمرين إما أن يمر عليه بالماء إذا كان لا يضره وإما أن يعصب عليه شيئاً، عصابة من جبيرة ثم يمسح عليها، أما أنه يترك ذلك لا يمر الماء ولا يضع جبيرة فلا يجوز، والواجب عليك إذا حصل هذا أن تعصب عليه جبيرة ثم تمسح عليها والحمد لله، إذا كان ماء الوضوء يضر، والغالب أنه لا يضر الجرح هو معلوم، لكن تعصب عليه جبيرة، خرقة تجعله عليه، ثم تمسح عليها مسحاً عند غسل العضو، سواءً القدم، أو الذراع، أو الوجه، ويكفي ذلك والحمد لله، والصلاة التي صليتها وأنت لم تفعل هذا تعيدها.

“Jika seorang hamba mendapatkan luka pada salah satu anggota badan yang harus dibasuh saat wudhu, maka ia bisa melakukan satu dari dua hal:

Pertama ia bisa mengusapkan air ke atas luka tersebut, jika air tidak menimbulkan madharat/ bahaya.

Kedua ia memasang perban di atas lukanya, kemudian ia mengusap di atas perban tersebut.

Adapun jika ia meninggalkan kedua hal ini tidak mengalirkan air, atau tidak mengusap di atas perban maka ini tidak boleh. Yang wajib untuk engkau lakukan adalah engkau memasang perban lalu mengusap di atas perban tersebut, alhamdulillah. Ini dilakukan jika air wudhu bisa membahayakan luka.”

(Fatawa Syeikh Bin Baz no. 29214).

2. Jika memungkinkan di usap dengan tayammum maka dilakukan tayammum dengan tata cara yang sudah maklum diketahui yaitu dengan mengusap kedua telapak tangan dan wajah.

3. Adapun jika memasang perban dan mengusap di atas perban juga tidak memungkinkan. Tayammum juga tidak memungkinkan, maka penanya cukup berwudhu seperti biasa dan tidak usah membasuh wajah, tidak usah pula mengusap di atas perban dan wudhunya tetap sah. Disebutkan dalam salah satu redaksi fatwa:

فإن كان الجرح المذكور لا يمكن غسله, ولا تغطيته, ولا مسحه أثناء التيمم, فإن هذا الشخص يتوضأ فيغسل بقية أعضاء الوضوء الصحيحة, ويترك موضع الجرح بلا غسل ولا مسح.

يقول الخرشي في شرحه على مختصر خليل المالكي: يعني أن الجراح إذا لم يستطع أن يمسها بوجه، وهي بأعضاء تيممه؛ كالوجه واليدين، فإنه يتركها بلا غسلِ ولا مسح، كعضو قطع، وغسَل ما سواها؛ لأنه لو تيمم تركها أيضا، ولا شك أن الوضوء الناقص أولى من التيمم الناقص. انتهى.

“Apabila luka tersebut tidak memungkinkan untuk dibasuh air, tidak mungkin pula untuk diperban dan diusap di atasnya, tidak mungkin pula diusap dengan cara tayammum,

Maka orang ini berwudhu dan membasuh air angota badan yang sehat dan meninggalkan lokasi yang luka dengan tanpa dibasuh, dan tanpa diusap sama sekali.

Al-Khirasyi berkata di dalam kitab Mukhtashar Khalil: ‘Seorang yang terluka dan tidak mampu mengusap wajahnya sedangkan lokasi luka berada di anggota tubuh yang wajib ditayamumi seperti wajah dan dua tangan. Maka ia meninggalkan lokasi luka tersebut dengan tanpa dibasuh dan tanpa diusap (dianggap) seperti layaknya anggota tubuh yang terpotong.

Dan ia membasuh anggota tubuh yang lainnya, karena seandainya ia bertayammum ia juga tetap tidak bisa mengusap wajahnya juga. Dan tidak diragukan bahwa wudhu yang minus itu lebih utama dibandingkan tayammum yang minus.”

(Fatawa Islam web no. 378481).

Maka urutan solusi cara wudhu untuk orang yang selesai operasi mata, yang bisa kita ambil dari fatwa di atas adalah:

Jika memungkinkan dipasang perban, maka berwudhu seperti biasa menggunakan air dan mengusap perban yang menutupi mata.

Kedua jika memungkinkan mengusap wajah maka bertayammum.

Ketiga jika tidak memungkinkan mengusap wajah, maka berwudhu biasa namun meninggalkan bagian wajah tanpa dibasuh maupun diusap, wallahu a’lam

Dijawab oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. حفظه الله
Selasa, 6 Shafar 1443 H/ 14 September 2021 M


 Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

 

Baca Juga :  Adab Dalam Berkomunikasi di Media Sosial

USTADZ ABUL ASWAD AL BAYATI, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button